Food For Thought: “Ibu, Engkau Menderita”

Seorang Ibu yang menderita

P. John SDBSiang ini saya membereskan beberapa buku bacaan di rak buku perpustakaan komunitas. Saya menemukan sebuah tulisan tangan sahabat saya semasa kuliah teologi di Yerusalem dalam sebuah kartu ucapan tertanggal 15 September 1997. Tulisan tersebut berasal dari himne kepada Bunda Maria pada hari Jumat Agung, bunyinya: “Iuxta crucem tecum stare, ac me tibi sociare, in planctu desidero. Fac ut portem Christi mortem, passionis fac me sortem et plagas recolere” (Aku hendak berdiri denganMu di samping salib dan ingin bersamamu dalam duka citamu. Jadikanlah aku pembawa kematian Kristus. Semoga aku mampu mewartakan penderitaanNya dan semoga aku juga bisa mengalami luka-lukanya).

Kalimat-kalimat ini mengingatkan saya pada Bunda Maria yang berdukacita. Dialah ibu yang menemani Yesus Puteranya ke Kalvari, sedangkann para muridNya bersembunyi karena takut. Maria seorang ibu yang tegar meski pun mengalami banyak penderitaan. Ia sudah berjanji untuk mengikuti setiap perkataan Tuhan, dan tidak pernah bermaksud mengingkarinya.

Gerald G. May dalam bukunya “Will and Spirit: A Contemplative Psychology” menulis beberapa kata kunci yang baginya cocok dengan kepribadian Bunda Maria. Ia menyingkatnya SPES yakni Struggle, Presence, Expansion dan Surrender. Struggle, jawaban Maria kepada penderitaan adalah ia harus berjuang. Dalam Magnificat, Bunda Maria mengungkapkan penderitaan, perjuangan, harapan dan keberaniannya. Presence adalah kehadiran aktif Bunda Maria bersama Yesus Puteranya. Mereka berdua saling berbagi dalam derita. Expansion merupakan jawaban Bunda Maria kepada Allah untuk menderita bersama Kristus Puteranya. Hal ini merupakan perluasan kesadaraan dan keyakinan persembahan dirinya kepada Tuhan. Surrender adalah sikap pasrah Bunda Maria kepada Tuhan dan ungkapan cinta tak bersyarat kepada Tuhan.

Apakah SPES juga berlaku bagimu?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply