Uomo di Dio: Masih ada Harapan!

Memulai lembaran baru dengan harapan

P. John SDBBeberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sebuah kisah inspiratif tentang empat buah lilin. Konon pada suatu malam, bertempat di sebuah kamar milik seorang anak, terjadilah percakapan antara tiga buah lilin. Lilin pertama bernama damai. Dia merasa kecewa karena manusia memang memperjuangkannya dan selalu ingin merasakannya tetapi kenyataannya manusia juga selalu gagal. Rupa-rupanya manusia tidak membutuhkannya maka ia merasa lebih baik memadamkan dirinya. Perlahan-lahan cahayanya meredup dan padamlah lilin damai. Lilin kedua bernama iman. Ia juga merasa kecewa dengan manusia yang mengaku beragama tetapi tidak beriman. Rupa-rupanya manusia tidak membutuhkan iman sehingga ia pun perlahan-lahan padam. Lilin ketiga bernama kasih. Ia juga merasa bahwa semakin hari manusia semakin berkurang dalam kasih. Justru kebencian, dendam, amarah dan irih hati lebih menguasai manusia dari pada kasih. Dengan sedih ia juga memadamkan dirinya.

Setelah ketiga lilin ini padam, masuklah anak yang phobia tempat gelap ke kamarnya. Ia berteriak histeris memanggil nama ketiga lilin yakni damai, iman dan kasih. Mereka tidak menyahut maka ia bertamba sedih dan takut. Tiba-tiba kedengaranlah suara yang berkata: “Anak, mengapa engkau menangis? Aku masih ada di sini.” Anak itu bertanya: “Siapakah engkau?” Ia menjawab: “Akulah lilin yang bernama Harapan. Aku tetap berada di sini, menunggumu dan berani mengatakan kepadamu: ‘Jangan takut, masih ada aku!’” Anak itu tersenyum, ia menyalakan lilin harapan dan dengan lilin yang sama ia menyalakan kembali lilin damai, iman dan kasih. Ruangan kamarnya kembali terang, ia merasakan damai, penuh iman dan kasih serta memiliki harapan yang besar. Hidup ini menjadi indah karena masih ada harapan!

Kisah sederhana ini sengaja saya tampilkan di awal permenungan kita di awal tahun 2015 ini. Para Pria Katolik pasti sudah bersyukur kepada Tuhan karena semua anugerah istiemewa, suka dan duka, kecemasan dan pergumulan hidup yang sempat dialami selamat tahun 2014 yang lalu. Saya yakin bahwa banyak di antara kita yang lilin damai atau iman atau kasih sempat padam dan nyaris tidak mau menyala lagi. Tetapi kita semua dikuatkan oleh lilin harapan yang mengajak kita untuk melihat tahun 2015 ini, dengan segala peluang yang ada di depan kita. Kita harus tetap memiliki optimisme sebagai pengikut Yesus Kristus. Masalahnya adalah apakah kita masih memiliki harapan atau secara total kehilangan harapan?

Saya tertarik dengan sebuah kisah Injil yang menumbuhkan harapan kita sebagai Pria Katolik. Penginjil Markus (Mrk 6:45-52) mengisahkan bahwa ketika Yesus selesai membuat mukjizat menggandakan lima potong roti dan dua ekor ikan, Ia menyuruh para muridNya melakukan perjalanan ke seberang Danau yakni ke Betsaida. Jarak tempuh dari Tabgha, tempat mukjizat terjadi hanya 4 mile atau sekitar 7.5 km. Ketika berada di tengah danau, perahu yang mereka dayung itu mengalami angin sakal yang besar sehingga mereka berjuang semalam-malaman untuk menempuh jarak 4 mile. Namun sayang sekali mereka tidak berhasil melawan arus dan gelombang di danau.

Apa yang Yesus lakukan ketika melihat perjuangan para muridNya? Ia sempat melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal (Mrk 6:48). Meskipun Ia sedang berdoa namun Ia berani meninggalkan BapaNya, berjalan kaki di atas air cukup jauh di malam yang gelap, Ia masuk ke dalam perahu dan berkata: “Tenanglah!, Aku ini, jangan takut!” (Mrk 6:50). Pada saat itu angin sakal berhenti, mereka merasa tenang dan bersama Yesus menuju ke tempat tujuan.

Sekarang bayangkanlah bahwa kita semua sedang berada dalam satu bahtera yang sama dan melakukan perjalanan hidup sepanjang tahun 2015. Danau adalah hidup kita setiap hari dengan seribu satu pengalaman. Perahu adalah Gereja tempat kita bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus. Angin, arus dan gelombang air danau adalah pergumulan-pergumulan yang akan kita rasakan dan lalui bersama ke depan sepanjang tahun ini.

Apa yang akan terjadi dengan hidup kita sepanjang tahun ini?

Pertama, Tuhan Yesus membiarkan kita berlayar ke seberang… Ia percaya bahwa kita pasti melakukannya asal saja kita selalu mengandalkanNya bukan mengandalkan diri kita. Sine me nihil potestis facere (Yoh 15:5). Maka kita sebagai Pria Katolik harus berjalan bersama dalam hidup kita yang nyata. Sambil berjalan bersama ini kita mau berjuang untuk hidup damai, beriman, bertumbuh dalam kasih dan memiliki harapan.

Kedua, Ketika Tuhan melihat bahwa kita payah menghadapi angin sakal kehidupan maka Ia sendiri pasti meninggalkan BapaNya untuk datang menenangkan kita. Ia melihat kehidupan dan perjuangan kita maka Ia mau mengingatkan kita: “Tenanglah! Aku ini, Jangan takut!”

Ketiga, Hidup kita bernilai kalau memiliki harapan. Banyak kali kita mudah putus asa karena pengalaman masa lalu, kegagalan dan pergumulan sebelumnya. Kita lupa bahwa Tuhan selalu memberi peluang baru untuk hidup kita yang lebih baik. Tuhan Yesus saja pernah wafat dan bangkit dengan mulia. Kita memang pernah gagal tetapi janganlah tinggal dalam kegagalan. Milikilah optimisme kristiani dalam memulia lembaran baru ini.

Keempat, Yesus melihat pergumulan kita dan Ia menolong kita. Mari kita berusaha untuk selalu siap menolong sesama kita yang menghadapi serta mengalami angin sakal kehidupan. Orang yang hidup dalam harapan, tidak akan menutup matanya terhadap saudara-saudara yang membutuhkannya.

Saya teringat pada seorang Guru Zen asal Vietnam yang saya kagumi. Namanya Thich Nhat Hanh. Dalam bukunya “Teachings on Love”, beliau menulis: “Memulai lembaran baru bukanlah untuk meminta maaf. Memulai lembaran baru adalah untuk mengubah pikiran dan hati anda, untuk mentransformasi kebodohan yang membuat anda melakukan perbuatan yang salah oleh tubuh, ucapan dan pikiran. Ini juga membantu anda untuk menumbuhkembangkan pikiran cinta anda. Perasaan malu dan berasalah anda akan lenyap dan akan mulai merasakan sukacita dan menjadi hidup. Semua perbuatan salah timbul dari pikiran. Lewat pikiran juga semua perbuatan salah dapat lenyap.”

Rekan-rekan Pria Katolik, mulailah tahun 2015 ini dengan optimisme Kristiani. Masih ada hari depan. Jangan putus asa. Masih ada harapan! Hidup itu indah karena kita berjuang bersama Tuhan.

Doa: Tuhan, kami bersyukur untuk semua anugerah yang kami terima dari kemurahanMu sepanjang tahun 2014. Sekarang kami memasuki tahun 2015. Mohon berkatMu ya Tuhan untuk semua karya, pelayanan, keluarga dan gereja kami. Biarlah kami tetap bersatu dengan Dikau. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply