Homili 15 Juni 2015

Hari Senin, Pekan Biasa XI
2Kor 6:1-10
Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4
Mat 5:38-42

Membangun Peradaban Kasih!

Fr. JohnNelson Mandela. Dia adalah seorang negarawan dari Afrika Selatan. Hidupnya penuh dengan perjuangan yang begitu indah. Ketika orang Belanda menjajah Afrika Selatan mereka melakukan politik apartheid yang mana orang-orang berkulit putih meremehkan bahkan menindas orang-orang Afrika Selatan yang berkulit hitam. Dampaknya adalah orang-orang kulit hitam menjadi warga negara kelas dua. Situasi ini tentu tidak disetujui oleh Nelson Mandela yang juga berkulit hitam. Ia memberontak melawan orang-orang berkulit putih sehingga ia harus dipenjara pada tahun 1963. Selama di penjara, Nelson Mandela berpikir bahwa perlawanan yang paling bagus bukan dengan cara frontal karena cara ini hanya akan mendatangkan kebencian di antara manusia. Lebih bagus perlawanan dan kebencian diganti dengan cinta kasih. Pada tanggal 11 Pebruari 1990 Nelson Mandela di lepaskan.

Apa yang dilakukan Nelson Mandela setelah menghirup udara bebas di luar penjara? Ia tidak membalas kejahatan para penjajah secara frontal tetapi ia membangun sebuah peradaban kasih. Ia pernah menjadi presiden Afrika Selatan sebelum diganti oleh Thabo Mbeki tahun 1999. Dalam masa kepemimpinannya itu ia tidak meminta orang berkulit hitam untuk membalas dendam serta mengusir orang-orang kulit putih, tetapi ia lebih mengingatkan mereka untuk hidup berdampingan sebagai saudara. Ia sendiri menunjukkan teladan yang bagus. Selama di penjara, ia banyak dihina dan disiksa oleh para sipir penjara. Ketika menjadi presiden ia mengunjungi penjara tersebut dan bertemu dengan para sipir. Sambil tertawa ia mengatakan kepada para sipir,“Kalian semua pernah menganiaya aku selama di penjara ini”. Mandela memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang pernah menjadi sasaran pukulan dan penganiayaan para sipir. Tentu semuanya takut kepadsanya tetapi Mandela mengatakan, “Kalian jangan takut, aku sudah berusaha melupakan kekejaman kalian. Aku memaafkan kejahatan kalian padaku”. Ini adalah sebuah kisah inspiratif dari Mandela bagi kita semua.

Dari Bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk hidup sebagai pengikutNya yang terbaik dengan menunjukkan sikap saling memaafkan dan tidak ada niat untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakiti diri kita. Kalau hukum Lama sebagaimana disebutkan dalam Kitab Imamat: “Patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Im 24:20), Yesus sebalikna mengajar para muridNya:“Jangan kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”. Contoh perbuatan jahat dari orang terhadap diri kita adalah: Kalau ada orang menganiaya dengan menampar janganlah dibalas tetapi biarkanlah orang itu melakukannya. Kalau ada yang menginginkan barang-barang kepunyaanmu, berikanlah. Kalau di paksa mengerjakan sesuatu, lakukanlah lebih dari itu. Segala sesuatu yang orang minta atau pinjam dari mu, berikanlah.

Yesus tentu tidak menghendaki para pengikutNya hidup jauh dari semua yang disabdakan, diteladani dan diajarkanNya. Sikap saling memaafkan jauh lebih penting untuk mengatasi segala kebencian. Cinta kasih dapat mengatasi segala kebencian. Perbuatan baik dapat menghapus segala kejahatan. Yesus sendiri menunjukkan teladan pengampunan: “Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Luk 23:34). Kemampuan untuk mengampuni selalu ditemani oleh kebenaran. Kemampuan kita mengampuni bukan karena ada rasa malu atau merasa tidak berdaya tetapi karena Kebenaran yang memerdekakan kita untuk melakukannya.

Paulus dalam bacaan pertama mengatakan bahwa waktu ini adalah waktu yang tepat, waktu perkenanan di mana orang berusaha membangun sikap tobat di dalam hidupnya. Tuhan sendiri bersabda: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan dikau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau”. Untuk itu kita hendaknya menyiapkan diri untuk menyambut hari Tuhan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Waktu perkenanan diisi dengan saling memaafkan dan mengasihi sebagai saudara.

Memang waktu menanti kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk kedua kalinya tidak diketahui, hanya Bapa yang tahu (Mat 24:36; Mrk 13:32). Para murid Kristus diajak untuk menjadikan saat penantian dengan bertobat, hidup kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan, mengadakan evangelisasi kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus dan yang sudah mengenal Kristus tetapi sudah jauh dari tradisi Gereja. Tentu saja semua hal ini tidaklah mudah karena banyak penganiayaan akan dialami oleh para pengikut Kristus. Namun semua ini memiliki nilai positif yakni kesempatan untuk bertumbuh dengan, dalam dan untuk Kristus. Ada kesempatan untuk membangun peradaban kasih di antara pribadi dengan pribadi.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk membangun peradaban kasih (civilization of love). Peradaban kasih itu dibangun dalam suasana saling memaafkan, tidak mengingat masa lalu seseorang, tidak ada nafsu untuk membalas dendam kepada orang-orang yang menyakiti diri kita. Apakah untungnya anda membalas dendam, tidak mau mengampuni sesama, membenci sesama? Rasanya tidak ada keuntungan apa pun dari semua ini. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, balaslah dengan kebaikan! Peradaban kasih jauh lebih luhur dan membuat semua orang merasa sebagai saudara! Apakah anda mau ikut membangun dunia ini dengan sebuah peradaban kasih yang baru dalam Kristus?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply