Homili Hari Minggu Biasa XV/B – 2015

Hari Minggu Biasa XV/B
Amos 7:12-15
Mzm 85:9ab+10.11-12.13-14
Ef 1:3-14
Mrk 6:7-13

Ikut Melakukan Pekerjaan Tuhan

Fr. JohnPada suatu hari seorang ketua lingkungan mendatangiku. Ia meminta waktu untuk berbicara tentang keadaan di lingkungannya. Ia memikirkan untuk mundur dari tugasnya karena merasa kesulitan berhadapan dengan umat lingkungannya. Setelah mengungkapkan hal-hal prinsipil tentang masalah yang dihadapinya saya mengatakan kepadanya untuk coba memandang gambar Yesus tersalib di dinding kantorku. Saya bertanya kepadanya, apa yang muncul di dalam pikirannya saat itu. Ia mengatakan bahwa sambil memandang gambar itu, Ia merasa bahwa cinta kasih Yesus menjadi sempurna karena pengurbanan-Nya. Saya mengatakan kepadanya bahwa jawaban-Nya itu tepat karena Tuhan Yesus sendiri datang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa di Surga bukan pekerjaan-pekerjaan-Nya sendiri. Maka ia sebagai pengikut Kristus haruslah berkomitmen untuk melakukan  tugas pelayanannya dengan baik. Ia mengatakan bahwa dengan bantuan Tuhan, akan mencoba untuk setia dalam melayani.

Penginjil Yohanes memberi banyak kesaksian tentang bagaimana Yesus sang Putra melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa. Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh 4:34) dan pada malam perjamuan terakhir ia berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yoh 17:4). Perkataan Yesus ini mendukung tugas dan perutusan kita sebagai murid-murid-Nya di dalam Gereja saat ini. Apakah kita juga sadar bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini demi kemuliaan nama Tuhan? Apabila semuanya ini demi kemuliaan nama Tuhan maka jangan pernah merasa putus asa dan mundur dari tugas pelayanan kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengarahkan kita untuk menjadi utusan Tuhan yang kudus sesuai dengan rencana-Nya. Nabi Amos adalah seorang nabi yang dikenal di dalam Kitab Perjanjian Lama sebagai pribadi yang tegas, memberi banyak kritik sosial terhadap para pemimpin sosial, politik dan rohani. Hidup mereka tidak mencerminkan segala sesuatu yang mereka ajarkan dan lakukan. Itulah sebabnya nabi Amos memberikan kritik sosial untuk mengoreksi umat Israel di Kerajaan Samaria. Namun ia sendiri harus melawan arus. Perikop kita mengisahkan bagaimana Amazia, imam di Betel mengusir Amos ke tanah Yudea supaya bisa bernubuat di sana. Apa reaksi Amos terhadap tindakan Amazia ini? Amos mengakui dirinya bukanlah sebagai seorang nabi, tidak termasuk golongan para nabi. Dia mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang peternak dan pencari buah ara hutan namun Tuhan. Tuhanlah yang mengambil Amos dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan mengutusnya untuk menjadi gembala domba dengan bernubuat bagi umat Israel.

Pengalaman Amos adalah pengalaman banyak orang di dalam dunia dan Gereja. Ketika orang melayani Tuhan di dalam Gereja, ada saja pikiran negatif orang lain terhadap dirinya. Mungkin saja orang itu dianggap frontal dan keras sehingga lebih baik disingkirkan saja dari pelayanannya. Hari ini Amos membantu kita untuk sadar diri bahwa kita masih memiliki hati nurani yang jernih dan tidak takut untuk melayani Tuhan. Kita adalah utusan Tuhan saat ini untuk ikut berkarya dalam menguduskan Gereja.

St. Paulus menulis kidung Kristologi dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Pada bagian awal suratnya ini, Paulus mengungkapkan rasa syukur dan pujian kepada Allah dan Bapa Tuhan Yesus Kristus sebab Ia telah memberi berkat-berkat rohani di Surga. Inilah beberapa alasan mengapa Paulus bersyukur kepada Bapa di Surga dalam Yesus Kristus. Pertama, Paulus mengakui bahwa hanya di dalam Yesus Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita menjadi kudus dan tak bercela dihadapan-Nya. Kedua, karena kasih Allah di dalam Yesus Kristus maka kita juga bisa menjadi anak-anak Allah. Ketiga, Yesus menebus kita dengan Darah-Nya yang mulia dan dengan demikian kita beroleh pengampunan. Keempat, Allah menyatakan rahasia-Nya di dalam diri Yesus Kristus. Kelima, Yesus Kristus adalah pemersatu segala sesuatu.

Perkataan Paulus ini menguatkan kita untuk menyadari bahwa arah kiblat hidup kita sudah jelas dari awal yaitu menjadi kudus. Kekudusan adalah rencana dan anugerah Tuhan bagi kita. Kekudusan dimulai sejak kita memperoleh sakramen pembaptisan. Apakah kita sudah mensyukuri sakramen Pembaptisan? Apakah kita sadar diri bahwa arah hidup kita adalah mencapai kekudusan?

Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil mengutus keduabelas murid-Nya. Ia mengutus mereka untuk pergi berdua-dua. Ia menganugerahkan mereka kuasa dan otoritas-Nya untuk menyeruhkan pertobatan, menguasai roh-roh jahat, mengusir setan-setan, mengoles minyak bagi orang sakit dan menyembuhkan mereka. Para murid sebagai misionaris dianjurkan untuk memiliki sikap lepas bebas: tidak membawa apa-apa dalam perjalanan seperti roti, bahan makanan dan minuman, uang dan dua helai baju. Mereka hanya diperbolehkan membawa tongkat dan alas kaki. Sikap lepas bebas atau ketidakterikatan ini membantu para murid-Nya untuk lebih bebas menghadirkan Injil dan Kerajaan Allah dengan tidak terikat pada materi duniawi. Yesus sendiri mengatakan bahwa seorang pekerja patut mendapat upahnya. Tongkat dan alas kaki merupakan lambang kehadiran Kristus. Dia adalah Anak Manusia yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala.

Tuhan Yesus memberikan kuasa dan otoritas penuh kepada para murid-Nya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Artinya, kita tidak hanya bisa menjadi orang kristiani saja atau menjadi pengikut Kristus itu belum cukup. Kita harus siap untuk melakukan pekerjaa-pekerjaan yang sudah pernah dilakukan Yesus seperti mengusir setan-setan dan roh jahat, menyembuhkan orang-orang sakit. Inilah pekerjaan Yesus yang harus kita lakukan di dunia saat ini. Banyak kali orang hanya berbangga sebagai orang yang dibaptis. Seharusnya orang berbangga karena melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus Kristus. Dengan tahan banting seperti Amos dan setia seperti para murid Yesus maka kita juga akan mencapai kekudusan.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply