Homili 8 Oktober 2015

Hari Kamis, Pekan Biasa XXVII
Mal 3:13-4: 2a
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 11:5-13

Doa mengubah segala sesuatu

imagePada pagi hari ini saya mendapat kiriman lagu dalam format MP3 dari salah seorang sahabat. Ketika mendengar intro musiknya, saya langsung mengingat judul lagunya: “Doa mengubah segala sesuatu” yang dipopulerkan oleh Vannia Larisa, tahun yang lalu. Inilah salah satu bagian dari lirik lagu itu: “Saat keadaan sek’lilingku, ada di luar kemampuanku. Kuberdiam diri mencari Mu, doa mengubah segala sesuatu…” Lirik lagunya yang lengkap memang sederhana namun inspiratif bagi banyak orang yang selalu mengarahkan hati dan pikirannya kepada Tuhan dalam doanya. Saya sendiri yakin bahwa doa orang benar bisa mengubah segala sesuatu.

Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil dikenal sebagai seorang pendoa. Ia menggunakan waktu-waktu istimewa untuk berdoa. Misalnya Ia berdoa seorang diri semalam-malaman sebelum memanggil para murid dan menentukan mereka sebagai rasul atau utusan-Nya. Penginjil Lukas melaporkan bahwa pada suatu ketika Yesus berdoa seorang diri di suatu tempat. Para murid melihat Yesus berdoa maka mereka juga meminta-Nya untuk mengajari mereka berdoa. Mereka memiliki alasan yang tepat bahwa setiap guru pasti mewariskan sesuatu seperti doa kepada para murid-Nya. Itulah sebabnya seorang murid tanpa nama meminta Yesus untuk mengajar mereka berdoa seperti Yohanes Pembaptis mengajar doa kepada para muridnya. Yesus mendengar perkataan salah seorang murid-Nya itu sehingga Ia pun mengajar mereka doa Bapa Kami.

Tuhan Yesus tidak hanya berhenti pada tahap mengajar doa Bapa Kami lalu selesai. Ia juga menjelaskan lebih dalam makna doa kepada para murid-Nya sehingga doa Bapa Kami yang diajarkan-Nya itu bisa berurat dan berakar dalam diri mereka. Kali ini Yesus tampil sebagai seorang katekis yang istimewa. Ia mengajar banyak orang dengan contoh-contoh konkret yang menandakan bagaimana seorang murid berdoa tanpa henti, tanpa jemu-jemu kepada Tuhan. Seorang murid mengarahkan hati dan pikirannya hanya kepada Tuhan pada saat dan tempat di mana ia berada. Tuhan Yesus berkata: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.” ( Luk 11:5-7).

Orang-orang Israel saling mengetahui pekerjaan mereka. Oleh karena pekerjaan itulah yang akan menguduskan diri mereka. Misalnya, mereka pasti mengetahui siapa yang bekerja sebagai pembuat roti yang baik di kampung halaman mereka. Itulah sebabnya seorang sahabat bisa datang pada malam hari untuk meminjam tiga potong roti kepadanya. Perlu kita ketahui bahwa kondisi rumah orang-orang pada masa itu juga bisa menjadi alasan supaya orang tidak meminjamkan roti. Setiap keluarga tidur di loteng. Biasanya bapa keluarga tidur di dekat pintu masuk, menyusul anak-anak dan istrinya. Tentu saja sulit bagi bapa itu untuk melangkahi anak-anak dan istrinya untuk mengambil roti dan memberikannya kepada sahabatnya yang membutuhkan. Namun sebagai sahabat, ia akan berani melakukan yang terbaik untuk menolong sahabatnya itu.

Apa yang terjadi? Sahabat yang memiliki roti itu juga memiliki hati untuk mengasihi, apalagi untuk sahabatnya yang sangat membutuhkan bantuannya. Sahabat yang meminta roti itu pasti yakin bahwa sahabatnya akan memberikan yang dibutuhkannya. Yesus mengatakan bahwa sahabat yang meminta roti ini tidak memiliki rasa malu karena terus menerus memohon bantuan sehingga permohonannya juga bisa dikabulkan. Sikap konsisten ini patut dimiliki oleh anak-anak Tuhan, karena Tuhan juga akan memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Kita harus rajin berdoa!

Doa memang bisa mengubah segala sesuatu. Doa tanpa henti akan menggerakan hati Tuhan Bapa di Surga untuk berbelas kasih dengan manusia. Yesus sendiri yakin bahwa Bapa di Surga akan memberikan segala segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Maka Ia pun berkata: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Luk 11:9-10). Bagi, Yesus, Bapa di surga selalu memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Pemberian-Nya yang terbaik adalah Roh Kudus kepada anak-anak yang meminta-Nya.

Roh Kudus adalah Pemberian terbaik dari Bapa dan Putera. Di dalam Injil Matius, Tuhan Yesus berkata: “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat 7:11). Penginjil Lukas mengganti barang-barang yang baik dengan Roh Kudus (Luk 11:13). Roh Kudus adalah Anugerah Istimewa dari Tuhan yang memiliki peranan yang sangat penting: Pertama, Roh Kudus menginsafkan dunia akan dosa (Yoh 16:8), Ia membantu kita untuk melawan keinginan daging dan membimbing kita kepada kekudusan kalau kita sunggung rendah hati (Gal 5:17). Kedua, Roh Kudus memimpin kita semua kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:13). Ketiga, Roh Kudus mengatasi dosa-dosa kita (Gal 5:16), dan segala ketakutan (2Tim 1:6-8). Keempat, Roh Kudus membimbing kita untuk bisa berdoa (Rm 8:26), memuji dan memuliakan Tuhan. Kelima, Roh Kudus membawa persekutuan di dalam keluarga dan Gereja (Ef 4:3).

Tuhan Yesus sendiri berkata: “Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:22) maka janganlah kita memadamkan Roh Kudus di dalam diri kita (1Ts 5:19). Kita harus tetap setia dan patuh kepada Roh Kudus (Gal 5:25). Ingatlah bahwa tubuh kita juga merupakan tempat tinggal Roh Kudus (1Kor 6:19). Kita berdoa: Datanglah Roh Kudus, ubahlah hidup kami supaya sesuai dengan kehendak-Mu, satu Allah Tiga Pribadi, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amen.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply