Homili 16 Oktober 2015

Hari Jumat, Pekan Biasa XXVIII
Rm. 4:1-8
Mzm. 32:1-2,5,11
Luk. 12:1-7

Iman adalah dasar kemartiran kristiani

imagePada tanggal 11 Mei 2015 yang lalu, Paus Fransiskus memberi sebuah homili yang bagus tentang kemartiran. Ia mengajak umat kristiani untuk selalu siap menjadi martir karena Yesus Kristus adalah martir agung. Ia berkata: “Orang kristen yang tidak mengambil dimensi kemartiran secara serius di dalam hidupnya tidak akan memahami jalan yang ditunjukkan Yesus sendiri.” Pada kesempatan yang sama, ia menghimbau seluruh gereja untuk kembali kepada Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menginsafkan, yang mengingatkan seluruh Gereja tentang Yesus dan perkataan-Nya dan membimbing umat Kristiani untuk menjadi saksi yang otentik, mulai dari hal-hal yang kecil dan biasa. Kemartiran itu nampak dalam hal-hal yang kecil dan biasa sampai kepada kemartiran yang besar sesuai kehendak Tuhan.

Kata martir berasal dari bahasa Yunani μάρτυς, artinya «saksi» Kehidupan para martir selalu dikaitkan dengan orang-orang Kristiani yang memberi dirinya secara total kepada Tuhan sebagai bentuk kesaksian imannya. Orang kristen yang menjadi martir layak menerima baptisan baru yakni batisan darah, dalam arti pemurnian hati dan jiwa secara total. Pembaptisan darah karena ia mencurahkan darahnya karena mencintai Kristus. Pembaptisan darah ini sama dengan seorang yang menerima pembaptisan dengan air.

Tuhan Yesus memberi peneguhan kepada para martir atau pribadi-pribadi “limited edition” dengan berkata: “Hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” (Luk 12:4). Para martir mengikuti nasihat Yesus ini dengan berani memberi tubuhnya ditikam, dibakar atau menjadi santapan hewan buas. Semua diterima dengan sadar karena satu alasan utama yakni mengasihi Kristus sampai tuntas. Sebagaimana Yesus begitu mengasihi manusia, demikian juga manusia harus membalas kasih Tuhan dengan mengikuti jejak-Nya. Kemartiran menemukan dasarnya yang kuat yakni pada iman yang teguh kepada Tuhan. Dengan kata lain iman adalah dasar bagi kemartiran kristiani.

Tuhan Yesus menunjukkan sebuah jalan baru supaya kita semua tidak takut memberi diri kepada-Nya sebagai martir. Ia berkata: “Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!” (Luk 12: 5). Sikap takut akan Allah memiliki nilai yang mulia dan luhur. Pemazmur berkata: “Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada perintah-perintah-Nya” (Mzm 112:1). Penulis Kitab Amsal berkata, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” (Ams 1:7).

Orang yang beriman dan takut akan Tuhan akan merasa begitu bernilai di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Luk 12:6-7). Kita bangga karena begitu bernilai di hadapan Tuhan. Pemazmur berkata kepada Tuhan: “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”

St. Paulus dalam bacaan pertama mengajarkan bahwa seorang dibenarkan atau diselamatkan bukan oleh perbuatan baiknya melainkan oleh imannya kepada Tuhan. Ia menghadirkan figur Abraham sebagai model kaum beriman. Abraham dipanggil oleh Tuhan karena ia memiliki iman yang besar dan sungguh taat kepada Tuhan. Dia layak disebut sebagai Bapa leluhur jasmani bagi kita. Abraham dibenarkan di hadirat Tuhan bukan semata-mata karena perbuatannya tetapi karena imannya kepada Tuhan. Kasih karunia Tuhan menguasainya. Di dalam Kitab Kejadian dikatakan, “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kej 15:6).

Paulus juga mengambil tokoh Daud. Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” (Rm 4:7-8; Mzm 32:1). Manusia memiliki kerapuhan hidup, tetapi Tuhan tetap memampukannya. Tuhan tetap menguatkan manusia untuk terbuka dan menerima pengampunan yang berlimpah.

Bagi kita sebagai orang katolik, apakah hanya iman saja yang menyelamatkan kita (sola fede)? Pandangan Gereja katolik berbeda dengan gereja-gereja lain. Dengan meminjam St. Yakobus, iman disertai perbuatan baik adalah iman yang hidup (Yak 2:17). Ketika perbuatan-perbuatan seseorang tidak sesuai dengan imannya, maka imannya itu mati. Iman yang hidup diperoleh karena kasih karunia Allah, yang dapat menyelamatkan kita (Ef 2:8-10; Tit 3:5-8; Yak 2:14-26). Maka, apabila kita ingin diselamatkan kita harus mempunyai iman yang hidup, yaitu iman yang dinyatakan dengan perbuatan baik.

St. Bernardus pernah menulis, “Seperti ketika tubuh bergerak kita mengetahui bahwa ia hidup, maka perbuatan-perbuatan baik menunjukkan bahwa iman itu hidup. Jiwa memberikan hidup kepada tubuh, menyebabkannya bergerak dan merasakan; kasih memberikan hidup kepada iman, dan menyebabkannya berbuat sesuatu, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus, “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Seperti halnya tubuh mati ketika jiwanya meninggalkannya, maka iman mati jika perbuatan kasih menjadi berkurang. Karena itu, ketika kamu melihat seseorang yang aktif melakukan perbuatan-perbuatan baik dan gembira dan bersemangat di dalam tingkah lakunya, kamu dapat yakin bahwa iman itu hidup di dalam dirinya: hidupnya jelas membuktikan hal itu.” (St. Bernard, Second Sermon on the Holy Day of Easter, 1).

Pada hari ini, iman kita semakin diteguhkan karena kesaksian hidup banyak orang. Mari kita kembali kepada Tuhan, mengimani-Nya dengan sebulat hati. Dengan demikian dalam penderitaan sekali pun kita akan tetap setia kepada-Nya. Kemartiran menuntut kesetiaan iman. Apakah anda setia dalam iman?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply