Homili 15 Oktober 2015

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXVIII
Peringatan Wajib St. Teresia dari Yesus
Rm. 3:21-30
Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6
Luk. 11:47-54.

Tuhan Yesus, sembuhkanlah kami!

imagePada pagi hari ini saya mengingat sebuah lagu di dalam buku Madah Bakti, no. 285. Lagunya berjudul “Tuhan Yesus sembuhkanlah kami”. Inilah bunyi lirik lagunya: “Tuhan Yesus sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami. Dari dosa bersihkanlah kami, Tuhan Yesus.Tanpa Yesus kita orang miskin. Tanpa Yesus, hati kita dingin. Dengan Yesus, kita amat kaya, hati kita kan bersukacita dengan Yesus.” Lagu ini sangat populer di kampung ketika dinyanyikan bersama-sama di Gereja atau dalam ibadat lingkungan. Kata-katanya merupakan sebuah doa untuk memohon pengampunan berlimpah dari Tuhan Yesus dan bahwa Ia menjadi pusat atau sumber keselamatan manusia. Ia berkata: “Terlepas dari Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).

Tuhan Yesus adalah sumber keselamatan kita. Banyak orang mensyukurinya dengan caranya masing-masing. Ada seorang sahabat misalnya berulang kali menulis status BBM-nya: “Yesus adalah andalanku”. Seorang yang lain lagi menulis: “Yesus, Engkau adalah segalanya bagiku”. Ini merupakan ekspresi tertentu dari orang-orang yang percaya kepadanya. Saya yakin bahwa anda dan saya juga memiliki ekspresi tertentu yang disampaikan kepada Yesus melalui doa-doa pribadi.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan pengajaran St. Paulus kepada jemaat di Roma. Ia percaya Tuhan Yesus datang ke dunia dalam peristiwa Inkarnasi untuk menggenapi segala nubuat di dalam Kitab Taurat dan para nabi. Yesus adalah Kebenaran Allah yang dijanjikan Tuhan Allah, dinubuatkan dan digenapi atau disempurnakan di dalam diri Yesus Kristus. Semua orang percaya kepada kebenaran Kitab Suci ini.

Sambil memandang Yesus sebagai Kebenaran dari Allah, Paulus mengkontemplasikan seluruh kehidupan Yesus yang diimaninya. Apa yang dikontemplasikan Paulus? Ia percaya bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan juga telah kehilangan kemuliaan Allah namun karena kasih karunia dari Allah dalam Yesus Kristus maka manusia berdosa itu bisa dibenarkan oleh Yesus sang Kebenaran sejati. Penebusan diterima gratis oleh orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat manusia. Dialah yang mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang Mahabaik. Paulus berkata: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” (Rm 3:25-26).

Yesus adalah Kebenaran sejati yang memerdekakan kita (Yoh 8:32). Dialah yang melepaskan kita dari hukuman dosa. Maka tugas kita adalah bermegah di dalam Dia oleh iman kepada-Nya. Inilah keyakinan Paulus, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus sang Kebenaran sejati itu bersifat universal. Artinya, “kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.” (Rm 3:30).

Pengajaran Paulus ini membukan wawasan kita akan rencana keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Rencana keselamatan itu tidak terjadi seketika tetapi berlangsung sejak lama di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Di dalam Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi juga Mazmur, ada nubuat, ada gambaran tentang sang Mesias. Kehadiran Yesus adalah untuk menggenapi segala nubuat itu. Ini adalah tanda kasih dan kebaikan dari Allah bagi setiap orang. Meskipun manusia memiliki kecendrungan untuk jatuh dalam dosa namun kasih karunia tetap diberikan oleh Tuhan. Ia tidak pernah berhenti mengasihi dan mengampuni kita. Maka tugas kita adalah mengimani-Nya. Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan?

Kita semua bangga sebagai orang yang dibaptis. Dengan pembaptisan kita mati bersama Kristus dan bangkit bersama-Nya. Mungkin karena kedekatan dengan Yesus, kita menjadi jauh dan tidak setia kepada-Nya. Di dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang bersikap munafik. Mereka merasa diri lebih benar, lebih suci padahal perilakunya tidak jujur, tidak adil dan jauh dari kasih karunia Tuhan. Mungkin kita juga sering berlaku demikian. Mari kita memeriksa bathin kita dan berubah dalam hidup.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply