Homili Hari Minggu Biasa ke-XVIII/B – 2018

Hari Minggu Biasa XVIII/B
Kel. 16:2-4,12-15
Mzm. 78:3,4bc,23-24,25,54
Ef. 4:17.20-24
Yoh. 6:24-35

Tuhan Selalu Berbagi

Jangan pelit! Ini adalah kata-kata seorang ayah kepada anak-anaknya. Ia selalu mengulanginya hampir setiap hari. Pada suatu ketika anak bungsu bertanya kepada ayahnya: “Ayah, mengapa setiap hari selalu mengulangi kata-kata yang sama supaya kami jangan pelit?” Sang ayah menjawabnya: “Pada suatu saat yang tepat, engkau akan mengerti semuanya ini.” Tetapi karena anak bungsu itu masih kecil maka pemahamannya masih terbatas. Sebab itu sang ayah meneruskan perkataannya: “Kita membutuhkan sesama manusia. Sebab itu kita jangan pelit terhadap mereka. Tuhan juga murah hati dan suka berbagi dengan kita.” Anak bungsu itu mengangguk dan menyimpan semua perkataan ini di dalam hatinya. Ketika ia bertumbuh menjadi dewasa, ia baru menyadari semua perkataan ayahnya untuk tidak pelit terhadap sesama yang lain. Ia benar-benar membutuhkan sesama, supaya dapat bertumbuh menjadi sungguh-sungguh manusia.

Pengalaman sederhana seorang anak di dalam keluarganya ini sangat bermakna. Anak-anak memang belajar menjadi makhluk sosial, mulai dari dalam keluarganya sendiri. Mereka mengikuti teladan baik orang tua yang murah hati dan suka berbagi dengan sesamanya. Para orang tua berbicara melalui kata-kata dan keteladanan yang baik. Saya merasa yakin bahwa banyak di antara kita belajar berbagi atau bermurah hati dari kedua orang tua kita di rumah. Nilai-nilai luhur ini hendaknya tetap bertumbuh di dalam keluarga, masyarakat dan bangsa kita. Semangat berbagi dan bermurah hati dalam segala situasi itu kita temukan di dalam Tuhan sendiri. Orang boleh melawan Tuhan dengan jatuh dalam dosa yang sama tetapi Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari Minggu Biasa ke-XVIII/B ini membuka mata dan pikiran kita pada sifat Tuhan yang selalu berbagi dan bermurah hati dengan kita. Ia tidak hanya memperhatikan orang-orang baik saja, tetapi orang yang tidak benar juga mendapat perhatian penuh. Tuhan Yesus dalam Injil berkata: “Bapa menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45). Allah Bapa berbagi dengan manusia dalam situasi apapun. Ini adalah tanda bahwa Ia mengasihi manusia tanpa ada syarat apapun. Hal ini menjadi jelas dalam bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Keluaran, menceritakan tentang peziarahan umat Israel di Padang Gurun Sin di antara Elim dan Gunung Sinai. Ketika itu mereka mengalami kelaparan sehingga bersungut-sungutlah mereka kepada Tuhan melalui Musa dan Harun. Mereka mengingat masa lalu di Mesir di mana mereka leluasa duduk di depan kuali yang penuh dengan daging dan memakan roti sepuasnya. Kini mereka kelaparan dan merasa bahwa mereka seolah-olah hendak dibunuh di padang gurun. Mungkin kita menertawakan mereka sebab gara-gara daging dan roti mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Di tempat lain bangsa Israel bersungut-sungut dengan berkata: “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bil 11:5-6).

Tuhan mengetahui semua pemberontakan mereka melalui Musa dan Harun. Ia berjanji untuk menurunkan dari langit hujan roti. Bangsa Israel hanya akan memungut dan memakannya. Makanan ini adalah ujian kesetiaan bagi bangsa Israel kepada Tuhan. Tuhan juga berjanji untuk memberi daging dan mereka akan memakannhya pada senja hari. Dengan cara ini Tuhan mengajar mereka untuk mengenal dan mengakui-Nya sebagai Tuhan Allah mereka. Meskipun mereka melihat roti yang turun dari surga dan daging yang siap disantap, mereka masih bertanya-tanya dari mana asal muasal makanan itu. Musa mengatakan bahwa Tuhan memberikan roti sebagai makanan bagi mereka.

Kita melihat situasi bangsa terpilih memang tidaklah elok di mata Tuhan Allah. Mereka mengalami kemerdekaan sebagai anugerah Tuhan Allah kepada mereka dari penindasan di Mesir. Namun mereka tidak mensyukurinya secara penuh. Mereka justru mengeluh dan memberontak kepada Tuhan karena makanan. Kebutuhan fisik ternyata melumpuhkan iman mereka kepada Tuhan yang mengasihi dan membebaskan mereka. Namun Tuhan menunjukkan kesabaran-Nya kepada mereka. Ia tetap mengasihi, mengampuni dan memberi mereka makan. Tuhan Allah kita luar biasa! Ia juga melakukan hal yang sama kepada kita.

Dalam bacaan Injil kita menjumpai kisah yang mirip, hanya kali ini sangat mendalam maknanya. Banyak orang mencari dan mengikuti Yesus bukan karena memandang Yesus sebagai Anak Allah, dan Mesias yang membebaskan. Mereka memiliki satu motivasi yaitu mencari makan. Lebih jelas Yesus berkata: “Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yoh 6:26-27). Lihatlah motivasi yang keliru dan dangkal untuk mengikuti Yesus yaitu mencari makan gratis. Kalau tidak ada makanan maka Tuhan juga akan dilupakan. Tuhan harus selalu nomor satu dalam hidup kita.

Selanjutnya Tuhan Yesus mengarahkan mereka supaya memiliki iman dan kepercayaan kepada-Nya sebagai satu-satunya utusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Ini adalah hal yang pertama dan utama dalam hidup mereka. Yesus melengkapi semua perkataan-Nya: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35). Perkataan Yesus ini sekaligus membuka wawasan mereka bahwa hanya Allah Bapa yang memberi makanan dan menghidupkan manusia bukan Musa dan Harun.

Tuhan Yesus menjadi roti hidup yang turun dari surga. Dalam dunia Perjanjian Lama di bacaan pertama Tuhan menurunkan roti dan daging bagi bangsa Israel yang menggerutu melawan Tuhan sendiri. Dalam dunia Perjanjian Baru, Tuhan memberi Anak-Nya sendiri sebagai roti hidup. Roti hidup yang menyelamatkan bagi setiap orang yang percaya dan datang kepada Yesus. Perkataan Yesus ini mengingatkan kita pada semangat berbagi Tunan yang begitu mendalam karena kasih. Tuhan Yesus pernah berkata kepada Nikodemus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17).

Apa yang harus kita lakukan supaya mampu berbagi seperti Tuhan sendiri?

Santu Paulus dalam bacaan kedua memberi kita kiat-kiat untuk belajar berbagi seperti Tuhan sendiri. Ia berkata: “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.” (Ef 4: 17.20). Perkataan Paulus ini mengandaikan semangat metanoia yang radikal. Hidup lama harus berubah menjadi baru dalam Kristus. Kita harus berani meninggal manusia lama yang pelit, suka bersungut-sungut menjadi manusia baru yang murah hati dan suka berbagi dengan sesama.

Tuhan saja selalu berbagi dengan kita sekalipun kita selalu jatuh dalam dosa, mengapa kita masih sulit berbagi? Mengapa kita takut berbuat baik? Mengapa kita takut menjadi miskin karena berbagi dengan sesama yang lebih miskin dan sangat membutuhkan? St. Theresia dari Kalkuta mengatakan bahwa melalui kaum papa dan miskin, ia dapat mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita?

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply