Homili 15 Januari 2019

Homili Hari Selasa, Pekan Biasa I
Ibr. 2:5-12
Mzm. 8:2a,5, 6-7, 8-9
Mrk. 1:21b-28

Merenungkan kuasa Tuhan

Ada seorang sahabat yang selalu mengenang sosok ayahnya dalam hidupnya. Baginya, sosok ayahnya adalah segalanya. Misalnya, ayahnya selalu memberi nasihat dan wejangan tertentu bukan hanya dengan kata-kata saja tetapi lebih-lebih dengan teladan hidupnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu sejalan dengan keteladanannya di depan mata keluarganya. Sikap dan teladan sang ayah inilah yang membuat keluarga segan untuk melawan atau bertolak belakang dengannya. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kebaikannya di dalam keluarga. Maka kuasa ayah dialami melalui keteladanan hidup yang selalu sinkron dengan perkataannya. Saya selalu merasa bahagia dengan sharing-sharing seperti ini sebab setiap sosok dalam keluarga pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik di dalam hidup dan bagi keluarganya.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Yesus yang menunjukkan kuasa ilahi-Nya di dalam komunitas-Nya. Setelah Ia mewartakan Kerajaan Allah dan memanggil para mitra kerja-Nya, kini Yesus menunjukkan kuasa ilahi-Nya, bukan hanya melalu Sabda melainkan juga dengan perbuatan dan keteladanan hidup-Nya yang nyata. Dikisahkan bahwa pada suatu hari Sabat Yesus menyempatkan diri-Nya untuk mengajar di dalam sebuah rumah ibadat di Kapernaum. Orang-orang hadir di dalam rumah ibadat merasa takjub mendengar setiap perkataan-Nya. Mereka semua merasa takjub karena Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa dan sangat berbeda dengan para ahli Taurat.

Selanjutnya, Penginjil Markus menyampaikan sebuah informasi lain tentang seorang tanpa nama mengalami kerasukan roh jahat yang juga hadir dalam rumah ibadat itu. Meskipun roh jahat sedang merasuki orang itu, namun ia mengenal Yesus dan kuasa-Nya. Sebab itu ia berani berkata: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Mrk 1:24). Yesus tetap memiliki sikap yang tegas untuk melepaskan manusia dari belenggu roh jahat. Sebab itu Ia menunjukkan kuasa ilahi-Nya dengan berkata: “Diam, keluarlah dari padanya!” (Mrk 1:25). Perkataan dan pekerjaan Yesus yang penuh kuasa ilahi ini menimbulkan perasaan takjub yang mendalam dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini. Perbincangan tentang Yesus menjadi konsumsi publik karena hal yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Inilah gambaran kesaksian orang-orang kebanyakan saat itu: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya” (Mrk 1:27). Hasilnya adalah Yesus semakin dikenal di mana-mana dan semua orang semakin takjub kepada-Nya.

Kisah Injil ini memperlihatkan dua kuasa Yesus:

Pertama, Tuhan Yesus menunjukkan kemampuan-Nya untuk mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti para ahli Taurat. Orang-orang saat itu berhadapan dengan kaum Farisi dan para ahli Taurat. Mereka mengajar dan berbicara yang muluk-muluk tentang perkataan Tuhan namun semuanya itu penuh dengan kepalsuan. Mulut mereka boleh berkata namun tidak sinkron dengan perbuatan dan hidup yang nyata. Kehadiran Yesus membawa nuansa baru. Semua perkataan yang keluar dari mulut-Nya penuh dengan kuasa yang mengubah hidup orang. Semua perkataan selalu sinkron dengan perbuatan-Nya. Semua kuasa Yesus ini nampak dari keaslian-Nya, bukan hal-hal yang dibuat-buat saja.

Kedua, kuasa Yesus ditunjukkan-Nya dengan memberi perintah dan yang menerima perintah itu mentaatinya. Tentu saja kepatuhan terjadi karena kemampuan mendengar dengan baik. Misalnya roh jahat yang merasuki seorang tanpa nama di dalam Injil ini taat pada perintah Yesus. Ia bahkan mengenal Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah. Tuhan Yesus memberi perintah-perintah-Nya kepada kita maka tugas kita adalah mentaati perintah-perintah-Nya. St. Yohanes mengatakan: “Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya” (1Yoh 2:3). Perintah Tuhan adalah perintah kasih sebagai perintah baru bagi kita (Yoh 13:34). Mengasihi Tuhan Allah berarti kita setia melakukan perintah-perintah-Nya (1Yoh 5:2-3).

Kuasa Yesus ini menjadi nyata dan sempurna dalam penderitaan. Kita membaca dalam surat kepada jemaat Ibrani: “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” (Ibr 2:9). Yesus justru menunjukkan kuasa-Nya dengan melewati penderitaan salib dan mengalahkan maut dengan kuasa ilahi-Nya. Yesus bangkit dari kematian menunjukkan bahwa tidak ada suatu kuasa di bumi yang mampu mengalahkan-Nya.

Pada hari ini iman kita dikuatkan karena berjumpa dengan sosok Yesus yang luar biasa dan penuh kuasa. Ia menunjukkan kuasa ilahi-Nya dalam kata-kata dan dalam perbuatan-Nya. Hidup Kristiani akan bermakna bagi kita kalau kita berani bersaksi tentang Yesus yang kita Imani dalam kata dan tindakan. Percumalah kita berkata-kata karena bisa jadi hanyalah kata-kata kosong saja. Orang mengagumi hidup kita sebagai pengikut Kristus dalam perbuatan baik dan kebenaran.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply