Food For Thought: Menerima diri apa adanya

Menerima diri apa adanya

Ada seorang yang tiba-tiba memanggil namaku dari jauh: “Pater John Laba….” Saya berhenti sejenak dan melihat ke samping, ternyata ada seorang sahabat tempo doeloe. Ia melanjutkan perkataanya kepadaku: “Kapan belajar untuk menjadi kurus, mo?” Saya hanya tersenyum dan dengan rasa malu saya memandang postur tubuhku. Dan saya spontan mengatakan kepadanya: “Saya pernah kurus dan akan tetap belajar menjadi kurus. Memang sulit tetapi saya harus berani mencobanya”. Saya merenungkan kembali kata-kata ini dan tersenyum sendiri di kamar. Saya bersyukur karena Tuhan memberiku keadaan fisik yang baik meskipun orang selalu mengatakan ‘kog berubah fisiknya’. Memang menerima diri itu sebuah proses yang akan dan harus dilewati semua orang. Butuh keberanian untuk menerima diri apa adanya. Kalau tidak menerima diri apa adanya maka konsekuensinya adalah penolakan diri hingga maut memisahkan.

Saya teringat pada Helen Keller (1880-1968). Beliau pernah berkata: “Aku jarang berpikir mengenai keterbatasanku dan mereka tidak pernah membuatku bersedih. Mungkin ada sentuhan rindu pada satu waktu, tapi itu samar layaknya tiupan angin diantara bunga-bunga.” Di tempat lain beliau mengatakan: “Aku rindu menyelesaikan pekerjaan besar dan mulia, tapi tugas utamaku adalah untuk menyelesaikan pekerjaan kecil seakan itu pekerjaan besar dan mulia.”

Amatlah menarik perkataan Helen Keller yang tentu saja menjadi cerminan hidup kita semua. Banyak kali kita hanya memikirkan keterbatasan fisik, takut dibully karena ada kekurangan tertentu. Mengapa kita harus malu? Kita perlu merasa bahwa semua orang itu ada keterbatasan. Maka hal yang paling baik adalah kita menerima kelebihan dan kekurangan fisik kita, kita menerima diri apa adanya. Kita menerima sesama apa adanya bukan ada apanya.

Hidup kita bermakna ketika kita berusaha untuk selalu bersyukur kepada Tuhan karena memberikan kepada kita hidup yang indah. Kekecewaan terhadap fisik kita hanya terjadi ketika kita membandingkan orang lain dengan diri kita. Ketika itu kita menjadi pesimis bukan optimis. Yang ada dalam pikiran kita hanya kekurangan bukan kelebihan. Akibatnya kita tidak menerima diri apa adanya. Apa untungnya kita tidak menerima diri apa adanya? Bukankah kita semua diciptakan begitu agung dan mulia oleh Tuhan?

Saya mengakhiri FFT ini dengan mengutip Filsuf Tiongkok bernama Lao Zu. Beliau pernah berkata: “Merasa puaslah dengan apa yang kita punya, bersyukurlah dengan keadaan saat ini. Dengan begitu anda akan merasa cukup.”

Damai Tuhan,

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply