Homili 28 April 2020

Hari Selasa, Pekan Paskah III
Kis. 7:51 – 8:1a
Mzm. 31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab
Yoh. 6:30-35

Akrab dengan sang Roti Hidup

Saya selalu mengingat sebuah himne yang ditulis santu Thomas Aquinas dengan judul “Adoro Te”. Saya mengutip beberapa ayat untuk kita renungkan bersama: “Allah yang tersamar, Dikau kusembah, sungguh tersembunyi, roti wujudnya. S’luruh hati hamba tunduk berserah, ‘Ku memandang Dikau, hampa lainnya. Pandang, raba, rasa, tidaklah benar, ‘ku percaya hanya yang t’lah kudengar. S’luruh sabda dari Putera Allah, sungguh tak bertara kebenarannya. Di salib tersamar keallahan-Mu, di sini tersamar keinsanan-Mu. Aku mengimani dua-duanya. Yang penyamun minta, ‘ku memintanya.” Himne ini selalu kita nyanyikan pada saat adorasi suci sakramen Mahakudus. Pada saat Ekaristi atau saat mengikuti adorasi suci, kita tidak memandang hosti tetapi kita memandang Allah yang tersamar dan menyembah-Nya. Di hadirat Tuhan ini kita menyembah, tunduk berserah kepada-Nya. Ketika kita memandang salib, kita memandang keallahan-Nya dan dalam sakramen Mahakudus tersamar keinsanan-Nya. Saat berekaristi, kita berjumpa dengan Allah yang tersamar dalam diri Yesus Ekaristis. Sebab itu rasa syukur yang mendalam harus tetap kita tanamkan dalam-dalam di hati kita.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan kisah Yesus dalam Injil Yohanes tentang pengajaran Roti Hidup di dalam rumah ibadat di Kapernaum. Orang banyak mencari, menemukan dan mengkuti Yesus dengan banyak motivasi yang berbeda-beda. Yesus sebelumnya mengingatkan banyak di antara mereka yang ingin mengikuti Yesus karena mau makan dan minum gratis. Maka Yesus mengatakan: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yoh 6:27). Selanjutnya, orang-orang meminta Yesus untuk menunjukan sebuah tanda yang dapat meyakinkan mereka semua. Mereka juga mempertanyakan pekerjaan apa yang sudah sedang dilakukan Yesus supaya lebih meyakinkan mereka. Mengapa mereka berperilaku demikian? Sebab mereka mendasarkan diri pada pengalaman masa lalu di mana nenek moyang mereka telah makan mana di padang gurun. Bagi mereka ini adalah makanan yang berasal dari surga.

Tuhan Yesus menggunakan kesempatan untuk mengajar mereka tentang diri-Nya sebagai Roti hidup yang turun dari surga. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mana yang di padang gurun itu bukan diberikan Musa melainkan diberikan oleh Bapa surgawi. Dialah yang memberi roti yang benar sebab roti itu turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia. Sebenarnya dengan mengatakan roti yang diberikan Allah itu turun dari surga, mereka bisa mengerti bahwa roti yang dimaksud itu bukan roti sebagaimana adanya melainkan seorang yang telah turun dari surga. Yesus tidak mengatakan roti yang jatuh dari surga tetapi turun dari surga, bukan juga diturunkan dari surga. Perkataan Yesus ini menggoda orang-orang di dalam sinagoga sehingga mereka langsung memintanya. Yesus dengan tegas mengatakan: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6:35).

Pengajaran yang diberikan Yesus ini masih sangat actual bagi kita semua. Kita mengakui diri dengan bangga sebagai pengikut Kristus, orang katolik, namun apakah kita memang sungguh-sungguh katolik sesuai pikiran dan harapan Yesus Kristus. Banyak kali kita justru seperti orang-orang zaman Yesus yang meminta tanda, atau pura-pura tidak mengenal Yesus. Kita mungkin lebih enak dengan hidup lama dana susah untuk membuka diri bagi hal-hal baru yang merupakan rencana Tuhan sendiri. Orang-orang di dalam Sinagoga menunjukkan sikap ini di hadapan Yesus. Mereka masih menyukai hidup lama sehingga di depan Yesus sekalipun mereka tetap mengingat hidup lama. Sikap hidup seperti ini menunjukkan ‘kita pakai bangetz’. Seharusnya kita berusaha untuk mengerti rencana dan kehendak Yesus di dalam hidup kita. Dia adalah roti hidup, makanan rohani yang selalu kita kenang di dalam Ekaristi.

Sangatah sulit Gereja masa kini untuk menghayati Ekaristi dengan baik. Ekaristi adalah syukur dari pihak kita kepada Tuhan Yesus sebab Ia mengurbankan hidup-Nya untuk penebusan berlimpah kita. Hanya saja usaha untuk menghayati ekaristi semakin jauh dan suram. Pikirkanlah saat-saat kita berada di dalam Gereja untuk beribadah. Banyak orang yang senang bermain HP, gadget, ngobrol, berpikiran negatif dan kotor terhadap orang lain di depan “Allah yang tersamar”. Hal-hal seperti ini membuat Ekaristi kita menjadi tidak bermakna karena kita tidak memiliki hati yang bersyukur.

Apa yang harus kita lakukan?

Kita memiliki sosok inspiratif hari ini yakni santu Stefanus dalam bacaan pertama. Santu Stefanus adalah salah seorang Diakonos dari ketujuh diakon terpilih di Yerusalem saat itu. Ketika itu Simon Petrus dan teman-temannya berniat untuk mengingatkan komunitas untuk memprioritaskan pelayanan Sabda sesuai kehendak Tuhan Yesus. Sebab itu Simon Petrus meminta mereka untuk memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus supaya mengambil alih tugas melayani komunitas, terutama orang-orang miskin, sedangkan para rasul lebih fokus kepada pelayanan kepada Sabda Tuhan. Stefanus adalah salah seorang diakon terpilih yang menjadi martir pertama di dalam komunitas karena memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus.

Stefanus wafat sebagai martir pertama karena bersaksi tentang Yesus sang Roti Hidup. Dia penuh dengan Roh Kudus dan melihat kemuliaan Allah, Tuhan Yesus yang berdiri di sebelah kanan Allah. Orang-orang melempari Stefanus sampai wafat. Ada tiga hal yang ditunjukkan Stefanus dalam kemartirannya: Pertama, Stefanus wafat sebagai martir cinta kasih. Ia mampu mengasihi Tuhan, mengasihi komunitas bahkan mengasihi musuh-musuh yang melemparinya dengan batu. Kedua, Stefanus bisa mengampuni. Ia dimusuhi, dilempari dengan batu tetapi ia tetap mau mengampuni. Ia berkata: “Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Ketiga, Stefanus berdoa. Dalam situasi yang sulit ini Stefanus masih berdoa. Ia berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku”.

Stefanus menginspirasikan kita supaya menjadi saksi tentang Yesus sebagai Roti hidup dalam hal mengasihi, mengampuni dan mendoakan bahkan musuh sekalipun. Pikirkanlah ketika kita berada dalam situasi yang sulit, apakah kita masih sempat mengasihi, mengampuni dan berdoa? Mudah sekali kita berpikir tentang mengasihi, mengampuni dan mendoakan atau berdoa tetapi sangatlah sulit untuk melakukannya. Kita butuh Yesus untuk mengubah hidup kita. Hanya Yesus saja yang dapat melakukan semua ini di dalam hidup kita.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply