Homili Pesta St. Maria Magdalena – 2020

Pesta St. Maria Magdalena
Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yoh. 20:1-2,11-18

Mewartakan Kristus dengan sukacita

Masa pandemic covid-19 sedang terjadi di seluruh dunia. Salah satu dampak dari banyak dampak covid-19 adalah bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang harus dibatasi supaya mencegah penularan virus corona. Salah satu contohnya adalah pada peribadatan bersama di tempat-tempat ibadah. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa selama masa new normal ini, belum ada misa akbar sebagaimana biasanya di setiap gereja. Memang ada gereja-gereja tertentu yang sudah memulai peribadatan mereka namun dengan membatasi kehadiran jumlah umat. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kebaikan bersama kita. Dalam situasi seperti ini, banyak umat dengan sadar menyatakan kerinduan mereka pada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Mereka menyadari bahwa melalui misa streaming, mereka menerima komuni kudus secara rohani tetapi rasanya masih belum seutuhnya penuh. Mereka percaya bahwa Allah yang tersamar itu hadir secara nyata dalam Ekaristi, namun akan menjadi lengkap ketika dapat diterima secara utuh sebagai santapan jiwa kita dalam komuni kudus. Perasaan rindu akan Ekaristi bersama dan menerima Yesus dalam Sakramen Mahakudus ini menandakan cinta kasih yang besar kepada Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus.

Pada hari ini kita merayakan Pesta St. Maria Magdalena. Penginjil Yohanes mengisahkan tentang sosok wanita kudus ini yang begitu merindukan Yesus. Dia mengikuti Yesus sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Yesus secara pribadi karena Yesus mengusir tujuh roh jahat yang pernah merasuki dirinya (Luk 8:2). Penginjil Lukas mengisahakan bahwa Maria Magdalena bersama Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka (Luk 8:3). Jadi Maria Magdalena tidak hanya mengikuti Yesus saja sebagai tanda memberi dirinya kepada Tuhan tetapi melayani dan memberi dari segala yang dimilikinya untuk keperluan bersama dalam komunitas Yesus. Sebab itu wajar saja kalau penginjil Yohanes menampilkan sosok Maria Magdalena ini begitu penting, khususnya sebagai saksi dan pewartaan tentang kebangkitan Yesus.

Kerinduan penuh kasih kepada Yesus ditunjukkan oleh Maria Magdalena ketika pada pagi-pagi buta ia pergi melihat kubur Yesus. Ia melihat batu penutup kubur sudah tidak ada di tempat. Ia merasa sedih, menangis karena kerinduan untuk melihat jenazah Yesus tidak terpenuhi. Ia sempat melihat ke dalam kubur Yesus dan hanya melihat dua malaikat berpakaian putih yang duduk di dekat posisi kepala dan kaki tempat mayat Yesus dibaringkan. Ia bahkan mengungkapkan isi hatinya kepada para malaikat ketika ditanya alasan mengapa dia menangis. Inilah perkataan Maria Magdalena: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” (Yoh 20: 13). Dia juga melihat Yesus yang belum dikenalnya dan pertanyaan Yesus yang sama disampaikan kepadanya ‘ mengapa menangis’ dan ‘siapa yang sedang dicarinya’. Sekali lagi Maria menunjukkan kerinduan dan kasihnya kepada Yesus dan berkata: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” (Yoh 20:15).
Tuhan Yesus peduli dan tidak mau membiarkan Maria larut dalam kesedihannya. Ia yang bangkit dengan mulia memanggil Maria dengan namanya sendiri: “Maria!”. Maria pun berpaling kepada Yesus dan menyapa: “Rabuni!” yang berti Guruku. Maria ingin lebih dekat lagi dengan Yesus tetapi Yesus mengingatkannya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yoh 20: 17). Memang sangatlah manusiawi. Maria mau mengungkapkan kasih dan kerinduannya kepada Yesus, tetapi Yesus mengatakan kepadanya bahwa masih ada hal yang terbaik yang bukan hanya semata-mata menjadi kerinduan manusiawi, yakni kesiapan dan ketulusan untuk menjadi saksi dan mewartakan kebangkitan. Maka Yesus berkata demikian kepadanya. Maria menyadari tugas perutusannya maka ia bekata kepada para murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.” (Yoh 20:18).

Kita semua memiliki kasih dan kerinduan kepada Yesus seperti yang terjadi pada masa pandemic coivid-19 ini. Namun kasih dan kerinduan itu janganlah semata-mata bersifat manusiawi. Kebanggaan kita kepada Yesus jangan hanya pada level manusiawi semata. Kita mengasihi, merindukan dan mengagumi-Nya sehingga kita mengikuti-Nya dari dekat. Namun semuanya itu harus menjadi nyata dalam hidup kita. Artinya kita harus berani bersaksi bahwa kita adalah pengikut Yesus Kristus, sehingga setiap hari berusaha untuk menyerupai-Nya. Setiap orang berusaha untuk hidup di dalam Kristus sebagai manusia baru. Mengikuti santu Paulus: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor 5:17). Mari kita mewartakan Kristus dengan sukacita karena kita juga menjadi manusia baru dalam Kristus.

PJ-SDB