Homili 31 Agustus 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXII
1Kor. 2:1-5
Mzm. 119:97,98,99,100,101,102
Luk. 4:16-30

Siap Mewartakan Injil

Saya pernah berjumpa dengan seorang misionaris. Ia mengaku sedang berkarya di tanah misi selama lebih kurang tiga puluh tahun. Mula-mula ia ditempatkan di sebuah pedalaman untuk melayani masyarakat yang pekerjaan hariannya adalah bercocok tanam secara tradisionil. Selanjutnya ia dipindahkan di sebuah daerah yang mayoritas penduduknya nelayan sederhana. Di kedua daerah ini ia mengalami transformasi yang luar biasa. Ia mengaku berasal dari keluarga petani dan pernah tinggal di sebuah kampung nelayan sehingga dalam perutusannya ini ia tidak mengalami kesulitan. Hal yang menyenangkannya adalah ia selalu menggunakan contoh-contoh dalam Kitab Suci tentang hidup sebagai petani dan nelayan untuk menguatkan ketahanan ekonomi umat. Perlahan-lahan ia melihat perubahan pola pikir dan perilaku umat untuk menjadi petani dan nelayan yang berwawasan ekonomi. Baginya, hal yang penting adalah selalu tinggal bersama umat dan mendampingi mereka supaya memahami nilai-nilai injili dalam hidup keseharian mereka.

Saya merasa senang dan menikmati sharing pengalaman misioner beliau. Dia benar-benar merasa bahwa hidup sebagai misionaris adalah sebuah panggilan sehingga ia dapat bertahan selama lebih kurang tiga puluh tahun di tanah misi dan masih mau lanjut lagi di sana. Tuhan Yesus sendiri ketika memanggil para murid perdana, khusus mereka yang berlatar belakang nelayan sederhana mengatakan kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19). Menjadi penjala manusia berarti mengusahakan agar mereka yang menjadi sasaran penginjilan itu harus sejahtera secara jasmani dan rohani. Artinya umat yang menerima Injil itu tidak hanya mengetahui Tanda Salib, Doa Bapa kami dan Salam Maria, tetapi mereka juga memiliki bekal untuk mengisi perut mereka. Bagaimana mungkin mereka memuji Tuhan dengan perut yang kosong? Itu tentu hal yang sulit dalam hidup menggereja.

Pada hari ini kita mendengar kesaksian Rasul Paulus ketika berada di Korintus. Ia mengingat saat awal melayani jemaat di Korintus, di mana dia merasa tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan himat dalam mewartakan kesaksian Allah. Ia mengaku sudah memutuskan untuk tidak mengetahui suatu apa pun dalam jemaat selain Yesus Kristus yang tersalib. Ia datang dengan satu bendera dan dengan satu branding yang jelas yaitu Yesus Kristus yang tersalib. Dalam mewartakan Yesus Kristus tersalib itu, ia mengakui memiliki banyak kelemahan, dengan takut dan gentar. Hal yang menjadi kekuatannya adalah Roh yang diyakininya dapat memperkuat iman mereka. Kita melihat bahwa Paulus sang Misionaris besar ini juga merasakan kesulitan dalam perutusannya. Ia juga mengakui adanya kelemahan-kelemahan dalam bermisi. Namun Roh Kudus menguatkannya untuk terus mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa. Ia tidak mengandalkan kekuatannya tetapi kekuatan dari Tuhan dalam Roh.

Pengalaman Paulus adalah pengalaman Yesus sendiri. Dalam bacaan Injil Lukas, Tuhan Yesus juga menunjukkan diri-Nya sebagai pewarta Injil dengan kuasa Roh. Ketika itu Dia sudah mewartakan Injil kemana-mana dengan kuasa dan wibawa dan membuat tanda-tanda heran. Kali ini Ia kembali ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Sebagai seorang dewasa, Ia mengikuti peribadatan di dalam Sinagoga. Ia membaca nas dari Kitab nabi Yesaya (Yes 61:1-2 dan 58:6) sebagai berikut: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:18-19). Ini boleh dikatakan sebagai visi dan misi dari Yesus di dunia ini. Hal yang menarik perhatian adalah semua mata di dalam Sinagoga tertuju kepada Yesus dan Yesus dengan tegas mengatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 4:21).

Tentu saja semua orang terheran-heran melihat Yesus yang tampil beda saat itu.Ia sebelumnya dikenal sebagai Anak Yusuf si Tukang Kayu, dan Ibunya bernama Maria, kini menjadi seorang Rabi yang disegani karena kuasa dan wibawa-Nya dalam berkata dan tanda-tanda heran yang dilakukan-Nya di hadapan banyak orang di Galilea. Namun orang-orang di Nazaret menutup mata dan hati mereka sehingga menolak bahkan hendak membunuh Dia. Yesus berkata: “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Luk 4:24).

Banyak misionaris juga mengalami hal yang sama dengan Yesus. Mereka ditolak bahkan gugur sebagai martir. Namun janji Yesus sangat berharga: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:11-12). Dalam situasi apapun mereka tetap setia mewartakan Injil sampai tuntas.

Pengalaman Yesus adalah pengalaman Gereja dan pengalaman kita sebagai pribadi. Gereja juga mengalami penolakan dan penganiayaan di mana-mana. Namun Tuhan selalu hadir dan menyertai Gereja yang didirikan-Nya di atas wadas. Sebab itu meskipun Gereja diterpa angin sakal, dihantam dari luar dan dalam, namun Gereja tetap berdiri kokoh. Berbagai skandal yang memalukan Gereja seperti korupsi, pedofilia tidak menghancurkan Gereja karena Tuhan menyertainya hingga akhir zaman. Hal terpenting adalah pertobatan radikal Gereja. Pengalaman Yesus menjadi pengalaman pribadi sebagai pengikut-Nya. Pikirkanlah, di saat-saat kita melayani, orang hanya melihat kelemahan bukan kelebihanmu dalam melayani. Kalau hanya sebuah kesalahan kecil yang anda lakukan maka anda akan langsung hilang dari peredaran. Ketika ada sharing Kitab Suci selalu tidak jalan dengan baik karena orang tidak menghargai sharing sesamanya. Hanya orang luar komunitas yang menghargai sharing pengalaman rohaninya.

Pada hari ini kita belajar untuk tetap mengandalkan Tuhan dalam Roh-Nya yang menjadi kekuatan untuk mewartakan Injil. Apapun situasinya, penolakan yang datang bertubi-tubi tidak harus mematikan api yang membara untuk mewartakan Injil dan membabaskan sesama dari belenggu-belenggu kelaliman. Misi Yesus adalah misi kita saat ini. Biarkanlah orang melihat wajah Yesus dalam karya-karya misi Gereja.

PJ-SDB