Homili 21 Desember 2020

Hari Senin, 21 Desember 2020
Kid. 2:8-14
atau Zef. 3:14-18a
Mzm. 33:2-3,11-12,20-21
Luk. 1:39-45

Berbahagialah ia yang telah percaya

Kita berada di hari-hari terakhir sebelum merayakan hari Raya Natal. Tentu saja kita semua menyiapkan diri secara pribadi atau komunitas untuk merayakan Hari Natal dengan baik. Bahwa pada saat ini kita masih berada di masa pandemi covid-19 bukanlah halangan bagi orang-orang yang beriman untuk tetap setia kepada Tuhan. Salah seorang sosok dalam masa adventus adalah Bunda Maria. Berkaitan dengan Bunda Maria, Santa Theresa dari Kalkuta pernah berkata: “Jika Anda pernah merasa tertekan, panggilah Bunda Maria, ucapkan saja doa sederhana ini: ‘Maria, Bunda Yesus, tolong jadilah ibu bagi saya sekarang.’ Saya yakin, doa ini tidak pernah mengecewakan saya.” Mengapa Theresia dari Kalkuta mengatakan demikian? Salah satu alasan yang tepat adalah karena ia percaya kepada Tuhan dan menjadikan Maria sebagai salah satu perantara doa kepada Tuhan. Kini Theresia dari Kalkuta juga menjadi seorang perantara doa kita kepada Tuhan.

Kita mendengar kelanjutan Injil Lukas tentang panggilan Maria menjadi ibu Yesus. Maria tidak tinggal diam atau puas dengan khabar sukacita dari Malaikat Gabriel. Ia sudah mendengar bukti kebesaran Tuhan bagi Elizabeth saudaranya yang dianggap mandul tetapi ternyata sudah sedang mengandung enam bulan. Maria yang sedang hamil muda itu berani meninggalkan Nazareth menuju Ein Karem sejauh lebih kurang 145 km dan ditempuh selama tiga jam dengan kendaraan beroda empat. Namun kita dapat membayangkan pada masa hidup Maria, butuh beberapa hari untuk mencapai kampung halaman Yohanes Pembaptis. Di tempat inilah, tinggalah Elizabeth dan Zakharias, orang tua Yohanes Pembaptis.

Dikisahkan bahwa Maria tiba di Ein Karem, kota di wialay Yehuda ini. Ia masuk ke rumah Zakharia dan menyalami Elizabeth. Kita melihat bagaimana kultur patriarkal sangat kental di mana laki-laki selalu menjadi nomor satu yang disebut namanya baru menyusul nama perempuan. Pertemuan dua orang ibu, bersaudara dengan sejarah hidup masing-masing dan dua orang bayi dalam Rahim mereka diliputi suasana penuh sukacita. Sukacita terjadi karena ada kuasa Roh Kudus yang menaungi mereka. Sebab itu, ketika Elizabeth mendengar salam dari Maria terdapat sukacita yang begitu besar, sebab bayi di dalam kandungan Elizabeth melonjak kegirangan. Elizabeth bersukacita dan penuh dengan Roh Kudus karena mendapat kunjungan Maria yang mengandung dari Roh Kudus. Yohanes Pembaptis bersukacita karena bertemu dengan Mesias yang diurapi Roh Kudus. Dialah yang akan menyiapkan kedatangan Yesus sang Mesias yang masih berada dalam rahim Maria.

Elizabeth memberi kesaksian iman sebagai tanda sukacitanya dengan berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:42-45). Ada dua hal yang muncul dalam pernyataan Elizabeth tentang Bunda Maria. Pertama, Maria penuh dengan Roh Kudus dan membawa sukacita sebagai buah Roh Kudus kepada keluarga Elizabeth. Berkaitan dengan buah Roh Kudus, St. Paulus berkata: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Gal 5: 22-23). Kedua, Maria memiliki iman. Ia menunjukkan imannya kepada Tuhan ketika menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel dengan berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38).

Menjelang perayaan natal, hati penuh sukacita perlu kita miliki. Natal itu sebuah perayaan penuh sukacita. Dari bacaan pertama, kita mendapat ekspresi sukacita dari orang beriman. Di dalam Kitab Kidung Agung, kita membaca: “Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit.” (Kid 2:8). Bahasa-bahasa bernuansa puitis dan romantis menggambarkan sukacita yang Tuhan berikan kepada manusia. Orang mesti menyadari bahwa tujuan hidupnya di dunia ini adalah menjadi pribadi yang bahagia dan penuh sukacita. Perhatikan ekspresi yang digambarkan dalam perikop kita: “Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! Merpatiku di celah-celah batu, di persembunyian lereng-lereng gunung, perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu dan elok wajahmu!” (Kid 2:10-14). Hal yang sama juga diwartakan oleh para nabi seperti Zefanya yang mengajak bersukacita karena Tuhan sebagai raja ada di tengah-tengah kita.

Apakah anda bahagia dalam hidupmu? Apakah ada sukacita dalam hidupmu? Anda dapat memiliki rasa bahagia atau perasaan sukacita kalau anda percaya kepada Tuhan dan menerima kehendak-Nya seperti Maria, ibu Yesus. Dialah satu-satunya manusia yang mengenal Yesus secara pribadi dan lebih mendalam dari pada manusia yang lain. Hari ini jangan lupa berbahagia dan bersukacita karena Tuhan Yesus sedang datang ke dalam hidup kita. Nantikanlah Dia dengan bahagia dan sukacita.

PJ-SDB