Homili 10 Februari 2021

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-V
Peringatan Wajib Skolastika
Kej. 2:4b-9,15-17;
Mzm. 104:1-2a,27-28,29b-30;
Mrk. 7:14-23

Tuhan tidak menghendaki kenajisan

Kita semua mengenal kata najis. Kata ini dalam Bahasa Inggris disebut unclean atau impure yang sama-sama berarti kotor, tidak bersih dan tidak murni. Dengan memperhatikan kata-kata ini maka kita pasti mengasosiasikannya secara negatif karena makna kata najis ini menakutkan kita. Artinya kata ini merujuk pada sesuatu seperti makanan atau minuman yang berbahaya bagi kesehatan jasmani bahkan rohani kita. Dengan demikian butuh sikap waspada terhadap makanan dan minuman. Kata najis juga bisa berkaitan dengan perbuatan-perbuatan pribadi yang bisa mengotori diri dan berdampak pada orang lain. Sejak zaman dahulu misalnya pada zaman Tuhan Yesus, kata najis menjadi kata yang dipakai untuk melawan Yesus yang seolah membiarkan para murid-Nya menajiskan diri dan orang lain. Yesus biasanya tegas menanggapi opini kaum Farisi dan para ahli Taurat yang selalu bersifat legalisi dengan berpikir bahwa orang lain menajiskan dirinya.

Kita semua mendengar kisah Injil yang sangat menarik perhatian pada hari ini. Penginjil Markus mengisahkan bahwa pada suatu hari Ia memanggil banyak orang dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Mrk 7:14-15). Pikiran manusiawi kita selalu mengarahkan kita untuk berpikir bahwa apapun yang masuk ke dalam tubuh kita itu menajiskan. Yesus mengatakan bahwa tidaklah demikian. Apapun dari luar tidak akan menajiskan. Justru apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskan. Yesus mengoreksi cara pikir kita yang sangat manusiawi dengan cara pikir yang lebih ilahi.

Selanjutnya Yesus menjelaskan perkataan-Nya ini kepada para murid-Nya tentang makna perumpamaan-Nya ini. Sebelumnya para murid-Nya juga bingung dengan perkataan Yesus ini. Ia lalu berkata: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.” (Mrk 7:18-19). Perkataan Yesus ini merupakan suatu hal yang baru bagi mereka. Sebelumnya mereka juga berhenti pada perkataan najis. Tetapi Yesus menunjukkan kuasa ilahi-Nya dengan mengatakan bahwa semua makanan itu halal. Saya yakin ada yang langsung berpikiri tentang daging babi dan daging anjing alias ‘erwe’ meskipun saya secara pribadi marah kalau orang membunuh anjing untuk ‘erwe’

Ini juga menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengedukasi para murid-Nya sekaligus membantu mereka untuk membuat evaluasi diri mereka. Yesus berkata: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Mrk 7: 20-23). Para murid Yesus mendapatkan sebuah titik terang tentang hal yang benar-benar bersifat menajiskan mereka yakni semua yang keluar dari dalam diri manusia. Kata-kata yang keluar dari mulut kita menggambarkan situasi hati kita. Orang langsung mengerti apakah kita adalah orang baik atau jahat. Dan Yesus memberikan contoh nyata hal-hal yang menajiskan hidup kita. Di satu pihak Yesus mengoreksi cara pandang murid-murid-Nya, di lain pihak Yesus mengoreksi pikiran negatif yang sudah sedang dialami para murid-Nya dan orang kebanyakan saat itu. Tuhan tidak menghendaki kenajisan manusia. Dia menghendaki kekudusan manusia.

Mengapa Tuhan menghendaki kekudusan kita? Dalam bacaan pertama, Tuhan Allah memiliki rencana yang mulia bagi manusia. Manusia sudah diciptakan sesuai dengan wajah Allah sendiri. Kita mendapat kesaksian dari Kitab Kejadian: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej 2:7). Tuhan bahkan menyiapkan taman Eden bagi manusia ciptaan yang mulia ini. Manusia bertugas untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden bagi hidup mereka. Mereka juga diingatkan Tuhan untuk patuh kepada aturan yang ditetapkan demi kebaikan manusia pertama. Di sini kita mendapat gambaran bahwa Tuhan memang menghendaki kekudusan manusia. Manusia hidup selaras dengan kehendak Tuhan sendiri.

St. Skolastika, Doakanlah kami. Amen

PJ-SDB