Food For Thought: Jangan Sombong

Jangan sombong!

Pada malam hari ini saya membaca kembali beberapa file yang pernah saya tulis tanpa posting di website saya. Saya menemukan dua kutipan menarik tentang bahaya kesombongan. Kutipan pertama dari seorang jurnalis berkebangsaan Prancis yakni Antoine Rivarol (1753-1801). Beliau pernah berkata: “Orang yang sederhana memiliki segalanya untuk diraih, dan orang yang sombong kehilangan segalanya; karena kesopanan selalu berurusan dengan kemurahan hati, dan kesombongan dengan iri hati.” Perkataan ini masih sangat aktual hingga saat ini. Perkataan ‘merendahkan diri untuk melayani lebih sungguh’ hanya tinggal semboyan. Mengapa demikian? Sebab orang melayani pun ujung-ujungnya duit dan jempol. Tanpa duit dan jempol orang merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya.

Kita selalu menemukan pribadi-pribadi seperti ini. Orang sederhana memiliki keunggulan dalam hal melayani tanpa ada beban apapun. Mereka melayani karena melayani. Karena itu mereka memiliki segalanya untuk diraih. Mereka hidup sederhana, sopan dan murah hati. Sebaliknya orang sombong kehilangan segalanya. Mereka kehilangan teman dan kehilangan rejeki. Iri hati mendominasi hidup pribadi mereka.

Kutipan kedua dari seorang penulis Inggris bernama William Hazlitt (1778-1830). Beliau pernah berkata: “Orang yang benar-benar sombong tidak mengenal atasan atau bawahan. Yang pertama tidak dia akui, yang terakhir dia tidak pedulikan.” Beberapa hari terakhir muncul di media sosial film pendek. Sebenarnya film pendek meniru negara-negara tetangga dan temanya tetap yang sama yakni bos besar berpura-pura saja untuk bertemu dengan lawan-lawannya yang sombong. Meskipun hanya tiruan dari negara sebelah tetapi bagi saya yang terpenting adalah nilai edukasinya. Orang sombong itu tidak mengenal atasan atau bawahan. Biasanya dia tidak akan mengakui atasannya dan tidak mempedulikannya.

Perkataan dua sosok ini sangatlah menginspirasi kita. Kita harus mengakui bahwa selagi kita masih bernafas maka rasa sombong itu akan tetap berada bersama kita. Ada orang mengatakan bahwa lima belas menit setelah meninggal dunia, kesombongan orang baru bisa hilang. Entahlah, yang jelas sepanjang hidup orang pasti pernah sombong.

Tuhan Yesus tidak mengajar kita untuk menjadi sombong. Ia mengajarkan semangat kerendahan hati dan kelembutan hati dalam melayani sesama. Mari kita renungkan perkataan-Nya ini: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:11-12). Dalam masa prapaskah ini mari kita belajar untuk mengikuti jejak Kristus. Dia yang lemah lembut dan rendah hati. Dia adalah Anak Allah yang rela menjadi pelayan bagi manusia pendosa.

Apa untungnya anda menjadi sombong di hadapan Tuhan dan sesama?

PJ-SDB