Homili Hari Minggu Paskah ke-IV/C – 2022

HARI MINGGU PASKAH IV/C
Hari Minggu Panggilan
Kis. 13:14,43-52
Mzm. 100:2,3,5
Why. 7:9,14b-17
Yoh. 10:27-30

Menjadi Gembala berbau domba

Pada tanggal 28 Maret 2013, tepatnya dua minggu setelah Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus ke 266 di dalam Gereja Katolik, dengan nama pausnya Fransiskus, beliau mengadakan pertemuan dengan para imam dari Prancis yang sedang belajar di Roma. Pada saat itu Paus Fransiskus mengatakan: “Saya berharap kalian menjadi gembala berbau domba”. Ia melanjutkan perkataannya: “Seorang imam adalah seorang yang mampu hidup, tertawa dengan umat dan tetap berkomunikasi dengan mereka.” Perkataan Paus Fransiskus ini memang sederhana tetap sangat bermakna dan kontekstual. Perkataan Paus Fransiskus ini merupakan usaha untuk mengejawantah konsep gembala baik di dalam hidup para gembala di dalam Gereja setiap hari. Seorang imam selalu disapa sebagai pastor oleh umat dan sapaan ini melekat pada jati dirinya sebagai imam bagi umat yang tidak lain adalah domba di dalam gereja.

Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini mengatakan kepada orang banyak bahwa diri-Nya adalah seorang gembala yang baik. Karena itu ia berkata: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” (Yoh 10:27). Seorang gembala yang baik atau dalam bahasanya Paus Fransiskus, gembala berbau domba, mengenal domba-dombanya dari dekat. Pengenalan yang dalam dan kedekatan dengan domba ini berdampak pada suatu bentuk pertobatan radikal dari para domba. Pertobatan yang saya maksudkan adalah perubahan kiblat hidup para domba yang mendengar suara gembalanya dan mengikuti sang gembala. Sosok gembala selalu yang terbaik karena ia mengenal domba-dombanya. Mengenal itu berarti mengasihi dengan hati yang tidak terbagi.

Bukti kasih yang agung dari sang gembala digambarkan dalam kata-kata ini: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yoh 10:28). Yesus sebagai gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya. Pengenalan yang dalam dilakukan dengan memberikan hidup kekal kepada para domba, menjaga mereka dari kebinasaan, mereka aka naman karena Dia adalah satu-satunya pelindung. Di sinilah kualitas seorang gembala masa kini harus menjadi nyata di dalam Gereja: memberikan diri secara total, menyelamatkan umat dan membawa mereka kepada keabadian. Para gembala masa kini harus menyadari panggilan dan pemberian diri yang total atau tuntas kepada Gereja apapun situasinya, tanpa syarat. Yesus dapat melakukan sifat kegembalaan-Nya karena persekutuan-Nya dengan Bapa di surga. Bapa yang memberikan penugasan kepada Putera untuk menyelamatkan semua orang tanpa syarat apapun.

Pada hari ini kita merayakan hari Minggu Paskah ke-IV atau dikenal dengan sebutan lain Hari Minggu Gembala Baik atau Hari Minggu Panggilan. Banyak paroki menjadikan kesempatan ini untuk merenung, membicarakan dan melakukan aksi panggilan. Anak-anak diberikan gaun-gaun sebagai gembala: Paus, uskup dan imam. Ada juga yang memerankan sosok frater, bruder dan suster. Memang lucu melihat anak-anak kecil dengan gaun-gaun seperti ini. Harapannya tentu saja di masa depan ada di antara mereka yang ditarik, dipanggil untuk menjadi gembala, biarawan dan biarawati.

Pada hari Doa Panggilan sedunia ke-59 ini, paus Fransiskus memberikan sebuah tema yang sangat kontekstual. Temanya adalah: “Dipanggil untuk membangun keluarga manusia”. Saya mengatakan sangat kontekstual karena pesan paus ini sejalan dengan sinode yang sedang dilakukan di dalam gereja dan sedang terjadi perang dan penindasan di belahan dunia ini. Dalam hal ini panggilan memiliki makna yang lebih luas yakni panggilan dalam konteks Gereja Sinode, Gereja yang mendengar Tuhan dan dunia. Pesan Paus ini memiliki makna yang dalam dan memberi dorongan kepada kita semua untuk hidup menggereja yang lebih baik lagi.

Ada beberapa pokok pikiran Paus yang tercermin di dalam pesannya ini:

Pertama, Kita semua dipanggil untuk menjadi pelaku misi gereja secara bersama-sama. Paus mengharapkan sebuah kerja sama yang terus menerus dari semua anggota Gereja yang sudah dibaptis sebagai agen evangelisasi. Mentalitas klerikalisme tidak ada tempatnya di dalam Gereja masa kini. Misi Gereja adalah tugas kita bersama.

Kedua, Kita semua dipanggil untuk menjadi penjaga satu sama lain dan ciptaan. Panggilan bukanlah dalam konteks berjubah dan tidak berjubah. Panggilan di sini berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab bersama dalam menjalani misi Kristus. Sifat yang perlu ditunjukan adalah mendamaikan dan mempersatukan semua orang. Gereja haruslah menjadi satu keluarga yang memperhatikan segala ciptaan yang ada di atas bumi.

Ketiga, Kita semua dipanggil untuk menyambut tatapan Tuhan. Tuhan memanggil kita secara pribadi, Dia yang selu menyentuh inti hidup kita yang terdalam. Sikap batin yang dapat kita bangun bersama adalah saling mendengar, memumpuk keteladanan baik dalam hidup bersama. Sabda Tuhan tetaplah menjadi lampu bagi langkah kaki kita dalam beraksi untuk menolong sesama di dalam Gereja.

Keempat, Kita semua dipanggil untuk menanggapi tatapan Tuhan. Tuhan memandang manusia dengan penuh kasih dan bersandar pada kita. Dia tidak pernah memadang kita dengan sinis. Kita melihat sesama dengan mata Tuhan bukan dengan mata kita. Melihat berarti mengasihi.

Kelima, Kita terpanggil untuk membangun persaudaraan. Tuhan Yesus sendiri mendoakan kita para murid-Nya: ‘Ut omnes unum sint’  atau ἵνα πάντες ἓν ὦσιν (ina pantes hen ōsin) yang berarti supaya mereka semua menjadi satu (Yoh 17:21). Panggilan menjadi sempurna dalam membangun persaudaraan sejati di dalam keluarga, komunitas dan masyarakat kita.

Ini adalah kelima poin penting pesan Paus Fransiskus pada hari Minggu Panggilan tahun 2022 ini. Pesan Paus ini semakin menyadarkan kita untuk memahami makna panggilan bukan sebagai milik kami kaum berjubah. Melayani Gereja Kristus adalah panggilan dan penugasan kita bersama. Kesadaran ini mambentu kita menjadi gembala berbau domba sesuai profesi kita masing-masing. Kita melayani dan menjadikan Gereja tetap hidup. Selamat hari Minggu Gembala baik, doakanlah kami para gembalamu.

P. John Laba, SDB