Homili 1 Oktober 2022

Pesta St. Teresia dr Kanak-kanak Yesus
Yes. 66:10-14c atau
1 Kor. 12:31-13:13
Mzm. 131:1,2,3
Mat. 18:1-5

Dengan hati seorang anak kecil

Pada hari ini kita mengenang sosok santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Beliau dikenal sebagai Pujangga Gereja dan Pelindung Misi. Kita juga bersama-sama memulai bulan Oktober. Bulan Oktober dikenal sebagai bulan Rosario. Tentu saja banyak di antara kita yang memandang sosok santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dan sosok Bunda Maria Ratu Rosario yang sangat menginspirasi kehidupan kita. KBG dan lingkungan-lingkungan akan memulai rosario bersama, merencanaka ziarah ke tempat-tempatziarah untuk memghormati Bunda Maria.

Dalam homili hari ini, saya akan membawa kalian semua untuk memandang sosok santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Darinya kita belajar banyak hal, di antaranya:

Pertama, Kita dibentuk untuk menjadi diri sendiri di hadirat Tuhan. Santa Theresia memiliki sebuah doa yang indah seperti ini: “Tuhan Yesus Kristus, bantulah saya untuk menjalani hidup ini dengan mempelajari apa yang Engkau kehendaki bagi saya dan menjadi pribadi yang Engkau kehendaki.” Doa ini menunjukkan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Bukan apa yang kita kehendaki melainkan apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Apakah kita memiliki hati sebagai anak yang polos yang bisa berpasrah kepada Tuhan dan menjadi diri sendiri?

Kedua, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus memiliki cinta yang besar kepada Tuhan Yesus di dalam Sakramen Mahakudus. Ia pernah memandang Sakramen Mahakudus dan berkata: “Di sini, dalam hosti yang mungil ini, kutemukan buah kasih.” Dia sendiri mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan Yesus ketika menerima komuni pertama dengan berkata: “Lebih dari segalanya, sebagai pelayan, aku harus tidak memperhatikan kepuasanku sendiri, tapi kepuasan-Nya.” Di kesempatan lain santa Theresia berkata: “Aku tak dapat menerima komuni kudus sesering yang aku inginkan, tetapi Tuhan, Engkau penuh kuasa: tinggal di dalam aku sebagaimana di dalam tabernakel.” Sakramen Ekaristi adalah tanda untuk melihat buah kasih sejati yaitu Yesus Kristus.

Ketiga, Santa Theresia sebagai pelindung misi meskipun dia tidak pernah pergi ke tanah misi. Dia justru mendoakan misi. Ia pernah berkata: “Tujuan utama dari doa-doaku adalah untuk menginjili para penginjil.” Di tempat lain ia berkata: “Aku tidak akan berhenti mendoakan para misionaris di segala penjuru dunia. Ini adalah panggilanku, kerasulanku.”

Keempat, Devosi kepada Bunda Maria. Santa Theresia berkata: “Perawan terberkati adalah Bundaku tersayang, dan seorang anak ingin selalu menyerupai ibunya.” Dia juga menulis: “Jangan takut bahwa engkau begitu mencintai perawan kudus, engkau tak pernah cukup mencintainya dan Yesus akan senang karena ia adalah ibu-Nya juga.”

Bagi saya keempat hal ini hanya Sebagian kecil dari pengalaman iman santa Theresia yang dapat memperkaya pengalaman iman kita. Dia tetaplah seorang kudus yang suci hatinya dan memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Sambil memandangnya, kita belajar untuk bertobat dengan memiliki hati laksana seorang anak kecil sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 18:3). Kita juga belajar menjadi rendah hati seperti dikatakan Yesus: “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:4-5).

Mari kita mengawali bulan ini dengan berdevosi kepada Bunda Maria. Meminjam perkataan Paus Fransiskus: “Melalui perantaraan Bunda Maria, semoga Allah menjadikan kita alat perdamaian, dan ini dimulai di rumah, dalam keluarga kita masing-masing sepanjang masa.” Bunda Maria Ratu Rosario, doakanlah kami. Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB