Food For Thought: Living Hope

Living Hope (Harapan yang hidup)

“Living Hope” (harapan yang hidup) adalah sebuah lagu yang digubah oleh Phil Wickham, seorang musisi Kristen kontemporer dari Amerika. Lagu ini dirilis sebagai singel utama dari album Living Hope pada tanggal 30 Maret 2018. Lagu ini kemudian menjadi sangat popular dalam siaran radio-radio Kristen pada tanggal 11 Mei 2018. Lagu ini mencapai puncaknya di nomor urut ke-10 di tangga lagu Hot Christian Songs Amerika Serikat, dan menjadi singel 10 besar ketiganya. Phil Wickham menulis lagu ini bersama Brian Johnson, dan berkolaborasi dengan Ed Cash, dan Jonathan Smith dalam pembuatan lagunya.

Pada hari Jumat Agung pagi ini, saya mendapat kiriman lagu ini dari salah seorang sahabat saya. Link lagunya adalah: https://youtu.be/u-1fwZtKJSM?si=roT6_wHW0pYAvh1J Saya tertarik untuk merenung bagian dari lagu ini: “Hallelujah, praise the one who set me free. Hallelujah, death has lost its grip on me. You have broken every chain. There’s salvation in your name. Jesus Christ, my living hope” (Haleluya, pujilah Dia yang telah membebaskan aku. Haleluya, kematian telah kehilangan cengkeramannya padaku. Engkau telah meremukan setiap belenggu. Ada keselamatan dalam nama-Mu. Yesus Kristus, harapan hidupku).

Pada hari Jumat Agung ini kita merenung sosok Yesus sebagai harapan hidup kita. Mata kita semua tertuju kepada Salib. Ada sebuah perkataan yang bagus: In Cruce Salus, pada salib ada keselamatan. Pantaslah kita memuji Yesus yang tersalib. Dialah satu-satunya yang membebaskan kita dari belenggu dosa dan maut sehingga tidak ada lagi kematian karena Dialah kehidupan dan hanya dalam nama-Nya ada keselamatan. Benarlah perkataan ini: “The greatest symbol of Love is not the “Heart” but the CROSS. why? because the heart can always stop beating, but the man on the cross will never stop LOVING.” (Simbol terbesar dari Kasih bukanlah “jantung” melainkan SALIB. Mengapa? Karena jantung selalu bisa berhenti berdetak, tetapi Dia yang berada di atas kayu salib itu tidak akan pernah berhenti MENCINTAI).

Hari Jumat Agung menjadi waktu istimewa bagi kita untuk mengalami kembali pembebasan dari belenggu dosa dan merasakan kembali keselamatan dalam nama Yesus. Tuhan Yesus melakukan semua itu karena “Ia mengasihi orang-orang yang menjadi milik-Nya di dunia, dan Ia tetap mengasihi mereka sampai penghabisan.” (Yoh 13:1). Tuhan Yesus melakukan semuanya itu karena kasih sampai tuntas. Kasih tanpa perhitungan apapun. Dengan memandang Salib, kita semakin percaya dan mengalami kasih Kristus. Sebuah kasih penuh pengorbanan. Ia sendiri berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13).

Doa kita pada hari di depan Salib Kristus adalah: “Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia”. Dia juga menebus kita karena kasih. Saya mengakhiri refleksi ini dengan kembali mengutip satu bait dari lagu Living Hope: “Who could imagine so great a mercy? What heart could fathom such boundless grace? The God of ages stepped down from glory. To wear my sin and bear my shame. The cross has spoken, I am forgiven. The king of kings calls me His own. Beautiful savior, I’m yours forever. Jesus Christ, my living hope” (Siapa yang dapat membayangkan rahmat yang begitu besar? Hati manakah yang dapat memahami kasih karunia yang tak terbatas itu? Allah segala zaman turun dari kemuliaan, untuk menanggung dosaku dan menanggung aibku. Salib telah berbicara, saya diampuni, Raja segala raja memanggilku milik-Nya. Juruselamat yang indah, aku milikmu selamanya. Yesus Kristus, pengharapanku yang hidup). Terima kasih Tuhan

Yesus, Engkau adalah harapan hidup kami.

P. John Laba, SDB