Hari Selasa, Pekan XXIVA
PW SP Maria Berdukacita
Ibr. 5:7-9
Mzm. 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20
Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35
Duka sang Bunda
Ada tiga kutipan inspiratif tentang Bunda Maria yang menarik perhatian saya pada hari ini. Pertama dari santo Padre Pio yang berkata: “Marilah kita mengikat diri kita erat-erat pada Hati yang Berduka dari Bunda Surgawi kita dan merenungkan kesedihan-Nya yang tak terbatas serta betapa berharganya jiwa kita.” Kedua, Santo Yohanes Paulus II pernah berkata: “Dari Maria kita belajar untuk menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan dalam segala hal. Dari Maria kita belajar untuk percaya bahkan ketika semua harapan tampaknya sirna. Dari Maria kita belajar untuk mengasihi Kristus, Putranya dan Putra Allah!” Ketiga, Santa Teresa dari Kalkuta (Bunda Teresa) berkata: “Maria adalah orang yang memiliki pemahaman terdalam tentang keagungan dan kebaikan Tuhan, dan pemahaman yang paling mendalam tentang kerendahan hatinya sendiri, dan itulah sebabnya Tuhan memandanginya dan memberkatinya.” Ketiga kutipan perkataan orang kudus modern ini turut mengantar kita untuk semakin dekat dengan Bunda Maria, terutama dia yang berduka cita pada har ini karena cinta tiada batasnya kepada kita.
Pada hari ini tanggal 15 September, kita merayakan peringatan Bunda Maria yang Berdukacita (Mater Dolorosa). Peringatan ini sekaligus untuk menghormati penderitaan keibuan Maria yang mendalam dan persekutuan rohaninya yang mendalam dengan Yesus Kristus selama penderitaan dan kematian-Nya.
Nah, muncul sebuah pertanyaan menarik, mengapa kita merayakan peringatan ini secara istimewa? Di dalam bulan September ini, Bunda Maria tetaplah istimewa. Pada tanggal 8 September kita merayakan kelahirannya. Pada tanggal Dua belas September atau empat hari setelah merayakan kelahirannya, kita merayakan pesta nama Maria. Dan pada hari ini, sehari setelah kita merayakan Pesta Salib Suci, kita merayakan peringatan Bunda Maria yang berdukacita. Perayaan ini bertujuan untuk mengingat peran Maria dalam penebusan: Maria menderita di dalam hatinya saat berjalan di samping Putranya, mempersembahkan kesedihan keibuannya sendiri kepada Tuhan demi keselamatan dunia. Duka cita bunda Maria, hendaklah menjadi duka yang membawa sukacita kita.
Kita juga merenungkan tujuh dukacita dari Bunda Maria. Hari ini mengenang tujuh penderitaan besar dalam kehidupan Maria, dimulai dari nubuat Simeon bahwa “pedang akan menembus jiwamu” hingga penguburan Yesus. Lebih jelas ada tujuh dukacita Maria yakni: Nubuat Santo Simeon, Yesus Dilarikan ke Mesir, Hilangnya Yesus di Bait Allah, Maria bertemu dengan Yesus sewaktu Ia akan Wafat, Wafat Yesus, Lambung Yesus ditikam, Yesus Diturunkan dari Salib dan Yesus Dikuburkan. Ini adalah dukacita Maria, yang harusnya menjadi duka cita kita dalam peziarahan bersama Yesus. Dukacita Maria sesungguhnya juga adalah duka cita kita .
Kita menemukan penghiburan dalam dukacita. Karena Maria mengalami penderitaan manusiawi yang mendalam dan berdiri teguh di kaki salib, ia memahami tragedi, kesulitan, dan kesedihan manusia, bertindak sebagai perantara dan sumber penghiburan bagi umat beriman.
Pada hari ini kita terpanggil untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Butuh transformasi dalam hidup pribadi kita. Duka cita Maria ikut membuka pintu keselamatan bagi kita. Maka apakah kita juga menerima semua penderitaan kita untuk melengkapi penderitaan Kristus yang masih kurang di dalam Gereja? Atau kita mengeluh saja ketika mengalami penderitaan tertentu dalam hidup. Ingat, Bunda Maria tidak pernah mengeluh karena menderita.
P. John Laba, SDB