Homili 8 Oktober 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXVIIA
Gal 3:1-5
Luk 1:69-70.71-72.73-74
Luk 11: 5-13

Yesus adalah segalanya bagiku

Saya tetap mengingat seorang pemuda ketika ia membagikan pengalaman pertobatannya. Ia mengaku pernah tenggelam dalam lumpur dosa yang begitu kelam dalam waktu yang lama. Sambil menikmati nikmatnya lumpur yang kelam itu ia tersadar ketika ia mendapat sebuah gambar Hati Kudus Yesus, di mana ada tulisan: “Aku mengasihimu”. Dia merasa seperti ada angin sepoi basa yang bertiup di sekitarnya dan tanpa sadar air matanya mengalir deras. Ia mau keluar dari lumpur kelam dan berusaha untuk membersihkan dirinya dalam sakramen tobat. Kini ia lahir baru dan menjadi pilar karya OMK di parokinya.

Kadang-kadang kita mudah mengandalkan diri sendiri, bukan mengandalkan Tuhan. Mungkin sadar atau tidak sadar kita menjadi sangat legalis dan mengabaikan Tuhan Yesus dan sesama yang ada di sekitar kita. Kita lebih banyak mengandalkan diri dari pada mengandalkan Tuhan. Santo Paulus ketika menulis kepada jemaat di Galatia, ia dengan keras mengatakan ‘Hai orang-orang Galatia yang bodoh’. Mengapa? Karena orang-orang Galatia tidak mempesonakan Yesus tetapi mempesonakan dirinya sendiri. Padahal Tuhan Yesus sudah disalibkan dan menjadi model bagi kehidupan mereka sesuai pewartaan Paulus kepada mereka. Ini adalah sebuah teguran yang keras kepada jemaat di Galatia dan kita saat ini. Seharusnya Tuhan Yesus menjadi segala-galanya karena Ia sudah menderita di atas kayu Salib untuk keselamatan kita. Di sini, Santo Paulus mau memusatkan perhatian jemaat di Galatia dan kita semua yang mendengar Sabda pada hari ini untuk kembali kepada Kristus tersalib. Tuhan Yesus sendiri telah digambarkan begitu jelas dan terbuka sebagai yang disalibkan di depan mata mereka. Maka apapun situasinya mereka harus tetap memandang Salib karena pada Salib ada keselamatan.

Santo Paulus juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu berkaitan dengan iman dan usaha manusia. Pertanyaannya bernada retoris seperti, bagaimana kamu menerima Roh Kudus? Apakah dengan menaati hukum Taurat ataukah mendengarkan pesan Injil dengan iman? Setelah memulai dengan Roh, apakah kalian sekarang mencoba menyelesaikan kedewasaan rohani atau kesempurnaan kalian dengan usaha manusiawi kalian sendiri (daging)?

Selanjutnya, Paulus menekankan bahwa hidup Kristiani itu termasuk pengudusan diri setiap hari, pertumbuhan iman dan mukjizat terus dipertahankan dengan cara yang persis sama seperti pada saat dimulai, melalui Roh Kudus yang terus menerus dan penuh kasih karunia yang diterima melalui iman bukan semata-mata melalui usaha manusia.

Perkataan Santo Paulus ini membuka wawasan kita untuk mengandalkan Tuhan. Maka kalau saja kita tersesat, tenggelam dalam lumpur dosa maka kita perlu sadar untuk kembali memandang Dia yang tersalib karena Dia tidak akan berhenti mencintai kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk tetap mengandalkan Tuhan?

Santo Lukas dalam Injil mengajak kita semua untuk mendekati Allah dengan iman yang teguh dan tanpa merasa malu akan sifat-Nya sebagai Bapa yang murah hati dan penuh kasih, dan senang menjawabi doa kita. Tentu saja di pihak kita, perlu doa yang terus menerus, tanpa henti. Dari bacaan Injil hari ini, kita semua dibantu untuk percaya bahwa Tuhan itu tidak pernah merasa terganggu ketika kita berdoa, hanya kita saja yang merasa terganggu. Kita tidak pernah menjadi beban bagi Tuhan, apapun waktunya atau seberat apapun permohonan kita pada saat berdoa.

Doa itu dapat mengubah segala sesuatu. Ketekunan dalam berdoa bukanlah untuk memaksa kehendak Tuhan agar Ia mengikuti kehendak kita, melainkan untuk menyelaraskan hati, ketergantungan penuh dan karakter kita dengan kebaikan Tuhan sendiri. Tuhan hanya mengharapkan dari kita supaya kita tetap membawa kebutuhan hidup setiap hari apa adanya, jujur dan terus-menerus kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia memberikan apa yang benar-benar terbaik yang berujung pada kehadiran Roh Kudus yang memberdayakan. Kuncinya adalah tetap tekun dalam doa karena Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Tuhan tidak memberikan apa yang kita sukai karena belum tentu kita butuhkan dalam hidup.

Mari kita semakin mengandalkan Tuhan. Tuhan Yesus adalah segalanya bagi anda dan saya.

P. John Laba, SDB