Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXVIIA
Gal 3:22-29
Mzm 105: 2-3.4-5. 6-7
Luk 11:27-28
Menyikapi sebuah pujian
Siapa di antara kita yang tidak memberi atau menerima pujian? Saya memastikan sendiri bahwa dengan sadar atau tidak sadar, kita semua sudah memberi pujian, menerima pujian dan mengharapkan selalu ada pujian. Hal ini memang sangat manusiawi namun merupakan bagian dari hidup kita. Marshall B Rosenberg, seorang Psikolog dari Amerika, pernah berkata: “Pujian dan sanjungan, di sisi lain, merupakan ekspresi tragis dari kebutuhan lain yang telah terpenuhi.” Tentu saja maksud Rosenberg adalah bahwa pujian dan sanjungan itu bentuk lain dari pemberian nilai dan bukanlah menunjukkan sebuah relasi yang tulus. Ketika kita memuji seseorang kita menempatkan diri sebagai hakim bagi sesama sehingga dapat mengubah perilaku menjadi sistem yang didorong oleh imabalan eksternal semata bukan nilai-niali intrinsik.
Pada hari ini kita mendengar Kisah Yesus dalam Injil Lukas (Luk 11:27-28) yang singat dan sangat bermakna. Tuhan Yesus sedang mengajar orang banyak. Ada seorang wanita yang berseru: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!”. Seruan semacam ini memang sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi untuk memuji orang tua, terutama ibu yang melahirkan seorang anak. Kalau kita memperhatikan sosok Bunda Maria, dia tidak menghendaki pujian dari siapapun. Dia selalu menyimpan segala perkara dalam hatinya. Memang malaikat Gabriel memberi pujian kepadanya, Elizabeth memberi pujian kepadanya namun Bunda Maria mengarahkan pujian itu kepada Allah seperti dalam Magnifikat.
Tuhan Yesus sendiri tidak mudah termakan oleh pujian. Dia mengubah mindset orang banyak untuk menyikapi pujian dan sanjungan seorang wanita itu dengan berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memliharanya” Perkataan Yesus ini sekaligus mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati dan kebesaran rohani itu berasal dari kesediaan hati untuk mendengar dan menaati atau memeliharsa Sabda Allah. Jadi keluarga baru terbentuk bukan dari ikatan biologis atau keluarga dengan Yesus melainkan mendengar dan memelihara Sabda.
Dalam hidup setiap hari, mudah sekali orang tergoda untuk mendapat pujian dan sanjungan. We are nothing! Pujian dan sanjungan justru membuat kita menjadi hakim bagi sesama. Mari kita belajar dari Bunda Maria yang mengarahakan pujian dan sanjungan kepada Tuhan. Kita belajar dari Tuhan Yesus yang mengubah pola pikir kita untuk memuji Tuhan, dengan mendengar dan memelihara Sabda dalam hidup kita. Dengan demikian, kita tentu saja menjadi anak-anak Allah karena iman kepada-Nya.
P. John Laba, SDB