Hari Sabtu, Pekan Biasa keXXVIIIA
Ef 1:11-14
Mzm 33:1-2.4-5.12-13
Luk 12:1-7
Kemartiran Seorang Misionaris
Adalah Beato Stanley Rother. Beliau adalah seorang imam Katolik, misionaris asal Amerika Serikat. Ia memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus dan dibunuh karena imannya kepada Kristus. Sebagai seorang imam Projo dari Keuskupan Agung Oklahoma City, bermulai dari kesediaannya untuk secara sukarela melayani umat di tanah misi, dalam hal ini di Santiago Atitlán, Guatemala, serta mempelajari bahasa setempat yakni Tz’utujil. Ia berhasil menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Baru dan memimpin Misa dalam bahasa setempat. Lalu bagaimana ia menjadi martir? Selama konflik sipil yang penuh kekerasan di Guatemala, beliau memilih untuk tetap tinggal bersama umat paroki yang dilayaninya, meskipun ada ancaman dan bahaya semakin meningkat. Ia berkata: “Gembala tidak boleh lari meninggalkan domba-dombanya.” Pada tanggal 28 Juli 1981, ia dibunuh oleh sekelompok pria bersenjata di pastoran. Ia dibeatifikasi pada tahun 2017 sebagai martir pertama yang lahir di Amerika Serikat.
Seorang misionaris sekaligus martir yang menumpahkan darahnya tidak akan meninggalkan domba-domba yang digembalakannya, apapun situasinya. Tepat sekali perkataan Tertulianus, seorang Bapa Gereja: ‘Sanguis martyrum semen christianorum’ artinya ‘Darah para martir adalah benih umat Kristiani’ Darah misionaris beato Stanley adalah benih umat Kristiani di benua tersebut. Darahnya tertumpah karena ia bersaksi tentang Kristus yang Ia imani dan ia cintai.
Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa mengakui Aku di depan manusia akan diakui pula oleh Anak Manusia di depan para Malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal pula di depan para Malaikat Allah.” (Luk 12:8-9). Pengalaman kemartiran Beato Stanley dan juga kemartiran St. Ignasius dari Antiokhia yang pestanya kita rayakan pada hari ini membantu kita untuk semakin on fire dalam bermisi.
Santo Igansius dari Antiokhia, Uskup dan Martir juga memiliki semangat misioner yang tinggi. Ia pernah menulis kepada Santo Polikarpus begini: “Bekerjalah bersama-sama, berjuanglah bersama-sama, berlarilah bersama-sama, menanggung penderitaan bersama-sama, tidur bersama-sama, dan terjaga bersama-sama, sebagai pengurus rekan sekerja dan hamba-hamba Allah. Berusahalah untuk menyenangkan Dia di bawah pimpinan-Nya, kalian berjuan, dari-Nya kalian menerima upah kalian. Janganlah sampai ada di antara kalian yang dianggap sebagai pengkhianat”
Pada hari ini semangat Misioner keluarga besar KBKK diperteguh oleh darah para martir. Semoga pelayanan belas kasih Allah di tanah misi menjadi benih yang subur bagi umat Kristiani khususnya di Bumi Merapu. Tuhan memberkati dan St. Igansius dari Antiokhia mendoakan kalian semua.
P. John Laba, SDB