Homili 27 Juni 2022

Hari Senin, pekan Biasa ke-XIII
Am. 2:6-10,13-16
Mzm. 50:16bc-17,18-19,20-21,22-23
Mat. 8:18-22

Apakah ada tempat bagi Yesus?

Beberapa hari ini saya kembali membaca sebuah buku lama berjudul “Teachings on love” buah karya Thích Nhất Hạnh. Beliau adalah seorang biksu Buddha Zen dari Vietnam, dengan reputasi Internasional sebagai penulis, penyair, dan aktivis HAM. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Di dalam buku itu saya menemukan sebuah kutipan yang menakjubkan, bunyinya: “Jika kita mencintai seseorang maka kita harus berusaha untuk mengenali dan menyentuh benih-benih positif yang ada di dalam dirinya setiap hari, dan menahan diri untuk menyirami benih-benih kemarahan, kekecewaan dan kebencian.” Perkataan ini memiliki kekuatan yang luar biasa kalau kita renungkan dengan baik. Kita semua memiliki kemampuan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Ketika mencintai sesama manusia kita perlu mengenal dan menyentuh benih-benih positif dan mengindari diri dari benih-benih negatif. Memang sangat sulit bagi kita untuk menyentuh benih-benih positif karena kecenderungan manusiawi yang lebih fokus pada hal-hal negatif. Tentu ini sangat berbeda dengan kehendak Tuhan bagi kita semua.

Mari kita memeriksa batin kita masing-masing. Dan lihatlah bahwa dalam sehari saja ada berapa kali kita menyirami benih-benih kejahatan berupa kemarahan, kekecewaan dan kebencian kepada sesama manusia? Ada berapa kali kita mengenali dan menyentuh benih-benih positif? Ternyata harus diakui bahwa kecenderungan manusiawi kita adalah lebih ke sisi negatif atau sisi gelap dari pada sisi terang. Itulah hidup kita di hadirat Tuhan. Bahkan tidak ada tempat bagi Yesus sang Anak Allah untuk meletakkan kepala-Nya. Ada tempat bagi yang lain tetapi Yesus sendiri nyaris tidak mendapatkan tempat di hati kita.

Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus di dalam Injil Matius. Setelah mengajarkan Sabda Bahagia dan bagaimana mengejawantahkan Sabda Bahagia dalam hidup yang nyata, Tuhan Yesus perlahan-lahan membawa kita bersama diri-Nya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di atas dunia ini. Untuk itu perlu kesadaran penting untuk mengikuti Yesus dari dekat dan tinggal bersama-Nya. Matius mengisahkan bahwa ada banyak orang yang mengurumuni-Nya setelah turun dari bukit Sabda bahagia dan tepatnya di pantai danau Galilea. Tuhan Yesus lalu menyuruh para murid untuk bertolak ke seberang dan ternyata ketika mendarat, Ia juga masih menemukan serombongan besar orang-orang yang mencari-Nya. Orang pertama yang datang kepada Yesus adalah seorang ahli Taurat. Dia seorang ahli di bidang Torah atau hukum Musa dan memohon untuk mengikuti Yesus kemanapun Yesus akan pergi. Reaksi Yesus nyata dalam jawaban-Nya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20).

Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai seorang yang tidak memiliki tempat tinggal dan kamar untuk beristirahat. Untuk pertama kalinya Matius menggunakan “Anak Manusia”. Tentu saja Ahli Taurat ini tidak mengikuti Yesus sebagaimana yang dikehendakinya sendiri. Serigala saja mempunya liang, burung memiliki sarang tapi itu tidak terjadi bagi sang Anak Manusia. Apa yang hendak Yesus katakan kepada kita? Tuhan Yesus menghendaki supaya kita menjadi semakin serupa dengan Dia. Mari kita mengingat perkataan-perkataan tertentu di dalam Kitab Suci. Dalam perjamuan malam terakhir Yesus mengatakan begini: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yoh 14:1-4). Perkataan lain berasal dari Santo Paulus. Ia mengatakan: “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” (2Kor 5:1). Maka Tuhan Yesus hendak menegaskan kepada kita semua bahwa orientasi hidup kita sangat jelas, bukan di dunia ini tetapi di surga adalah tempat yang benar bagi kita untuk meletakkan kepala.

Ada juga orang lain yang datang kepada Yesus yaitu murid-Nya. Ia berkata: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” (Mat 8:21) tetapi Yesus menjawabnya: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:22). Mungkin kita merasa aneh karena kelihatan Yesus keliru mengingatkan murid itu untuk tidak menghormati orang tuanya. Tetapi sebenarnya Yesus mengingatkan murid-Nya supaya memiliki skala prioritas dalam hidupnya. Prioritas pertama adalah urgensinya menghadirkan Kerajaan Allah di atas dunia ini. Tuhan Yesus menekankan kepada pengikut-pengikut-Nya tentang mutlak atau urgensinya mendahulukan tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah diatas segala-galanya. Disini Yesus memanggil seorang untuk mengikut Dia sebagai murid. Orang itu tidak mau, tapi ia berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku”. Orang itu berpikir ini permohonan yang masuk akal. Jika ia anak sulung, maka ia wajib mengurus penguburan ayahnya. Tetapi Yesus meminta sebuah skala prioritas. Kita mengingat perkataan Yesus ini: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:33-34).

Adakah tempat bagi Yesus? Yesus sang Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Sejak lahir tidak ada tempat yang layak bagi-Nya di Bethlehem. Wafat-Nya pun di atas kayu salib dan dibaringkan di dalam kuburan. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia memenangkan segalanya. Dia membawa kita semua supaya berada bersama-Nya, meletakkan kepala bersama-Nya di surga. Mulai sekarang kita perlu mengasihi bukan menghitung-hitung kesalahan orang. Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau mengasihi dan membahwa kami untuk ada bersama-Mu.

P. John Laba, SDB