Hari Minggu Biasa XXIA
Yes. 22:19-23
Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6,8bc
Rm. 11:33-36
Mat. 16:13-20
Saya mengimani Yesus Kristus dan Kuasa-Nya
Pada hari Minggu pagi ini, saya mendapat sebuah sapaan rohani dari seorang sahabat di daerah yang sedang mengalami musibah gempa bumi. Ia mengutip perkataan santo Ambrosius berbunyi: “Bangunlah, hai kamu yang sedang tertidur lelap… Bangun dan bergegaslah ke Gereja: Di sanalah kamu akan berjumpa dengan Bapa, di sanalah kamu akan berjumpa dengan Putra, dan di sana pulalah kamu berjumpa dengan Roh Kudus.” Dan ia melanjutkan: “Saya sendiri bersama seluruh keluargaku tidak akan putus asa ditengah musibah gempa bumi karena saya percaya dan tetap mengimani Tuhan Yesus Kristus”. Saya membacanya perlahan-lahan dan merasa kagum dengan pengalaman rohani sahabatku ini. Sahabat yang berada di daerah yang dilanda musibah gempa bumi belum melupakan Tuhan. Dia malah menyadarkan saya sebagai seorang imam untuk bangun dan siap melayani Gereja karena ada perjumpaan dengan Tritunggal Mahakudus, apapun situasinya, di saat baik maupun tidak baik seperti yang dia sedang alami saat ini. Kita bisa membayangkan, orang dalam musibah masing mengajak untuk pergi ke Gereja, namun ada di antara kita yang mungkin pada hari ini tidak pergi ke Gereja.
Kuasa Tuhan itu sungguh luar biasa. Sahabat saya dan keluarganya mengalami kuasa Tuhan yang luar biasa sehingga mereka tidak merasa takut. Kesulitan mereka dalam hal makan dan minum, untuk sementara mereka harus tidur di tenda di depan rumah karena khawatir akan gempa susulan tidak mengurangi cinta mereka kepada Tuhan. Patung Hati Kudus Yesus mereka letakkan di tengah tenda sederhana dikelilingi lilin-lilin yang menyala dan ada tulisan: “Terima kasih Tuhan Yesus”. Kuasa Tuhan itu sungguh nyata.
Pada hari Minggu Biasa ke XXI/A ini kita semua disapa oleh Tuhan untuk mengalami kuasa-Nya dan mengimani Yesus Kristus, Mesias, Anak Allah yang hidup. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menubuatkan tentang kuasa dan kedaulatan Allah untuk menggulingkan para pemimpin yang sombong dan menggantinya dengan pemimpin yang setia. Dikisahkan bahwa Tuhan Allah mencabut kekuasaan dari Shebna selaku pengurus kerajaan yang arogan dan memindahkan jubah resminya, kunci otoritas, dan kedudukannya yang tetap kepada hamba yang setia yakni Eliakim. Tentu saja ini melambangkan kekuasaan administratif yang absolut dan menunjuk pada otoritas ilahi tertinggi.
Ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan bersama yakni pertama, Orang yang sombong akan disingkirkan oleh Tuhan. Dalam konteks ini, Tuhan menyingkirkan Shebna karena kesombongan dan rasa aman yang semu yang sedang dialaminya saat itu. Kedua, Pengalihan wewenang. Tuhan memiliki kuasa untuk mengalihkan atau menggantikan wewenang kepada orang lain. Dalam hal ini, Eliakim menerima jubah, selempang, dan “kunci rumah Daud”. Ketiga, kepemimpinan yang Aman. Eliakim diposisikan seperti pasak yang kokoh, mewakili kepemimpinan yang dapat diandalkan bagi Yehuda. Sekali lagi ketiga hal ini sungguh menggambarkan kuasa Allah yang tiada batasnya bagi manusia.
Kuasa Tuhan menjadi lebih nyata dan sempurna di dalam bacaan Injil Matius. Dikisahkan bahwa ketika berada di daerah Kaisarea Filipi, Tuhan Yesus bertanya kepada para murid-Nya apakah mereka mengenal-Nya secara pribadi. Tentu saja pertanyaan yang benar bukan ini: “Menurut kata orang siapakah Aku ini” melainkan “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kata orang itu memang sangatlah mudah karena para murid hanya ‘copy dan paste’ sehingga cepat sekali memberi jawaban: ‘Ada yang mengatakan Yohanes Pembabtis, Elia Yeremia atau salah seorang dari para nabi’. Pertanyaanh menjadi sulit dijawab ketika Tuhan Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus mendapat kuasa Bapa sehingga mengakui Yesus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Pengakuan Petrus membuka wawasan baru baginya karena namanya berubah dari Simon menjadi Petrus atau Kefas atau Wadas di mana Yesus mendirikan Jemaat-Nya. Tuhanlah yang berkuasa sehingga alam maut tak akan menguasainya. Tuhan juga menyempurnakan kuasa-Nya di dalam diri Petrus dengan memberikan kunci Kerajaan Surga. Pengalaman Petrus ini menjadi semakin jelas juga dalam perkataan Santo Paulus: “Segala sesuatu berasal dari Allah, ada karena Allah dan menuju kepada Allah”.
Pada hari ini kita semua merasa diteguhkan kembali untuk semakin bertumbuh dalam iman. Kita masing-masing memiliki pergumulan dan kesulitan hidup tersendiri. Saudara-saudara kita di daerah yang terkena musibah berpasrah kepada Tuhan. Mereka masih mengandalkan Tuhan karena sebagaimana dikatakan santo Paulus, ‘segala sesuatu menuju kepada Allah’. Saya sendiri selama beberapa hari harus menyendiri di kamar akibat ‘bapil, demam dan flu’. Di saat seperti ini saya memiliki lenih banyak waktu untuk kembali kepada Tuhan dalam doa. Hal lain adalah, kuasa manusiawi yang ada pada kita hanya sementara saja. Tuhan yang punya kuasa untuk mengambilnya kembali dari tangan kita. Maka yang terpenting adalah mari kita kembali kepada Tuhan Yesus, sang Mesias, Anak Allah yang Hidup.
P. John Laba, SDB