Homili 9 Oktober 2026

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXVIIA
Gal 3:7-14
Mzm 111:1-2.34.5-6
Luk 11:15-26

Milikilah Iman yang teguh Kepada Tuhan

Seorang sahabat mengatakan bahwa ia merasa sangat kesal dan terganggu ketika menyaksikan melalui media sosial pembicaraan-pembicaraan tentang agama dan iman kepada Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa agamanya paling benar sedangkan mereka yang lain agamanya palsu. Ada yang saling mengolok tentang isi Kitab Suci, pendiri agama dan juga pemimpin agamanya masa kini. Dan hal lain yang sering mengganggu kita adalah larangan untuk membangun tempat ibadah juga larangan bagi orang lain untuk beribada. Tentu saja banyak orang memiliki sikap pribadi terhadap agama dan kepercayaan baik yang dia ikuti maupun agama orang lain seperti ini. Setiap orang memiliki iman dan agama yang dianut secara pribadi.

Kadang-kadang orang mencampuradukan iman dan agama. Padahal keduanya berbeda satu sama lain. Iman adalah keyakinan atau kepercayaan yang sifatnya batiniah atau di dalam hati, sedangkan agama adalah sistem keyakinan, aturan dan ritual lahiriah yang terorganisir. Iman itu lebih bersifat pribadi dan bersemayam di dalam hati, dan Tuhan sendiri memberikannya secara cuma-cuma. Orang bisa saja beriman dengan teguh tanpa harus terikat pada suatu organisasi atau ritual formal tertentu. Berbeda dengan agama yang bersifat lahiria, terstruk, mengikusertakan aturab sosial, keseragaman dalam hal ritual, tata cara beribadah dan belum tentu hal-hal seperti ini mempengaruhi iman yang teguh dalam hatinya. Hanya saja orang belum mampu membedakan iman dan agama, lebih menggado-gado satu sama lain.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menegaskan bahwa orang itu dibenarkan karena iman. Bagi Paulus, mereka yang hidup dari iman akan diberkati bersama Abraham yang beriman. Allah sendiri membenarkan orang-orang bukan Yahudi karena iman. Abrahan adalah sosok yang menginspirasi supaya kita dapat beriman kepada Tuhan. Abraham sendiri disebut Bapa kaum beriman. Dia menerima iman itu secara gratis dari Tuhan dan ia pun dibenarkan karena iman. Hal ini menjadi berbeda dengan orang yang hidup di bawah hukum Taurat karena Abraham itu hidup jauh sebelum Musa menerima hukum Taurat. Orang dibenarkan karena iman bukan karena hukum Taurat. Jadi anak-anak Abraham yang sejati itu memiliki iman.

Paulus dalam suratnya juga menegaskan bahwa Kristus menanggung kutukan untuk memberikan berkat kepada kita. Tuhan Yesus Kristus menebus kita dari kutukan hukum Taurat dengan menanggung kutukan itu atas diri-Nya sendiri ketika Ia digantung di Kayu Salib (Gal 3:13). Melalui pengorbanan Kristus dan berkat janji Abraham meluas kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, sehingga orang-orang beriman dapat menerima Roh Kudus yang dijanjikan melalui iman bukan melaui pelaksanaan ritual.

Orang-orang yang sungguh beriman akan terbuka kepada Tuhan dan mematuhi-Nya. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang mengaku beragama tetapi tidak menunjukkan imannya dengan benar. Di dalam Injil kita mendengar bagaimana Tuhan Yesus berbuat baik dengan mengusir setan. Perbuatan baik yang Tuhan Yesus lakukan ternyata dibalas dengan pikiran manusiawi yang negatif. Ada yang beranggapan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, kepala setan. Ada orang lain yang mencobai Yesus dengan meminta tanda dari surga. Mungkin kita merasa kesal dengan orang-orang yang bersikap seperti ini kepada Yesus. Namun sebenarnya kita juga memiliki benih-benih keraguan kepada Yesus seperti orang-orang pada masa hidup Yesus. Hanya saja kita tidak jujur untuk mengakuinya. Hanya Yesuslah yang mengetahui pikiran kita.

Satu hal yang penting bagi kita adalah memiliki iman yang teguh. Iman yang teguh itu dapa kita peroleh dengan cuma-cuma dari Tuhan kalau kita memohonnya kepada Tuhan: “Tuhan Tambahkanlah iman kami” (Luk 17:5). Kita juga jangan membiarkan diri kita kosong seperti rumah yang kosong. Kita membiarkan Tuhan yang mengisinya, menempatinya dalam hidup kita. Kita juga selalu mendengar perkataan: “Tuhan bersamamu” dan kita juga mengatakan: “Dan bersamamu juga”. Kita membiarkan Tuhan untuk selalu bersama-sama dengan kita. Tentu saja ini bisa kita alami di dala, hidup, bukan karena agama tetapi karena iman kepada Tuhan. Milikilah iman yang teguh kepada Tuhan.

P. John Laba, SDB