Homili 16 Juli 2014

Hari Rabu, Pekan Biasa XV
Santa Maria dari Gunung Karmel
Yes: 10:5-7.13-16
Mzm 94: 5-6, 7-8,9-10, 14-15
Mat 11 25-27

Syukur kepada Allah!

Fr. JohnPada hari ini kita merayakan peringatan St. Perawan Maria dari gunung Karmel. Apa relevansi perayaan ini di dalam Gereja katolik? Perayaan ini berhubungan dengan berdirinya Ordo Karmel. Ordo Karmel didirikan pada tahun 1155 oleh Bertold dari Kalabria. Sebelumnya Bertold sudah mendirikan sebuah kapel kecil di atas gunung Karmel. Disana diadakan ibadat khusus untuk menghormati Santa Perawan Maria. Pada masa itu pun sudah ada sebuah pertapaan di sana. Anggota-anggota melanjutkan tradisi yang berpangkal pada praktek nabi Elia dan murid-muridnya. Bertold menetap di gunung Karmel dan bersama dengan rekan-rekannya menyatukan diri dalam suatu perkumpulan yang merupakan biara Santa Perawan Maria. Di bawah lindungan Bunda Maria, Ordo Karmel berkembang ke Barat sampai ke Inggris. Ordo ini kemudian diresmikan oleh Sri Paus pada tahun 1245. Kita mendoakan para konfrater dari Ordo Karmel dan seluruh keluarga besar Karmel untuk setia dalam panggilan hidup mereka.

Pada suatu kesempatan saya mengikuti sebuah pertemuan di lingkungan. Sebelum merayakan Ekaristi bersama, kami mengadakan sharing untuk memperdalam makna Ekaristi yang akan dirayakan bersama. Dari banyak sharing umat, saya tetap mengingat seorang bapa yang rajin ke Gereja untuk mendengar sabda Tuhan. Ia mengaku tidak pernah membaca sabda di mimbar tetapi selalu bangga mengucapkan: “Syukur kepada Allah”. Ia menjelaskan alasan mengapa bangga mengatakan dengan suara lantang: “Syukur kepada Allah?” Karena ia datang dari rumah atau kantor dengan banyak beban dan persoalan hidup, tetapi dalam perayaan Ekaristi, ia merasa disapa dengan baik oleh Tuhan. Ini yang menjadi alasan mengapa ia patut bersyukur atas sabda Tuhan Allah.

Dalam hidup setiap hari, ada orang yang selalu kesulitan untuk mengatakan rasa syukurnya kepada Tuhan dan sesama. Di dalam keluarga misalnya, banyak kali anggota keluarga lalai mengucapkan kata syukur dan terima kasih, sedangkan dengan orang-orang di luar rumah, mudah untuk mengatakan syukur dan terima kasih. Seharusnya seluruh hidup kita, siang dan malam, tidur atau bangun merupakan syukur yang tiada henti-hentinya. Apa yang harus kita lakukan? Mari mengikuti penulis kitab Tawarik: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya.” (1Taw 16:34). St. Paulus berkata: “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.” (1Tim 1:12).

Pada hari ini kita belajar bersyukur dari Yesus sendiri. Tuhan Yesus bersabda: “Aku bersyukur kepadaMu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Kausembunyikan baik orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan di hatiMu” (Mat 11:25-26). Tuhan Yesus pertama-tama mengucap syukur kepada Bapa di surga. Ia menaikkan syukur sebagai tanda persekutuan diriNya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa yang baik. Bapa memiliki kuasa yang besar yakni Tuhan bagi langit dan bumi. Rasa syukur juga diungkapkan Tuhan Yesus karena segala kebijaksanaaNya disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi dinyatakan kepada orang kecil. Orang kecil adalah para murid yang setiap mengikuti Yesus kemana saja Ia pergi. Para murid memiliki hati yang terbuka untuk menerima kuasa dan kehendak Allah. Tuhan Yesus juga bersyukur karena segala sesuatu telah diserahkan Bapa kepadaNya sebagai Putra. Hanya Dia sendiri yang mengenal Bapa dan apabila kita sungguh-sungguh percaya kepadaNya maka kita pun akan mengenal Bapa di Surga.

Bacaan Injil pada hari ini membangkitkan kita untuk bangun dari tidur iman. Banyak di antara kita selalu lupa untuk bersyukur kepada Tuhan dan sesama. Injil juga mengingatkan kita untuk memandang dan mengagumi Tuhan Yesus karena hanya di dalam Dia ada keselamatan. Dialah yang mengajar kita untuk saling mengampuni, melayani dan mengasihi tanpa batasnya. Yesus sungguh-sungguh menjadi guru dan Tuhan (Yoh 13:13).

Kasih Allah yang tiada batasnya itu mendorong kita untuk mengasihi semua orang sebagaimana Tuhan juga mengasihi kita semua. Tuhan melalui nabi Yesaya memiliki rencana untuk menyadarkan umatNya yang sudah jauh dari Tuhan. Untuk itu Tuhan memanfaatkan raja Asyur. Ia berkata: “Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku!” (Yes 10:5). Raja Asyur melawan bangsa-bangsa yang murtad dan juga umat Israel. Ia akan merampas dan menjarah serta menginjak-injak seperti lumpur di jalanan. Sebenarnya Asyur hanya berniat untuk menghancuran banyak bangsa tetapi Tuhan memakainya untuk menyadarkan umat pilihan yakni Israel.

Sebenarnya, Tuhan memang tidak menghendaki kebinasan umatNya. Ia hanya mau mengingatkan mereka untuk sadar diri dan percaya kepada semua rencana dan anugerahNya. Ia juga menyadarkan mereka untuk tahu bersyukur kepada Tuhan, rendah hati dan menghormati sesama yang lain. Mengikuti sang Pemazmur, kita semua percaya bahwa Tuhan tidak akan membuang umatNya dan milik pusakaNya tidak akan Ia tinggalkan; sebab hukum kembali kepada keadilan dan semua orang akan tulus hati akan mematuhi. (Mzm 94:14-15).

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk selalu bersyukur kepadaMu. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply