Homili 11 Agustus 2015

Hari Selasa, Pekan XIX
Ul. 31:1-8
MT Ul. 32:3-4a,7,8,9,12
Mat. 18:1-5,10,12-14

Bertobat dan menjadi seperti anak kecil

Fr. JohnAda seorang pemuda, datang dan berbicara denganku. Ia adalah anak sulung dan memiliki seorang adik. Adiknya itu termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Selama beberapa tahun terakhir, pemuda ini merasa kecewa dengan orang tua dan dirinya karena pengalaman indah yang pernah dirasakan sebelumnya seakan hilang. Ia mengawali hidup dengan penuh kebahagiaan, tetapi ketika adiknya lahir perhatian dan kasih sayang orang tuanya beralih kepada adiknya. Lebih lagi setelah adiknya diketahui termasuk Anak Berkebutuhan Khusus. Ia ingin melarikan diri dari rumahnya. Saya berusaha menenangkannya dan meminta dia untuk menghitung semua kebaikan orang tuanya setiap hari kepadanya. Ia mengatakan menerima banyak kebaikan orang tuanya. Saya memintanya untuk menghitung perbuatan baik yang dilakukannya kepada orang tuanya. Ia menjawabku masih sedikit dan terbatas. Saya mengatakan kepadanya bahwa orang tuanya tetap mengasihinya. Sebagai anak sulung ia harus bersyukur karena ia dilatih untuk menjadi anak yang mandiri.

Banyak keluarga memiliki pengalaman yang serupa dalam berelasi dengan anak-anaknya. Ada anak-anak yang merasa tidak diperhatikan oleh orang tuanya sehingga menimbulkan protes-protes terselubung di dalam berelasi satu sama lain. Mereka memberontak ketika melihat orang tua memperhatikan anak yang lebih kecil, lemah atau berkebutuhan khusus karena merasa dianaktirikan. Situasi ini bisa diatasi ketika orang tua memiliki waktu untuk duduk bersama dan menjelaskan kepada anak dengan bahasa yang bisa dimengerti. Mungkin kekeliruan orang tua adalah lupa atau lalai menyampaikan hal ini kepada anak-anaknya. Orang tua memang memperhatikan semua anak, tetapi perhatian khusus memang dipusatkan kepada anak yang kecil, lemah dan berkebutuhan khusus.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengarahkan kita untuk memahami rencana Tuhan bagi manusia. Bahwa setiap orang diberikan kebajikan-kebajikan supaya bisa melakukannya di dalam hidup. Dikisahkan bahwa para murid Yesus sudah lama mendengar tentang Kerajaan Surga. Namun mereka belum mengetahui tentang situasi yang akan terjadi di dalam Surga. Mereka lalu bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mat 18:1). Tuhan Yesus tidak langsung menjawab siapa orangnya tetapi mendidik para murid-Nya dengan menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka. Sambil mereka memandang anak kecil itu, Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:3-5).

Dari perkataan Yesus ini kita mendapat gambaran tentang siapakah para penghuni Kerajaan Surga. Para penghuni Kerajaan Surga adalah Tuhan bersama para malaikat dan para kudus-Nya. Para kudus adalah manusia yang hidupnya pernah serupa dengan Tuhan selama mereka masih berada di dunia ini. Hidup mereka sungguh-sungguh Kristiani artinya menyerupai Kristus yang lemah lembut dan rendah hati selama berada di dunia ini. Mereka melakukan pertobatan yang benar di hadapan Tuhan dan sesama. Mereka pernah menjadi seperti anak kecil yang lemah, polos, jujur, rendah hati. Anak kecil menunjukkan sikap membutuhkan pertolongan Tuhan dan sesamanya yang lebih dewasa. Mereka juga memiliki malaikat di sorga.

Selanjutnya, Yesus juga memberi sebuah perumpamaan untuk menjelaskan makna pertobatan dan kerendahan hati. Ada seorang peternak yang memiliki seratus ekor domba. Setiap hari ia membawa domba-dombanya ke padang rumput dan pada malam harinya ia mengantarnya kembali masuk ke dalam kandang. Semua domba memiliki kehidupan sosial yang bagus. Namun ketika salah seekornya tersesat atau ketinggalan di padang maka ia mudah sekali menjadi liar. Sang peternak memiliki kebiasaan menghitung semua ternaknya. Apabila ia mengetahui bahwa masih ada yang kurang maka dengan sendirinya ia mencari sampai menemukannya di padang.

Konon ada seorang yang memiliki seratus ekor domba. Ada satu ekor yang tersesat maka ia meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor di padang, pergi mencari sampai menemukannya. Dan ketika menemukannya, ia akan merasa bahagia karena bisa menemukan satu ekor yang tersesat dari pada memiliki sembilan puluh sembilan ekor yang tidak tersesat. Yesus mengatakan bahwa Bapa di surga juga tidak menghendaki seorangpun hilang. Tuhan juga melakukan hal yang sama kepada manusia yang mau bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Perumpamaan Yesus ini sebenarnya mau meringkas makna sebuah pertobatan dan kerendahan hati dalam hidup kita setiap hari. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang berdosa. Maka adalah sukacita di surga ketika seorang berdosa bisa bertobat dan kembali ke jalan Tuhan. Bertobat bukan hanya sekedar mengetahui dosa-dosa kita dan menyesalinya. Bertobat berarti berbalik kepada Allah dan hidup serupa dengan-Nya. Bertobat berarti mengalami kasih dan kemurahan hati Tuhan. Orang bisa bertobat kalau ia rendah hati di hadapan Tuhan dan sesamanya. Banyak kali pertobatan tidak bisa terjadi karena orang masih sombong dan egois. Mereka tidak membutuhkan Tuhan karena merasa diri sebagai orang benar.

Sekarang mari kita memperhatikan diri kita. Banyak di antara kita masih dikuasai oleh kesombongan jasmani dan rohani. Pertobatan masih merupakan slogan. Ada orang yang sudah tidak merasa dirinya sebagai orang berdosa sehingga tidak bertobat. Kerendahan hati juga hanya sebuah nama kebajikan kristiani saja. Orang masih salah kapra dalam memahami kebajikan kerendahan hati dan rendah diri. Apakah kita masih mau seperti ini? Mari kita bertobat dan kembali kepada Tuhan. Bertobat dan menjadi seperti anak kecil dalam pelukan kasih Tuhan. Sikap gembala yang baik ini haruslah dimiliki oleh kita semua. Fokus perhatian kita adalah orang-orang kecil, yang tersesat kita panggil kembali, yang bermusuhan kita damaikan kembali. Jangan sampai kita lebih memilih yang baik-baik saja dan membiarkan mereka yang lemah.

Di dalam bacaan pertama kita menemukan sosok manusia yang rendah hati yaitu Musa. Ia merasa diri sudah tua dan harus mengalihkan kepemimpinannya kepada yang lebih muda dari padanya yaitu Yosua. Ia menasihati seluruh bangsa Israel untuk selalu mengingat kasih dan kekuatan Tuhan serta perjanjian yang sudah Tuhan ikat dengan mereka. Musa juga meneguhkan Yosua dengan berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul 31:7-8).

Mari kita bertobat dan menjadi seperti anak kecil, seperti Musa yang berani melepaskan tugas dan tanggung jawabnya, suksesi kepemimpinan yang baik kepada Yosua. Kita dipanggil untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati seperti Kristus sendiri.

Doa: Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amen.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply