Homili 16 Juni 2017

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-X
2Kor 4:7-15
Mzm 116:10-11.15-16.17-18
Mat 5:27-32

Aku menghormatimu sampai sang maut memisahkan kita

Saya pernah diundang untuk merayakan misa syukur 25 tahun perkawinan sepasang suami dan isteri. Perayaan misa syukur ini berlangsung meriah dihadiri oleh anak-anak dan cucu serta para kerabat. Pasutri ini memilih sebuah tema perayaan syukur yang menarik perhatian kami semua. Temanya adalah: “Aku menghormatimu sampai sang maut memisahkan kita”. Saya merasa bahwa baru pertama kali saya merayakan misa syukur hari ulang tahun perkawinan dengan tema seperti ini. Saya menduga bahwa mereka berdua memilih tema perayaan ini sebagai sebuah refleksi pada rumusan janji perkawinan yang mereka ikrarkan dua puluh lima tahun silam. Dugaan saya ini ternyata benar. Dalam sharing bersama setelah misa syukur, mereka mengatakan bahwa sebelum menikah mereka sudah memiliki komitmen untuk saling mengasihi, saling menghormati dalam untung dan malang hingga maut memisahkan mereka. Sebab itu mereka selalu berusaha supaya setiap hari dapat membaharui komitmen mereka ini di hadapan Tuhan dan sesama khususnya anak-anak mereka. Mereka mengaku pernah saling memarahi satu sama lain, pernah beda pendapat tetapi semua ini membuat komitmen mereka untuk saling mengasihi dan menghormati semakin kuat. Beda pandangan adalah peluang untuk semakin mengasihi. Saya selalu mengenang perayaan misa syukur hari ulang tahun perkawinan ini.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan pengajaran Yesus di bukit Sabda Bahagia. Dikisahkan bahwa pada waktu itu Tuhan Yesus memandang para murid-Nya dan mengulangi bunyi salah satu perintah Allah yang ditulis Tuhan dalam dua loh batu, lalu diberikan-Nya di gunung Sinai kepada Musa. Salah satu perintah Tuhan dari kesepuluh perintah Allah adalah “Jangan berzinah” (Kel 20:14). Perintah Tuhan Allah ini kembali diucapkan oleh Tuhan Yesus di atas bukit Sabda Bahagia: “Jangan berzinah! (Mat 5:27), supaya menyadarkan para murid-Nya untuk menghormati kekudusan pasangan hidup dan kekudusan keluarga. Tuhan Yesus membaharui pemikiran banyak orang saat itu. Selanjutnya Ia berkata: “Barangsiapa memadang seorang wanita dengan menginginkannya dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya.” (Mat 5: 28). Tuhan Yesus membuka wawasan para murid untuk melihat sesuatu yang baru dalam ajaran-Nya. Nah, persoalannya adalah bukan hanya sebatas larangan supaya jangan berzinah namun apabila seorang pria memandang seorang wanita dan menginginkannya dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya. Hal yang sama tentu terjadi juga pada seorang wanita yang memandang dan menginginkan seorang pria.

Selanjutnya, Yesus mengarahkan mereka untuk mempertahankan kehidupan berkeluarga. Ia lalu mengingatkan mereka tentang hukum lama yang mengatakan bahwa untuk dapat menceraikan istri maka seorang suami harus memberikan surat cerai (Ul 24:1.3). Mereka semua sudah mengetahui hukum ini. Tetapi Yesus mengajarkan sesuatu yang baru supaya membuat mereka mawas diri dan tidak mengulangi dosa yang sama yakni barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah maka ia membuat istrinya berzinah. Dan barangsiapa kawin dengan wanita yang diceraikan dia pun berbuat zinah. Kelihatan sederhana namun sangat berat untuk kita hayati di dalam hidup ini.

Apa yang hendak Yesus katakan kepada kita yang membaca dan merenungkan Injil pada hari ini? Pertama-tama, Tuhan Yesus menghendaki agar setiap orang memiliki sebuah habitus baru yakni saling menghargai sebagai pria dan wanita. Seorang pria yang baik akan berusaha untuk menjaga dan melindungi serta menghargai kaum wanita bukan menginginkannya atau untuk memuaskan hawa nafsu. Demikian juga seorang wanita yang baik akan menghargai seorang pria bukan menginginkannya untuk memuaskan hawa nafsunya. Kedua, perkawinan adalah sebuah panggilan yang luhur bagi pria dan wanita untuk hidup bersama sebagai satu daging. Sebab itu apa yang Tuhan sudah persatukan tidak boleh diceraikan oleh siapa pun di dunia ini, kecuali sang maut. Suami dan istri sebagai orang dewasa pasti memiliki persoalan tertentu tetapi komitmen untuk mengasihi harus tetap menjadi sebuah prioritas. Berusahalah supaya anak-anak janganlah menjadi korban ke-egoisan orang tuanya.

Pada hari ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk membaharui diri dan keluarga kita masing-masing. Berjuanglah untuk mempertahankan peradaban kasih dalam keluarga masing-masing.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply