Homili 22 Juli 2017

Peringatan Wajib St. Maria Magdalena
Kid. 3:1-4a atau
2Kor. 5:14-17
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yoh. 20:1,11-18

Aku merindukan-Mu!

Ada seorang remaja yang mengaku sudah terbiasa mengulangi doa ini kepada Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus: “Tuhan Yesus, aku merindukan-Mu”. Doa singkat ini merupakan warisan dari ibundanya tercinta. Beliau mengajarkan doa ini kepadanya ketika masih kecil. Doa ini sungguh mendarah daging di dalam hidupnya. Dampak doa ini bagi hidup pribadinya adalah ia memiliki sebuah kerinduan yang mendalam untuk selalu berada di hadirat Tuhan yang Mahapengasih dan penyayang. Hal konkret yang dilakukannya adalah bahwa ia setia mengunjungi dan menyapa Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Saya senang mengingat¬†sharing sederhana ini dan berharap bahwa kaum remaja dan orang-orang muda dapat menyadari dirinya tetap berada di hadirat Tuhan Yang Mahapengasih dan penyayang. Ada kerinduan yang besar kepada Tuhan.

Pada hari ini kita mengenang St. Maria Magdalena. Penginjil Lukas mengatakan bahwa Maria Magdalena adalah salah seorang wanita yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus karena dirasuki oleh tujuh roh jahat (Luk 8:2). Maka sebagai ungkapan rasa syukurnya kepada Tuhan Yesus, ia mengikuti Yesus dan mengasihi-Nya sampai tuntas. Ia terlibat aktif dalam karya pelayanan Yesus dan para murid-Nya. Para penginjil lain seperti Matius (27:56.61), Markus (15:40.47) dan Yohanes (19:25) mengisahkan kehadiran Maria Magdalena dalam kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus. Maria Magdalena menemani Yesus dan para murid dalam saat penderitaan-Nya, berada di bawah kaki salib, menyaksikan saat penguburan Yesus dan menjadi orang pertama yang menyaksikan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Mat 28:1; Mrk 16:1 dan Luk 24:1-10). Penginjil Yohanes menggarisbawahi nama Maria Magdalena sebagai orang pertama yang menyaksikan kebangkitan Kristus dan menjadi misionaris yang menyampakan berita kebangkitan kepada para murid Yesus (Yoh 20:11-18). Maria Magdalena senantiasa merindukan Tuhan Yesus Kristus dalam hidupnya. Itulah sebabnya Ia mencari jalan untuk berjumpa dan mengalami sendiri kasih dan kebaikan Tuhan Yesus seperti semula. Usaha mencari jalan hingga menemukan Yesus hendaknya menjadi misi kita sebagai Gereja saat ini di dunia modern. Apakah Gereja masih sadar untuk merindukan, mencari dan menemukan Yesus Kristus?

Maria Magdalena merindukan Yesus. Ia sendiri sudah mengalami kasih dan kebaikan-Nya setelah menderita karena kuasa dari tujuh roh jahat di dalam dirinya. Kerinduan akan Tuhan Yesus diungkapkannya dengan mendatangi kubur Yesus pada pagi-pagi buta. Namun pada saat itu ia heran melihat suasana di dalam kubur Yesus. Maria Magdalena hanya melihat kubur kosong. Ini tentu mengagetkan sekaligus membuatnya sedih dan menangis. Ada dua orang malaikat berpakaian putih melihatnya menangis dan coba untuk menenangkannya dengan meminta alasan mengapa ia menangis. Maria Magdalena menunjukkan sikap memiliki Yesus secara secara pribadi maka ia pun berkata: “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu dimana Ia diletakkan.”¬†Setelah itu ia menoleh dan melihat Yesus berada di belakangnya, tetapi ia masih mengira bahwa dia adalah seorang pekerja di taman. Ia bahkan meminta supaya menunjukkan jalan untuk menemukan Yesus lagi.

Tuhan Yesus melihat iman dan kerinduan Maria Magdalena kepada-Nya. Sebab itu Ia menyapa Maria dengan namanya sendiri: “Maria”. Maria mendengar sapaan itu dan dengan penuh sukacita ia mengakui imannya: “Rabuni!” yang berarti Guru. Sejak saat itu Maria merasa bahwa kerinduannya terobati karena dapat melihat Yesus yang bangkit dengan mulia dengan matanya sendiri. Ia pun bersedia mewartakan apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dialaminya sendiri bersama Tuhan Yesus Kristus yang bangkit dengan mulia. Maria Magdalena mengalami sebuah transformasi iman yang luar biasa. Ia mulanya hanya menangis dan tidak memiliki sebuah harapan yang pasti untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus, kini boleh bersukacita karena melihat Yesus dengan matanya sendiri. Ia pun berani berkata: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20: 18).

Setiap orang beriman memiliki kerinduan untuk tetap berada di hadirat Tuhan dan mengalami kasih-Nya. Pengalaman akan kasih Allah selalu ditandai oleh kerinduan yang mendalam, supaya selalu bersatu dengan Tuhan. Relasi kasih antara Allah dengan manusia ibarat relasi di dalam sebuah keluarga manusia, antara pasangan suami dan istri dan relasi orang tua dengan anak-anaknya. Penulis Kitab Kidung Agung mengungkapkan kerinduannya akan Tuhan seperti ini: “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.¬†Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.” (Kid 3:1-2). Seseorang yang merindukan Allah tidak akan melepaskan kerinduannya begitu saja. Ia akan terus mencari jalan hingga menemukan Allah sebagai kekasihnya. Ketika menemukan sang kekasih sejati maka ia tentu merasa bersukacita. Penulis Kitab Kidung Agung menulis: “Ketika kutemukan jantung hatiku, kupegang dia, dan tidak kulepaskan lagi” (Kid 3:4a). St. Paulus mengungkapkan kerinduan akan Tuhan dengan mengatakan bahwa kasih Kristus telah menguasai kami. Kasih Kristus membuat kita menjadi ciptaan yang baru (2Kor 5:14-17). Apakah anda merindukan Allah untuk menjadi ciptaan baru?

Orang yang merindukan Tuhan Allah akan senantiasa berdoa dan mencari jalan untuk bertemu dengan-Nya. Kerinduan kita semua adalah bahwa pada saat yang tepat kita berjumpa dengan Tuhan, melihat dengan mata kita sendiri dan tidak akan lepas dari tangan-Nya yang kudus. Rindu bersama Tuhan sama dengan merindukan surga yang bahagia. Apakah anda merindukan Tuhan?Apakah anda merindukan surga? Jadilah ciptaan baru dan surga akan menjadi milikmu selamanya. Kita adalah ciptaan baru karena kita semua ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply