Homili Hari Raya Semua Orang Kudus – 2017 (Injil untuk DFJ)

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
Why. 7:2-4,9-14
Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
1Yoh. 3:1-3
Mat. 5:1-12a.

Kuduskanlah dirimu…

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya semua orang. Perayaan ini selalu kita rayakan dengan meriah setiap tahun. Tetapi menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita berusaha untuk memahami dan menghayati perayaan tahunan ini? Apakah perayaan semua orang kudus dapat mengubah hidup hidup kita untuk berjalan dalam jalan kekudusan? Menjadi kudus berarti menjadi bahagia bersama Tuhan Allah Tritunggal Mahakudus di Surga. Para kudus adalah orang-orang yang pernah hidup di dunia ini, menunjukkan kekudusan Tuhan Allah dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya dan kini berbahagia di dalam Surga.

Dalam Doa Prefasi para Kudus dikatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menganugerahi kebahagiaan dan mahkota kemuliaan yang mereka terima, menyatakan buah karya rahmat Tuhan sendiri. Kepada kita, para kudus telah menunjukkan teladan hidup mereka yang suci, persahabatan mereka yang tulus, dan doa restu mereka yang sangat kita butuhkan dalam hidup ini. Dengan bantuan para kudus kita pun berbesar hati untuk berjuang demi memperoleh kebahagiaan sejati. Kesaksian iman para kudus memberi kepada Gereja sebuah kekuatan baru dan meyakinkan Gereja akan cinta kasih Allah. Teladan para kudus menggerakan hati kita untuk ikut berbakti kepada Tuhan dan karena doa para kudus, kita juga didorong untuk ikut melaksanakan karya penyelamatan Tuhan sendiri. Di sini kita melihat peran para kudus yang kita kenang sepanjang hari ini sebagai pemberi teladan kesucian, persahabatan yang tulus dengan Tuhan dan doa-doa mereka bagi kita kepada Tuhan. Mereka adalah perantara doa-doa kita kepada Tuhan Allah yang kudus.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Tuhan Yesus yang berbicara dan mengajar orang banyak dengan sapaan “berbahagialah”. Siapakah yang layak disapa berbahagia oleh Yesus? Mereka adalah orang-orang yang miskin dalam Roh, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang yang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang murah hati, orang yang suci hati, orang yang membawa damai, orang yang dianiaya demi kebenaran. Tuhan Yesus menyapa mereka berbahagialah, bukan sebagai sebuah kiat untuk menjadi bahagia, melainkan bahwa hidup mereka yang nyata di hadapan Tuhan itu membuat mereka layak disapa Tuhan Yesus “berbahagialah”. Mereka semua yang disapa berbahagialah ini layak menerima ganjaran dari Tuhan seperti: merekalah yang empunya kerajaan Allah, merekalah yang akan dihibur, merekalah yang memiliki bumi, merekalah yang akan dipuaskan, merekalah yang beroleh kemurahan, merekalah yang akan melihat Allah, merekalah yang akan disebut anak-anak Allah, merekalah yang empunya kerajaan Surga. Pada bagian terakhir Tuhan Yesus mengarahkan semua orang kepada diri-Nya sambil berkata: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Semua Sabda Bahagia ini merupakan garis besar dari kebajikan-kebajikan dan kualitas-kualitas yang dapat menjadikan setiap pribadi menjadi murid Kristus yang benar dan kudus. St. Yohanes Paulus II selalu mengajak kaum muda: “Jangan takut untuk menjadi kudus!”. Paus Emeritus Benediktus ke-XVI mengatakan: “Semua Sabda bahagia ini sebenarnya menunjukkan sebuah biografi interior dari Tuhan Yesus, merupakan sebuah potret sosok-Nya sendiri.” Para kudus yang kita kenang hari ini adalah pria dan wanita yang memandang sosok Yesus, belajar dan mengikuti-Nya dari dekat sebagai murid dan menjadi serupa dengan-Nya. Banyak orang kudus adalah orang-orang biasa seperti kita tetapi mereka telah berjuang untuk mengatasi segala persoalan dan penderitaan hidupnya. Tuhan Yesus benar-benar menjadi pusat hidup mereka.

Saya mengingat St. Fransiskus dari Asisi, yang mengatakan: “Kuduskanlah dirimu dan engkau akan menguduskan masyarakat”. Kata-kata St. Fransiskus dari Asisi ini sangat inspiratif bagi kita untuk menguduskan diri kita dan dengan sendirinya kita pun menguduskan masyarakat, gereja, bangsa dan negara kita. Kita menguduskan diri ┬ákita dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita supaya dapat menguduskan saudara-saudara yang menyenangi dosa-dosa seperti haus kuasa, para koruptor, para pemiliki, pengedar dan pemakai narkoba dan lain sebagainya. Kehadiran seorang kudus masa kini dapat mentransformasi seribu satu orang berdosa untuk bertobat. Mengapa? Karena kehadirannya menawarkan kebahagiaan dan kasih Kristus kepada mereka. Sebab itu berbahagialah anda dan saya yang siap dan bertekad untuk menjadi orang-orang kudus masa kini. Kuduskanlah dirimu maka kekudusanmu akan mengubah dan membahagiakan sesama yang lain.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply