Homili Hari Minggu Prapaskah I/A – 2020

Hari Minggu Prapaskah I/A
Kej 2:7-9.3:1-7
MT Mzm 51:3-4.5-6a. 12-13.14.17
Rom 5:12-19
Mat 4:1-11

Mentaati Kehendak Tuhan

Saya pernah diundang untuk menghadiri perayaan syukuran dari seorang biarawati yang merayakan 40 tahun hidup membiara (panca windu). Ia memilih moto perayaan yang ditulisnya pada sebuah spanduk besar, buku panduan dan kartu kenangan: “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku” (Mzm 40:8). Setelah perayaan Ekaristi, sang jubilaris ini membagikan pengalaman hidup membiaranya sambil menjelaskan moto perayaannya. Ia mengatakan bahwa selama 40 tahun hidup membiara, ia sungguh merasakan pengalaman Yesus sendiri. Ada saat di mana ia berada di zona nyaman di mana ia boleh tertawa dan bahagia, ada juga saat di mana ia mengalami tantangan berupa godaan-godaan tertentu yang dapat membuatnya menangis dan tertekan. Namun demikian ia tetap mengandalkan Tuhan dan berprinsip untuk setia melakukan kehendak Tuhan di dalam hidupnya. Ini menjadi kekuatan baginya untuk memenangkan segala godaan di dalam hidupnya dan berusaha untuk tetap setia kepada Tuhan Allah.

Saya mendengar dan menyimak pengalaman rohani sang jubilaris ini. Pikiran saya sempat tertuju kepada sosok raja Daud. Beliau mengalami banyak berkat dari Tuhan sehingga menjadi raja yang kuat, namun sempat mengalami banyak cobaan dan tantangan hidup. Ia juga lemah dan jatuh berkali-kali ke dalam dosa namun satu kelebihannya adalah ia tetap mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Sebab itu raja Daud merasa bahwa kehendak Tuhan adalah penting dan harus dilakukan dengan setia. Ia berusaha untuk memenangkan dan menyenangkan hati Tuhan. Ia berdoa kepada Tuhan: “Ajarilah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10). Dalam kelemahan Daud, terdapat kekuatan yang luar biasa dari Tuhan yang dapat mengubah hidupnya dari saat ke saat. Bagi kita saat ini, hal yang terpenting adalah selalu berusaha untuk mentaati dan melakukan kehendak Tuhan bukan kehendak dan kemauan kita sendiri.

Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu pertama Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan sebuah retret agung. Kita semua memandang Yesus yang mengalami dan menang dalam mengatasi godaan atau cobaan iblis di padang gurun. Penginjil Matius mengisahkan bahwa setelah Tuhan Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis, Ia dituntun ke padang gurun oleh Roh supaya dicobai iblis. Kita semua percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Meskipun sebagai Anak Allah, Ia masuk dalam pengalaman manusiawi kita dengan merasakan godaan-godaan dari iblis. Ia merasakan sendiri ujian kesetiaan kepada Bapa di surga. Ia mengalami godaan dari iblis dan memenangkannya supaya membantu manusia yang lemah agar tidak mudah jatuh ke tangan iblis ketika mengalami godaan-godaanya melainkan berani untuk memenangkannya. Kita pasti mengingat janji baptis supaya berani melawan dan mengalahkan iblis dan godaan-godaannya.

Rasul Yohanes pernah berkata, “Sebab semua yang ada di dunia, yaitu keinginan daging, dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia.” (1Yoh 2:16). Kita semua akan memiliki kecenderungan yang sama dan dapat menjatuhkan kita dalam hal keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Kembali kepada sosok Yesus, dalam suasana lapar karena berpuasa selama 40 hari, iblis menunjukkan dirinya untuk menggoda Yesus. Ada tiga jenis godaan yang dialami Yesus dalam perkataan-perkataan berikut ini:

Pencobaan pertama, Yesus yang sedang lapar digoda iblis untuk mengubah batu menjadi roti tetapi Yesus mengatasinya dengan kuasa Sabda Allah. Kita senantiasa mengalami kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Pencobaan pertama ini lebih berkaitan dengan keinginan-keinginan daging yang selalu menggoda hidup kita. Kita memiliki tubuh dan jiwa, kebutuhan jasamani dan rohani. Haruslah kita ingat bahwa kebutuhan jiwa itu lebih luhur karena sifatnya abadi dibandingkan dengan kebutuhan jasmani. Iblis menggoda kita akan hal-hal jasmani seperti rasa lapar. Maka kekuatan kita adalah Sabda Tuhan. Sabda Tuhan mengenyangkan kita. Sabda Tuhan adalah pelita bagi langkah kaki kita.

Pencobaan kedua, Yesus digoda iblis supaya menjatuhkan diri-Nya dari atas Bait Suci tetapi Yesus menghardiknya supaya tidak mencobai Tuhan Allah. Kita mengingat kisah Adam dan Hawa dalam bacaan pertama,  mereka jatuh ke dalam dosa asal karena mereka memiliki satu sikap yakni keangkuhan hidup. Mereka menyalahgunakan kebebasan mereka di hadapan Tuhan sang Pencipta. Keangkuhan hidup atau kesombongan ini menjadi awal kehancuran hidup kita di hadapan Tuhan dan sesama. Iblis menggoda Yesus supaya menjadi sombong di hadapan Allah Bapa, tetapi dengan tegas Yesus mengatakan kepadanya supaya tidak boleh mencobai Tuhan Allah. Berapa kali kita menjadi angkuh, sombong di hadapan Tuhan sehingga jatuh ke dalam dosa. Kita jatuh ke dalam dosa karena kita sedang mencobai Tuhan Allah sendiri. Kita butuh Yesus untuk mengubah hidup kita supaya setia dan kuat dalam mengatasi keangkuhan atau kesombongan diri. Angkuh dan sombong adalah godaan besar di depan pintu kehidupan kita.

Pencobaan ketiga, Yesus digoda iblis supaya sujud menyembahnya namun bagi Yesus justru Allahlah yang harus disembah. Godaan ketiga ini berkaitan dengan keinginan mata yakni kekuasaan, uang dan kerajaan duniawi. Dari mata akan muncul keinginan-keinginan terhadap apa yang sedang kita lihat. Banyak kali manusia mengabdi kepada dua tuan terutama mamon dan lupa mengabdi Tuhan. Tetapi Yesus dengan tegas mengatakan kepada iblis: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti” (Mat 4:10). Untuk kita renungkan bahwa hanya karena harta, kuasa dan uang maka orang menjadi serigala bagi sesamanya.

Apa yang harus kita lakukan untuk dapat mengatasi godaan-godaan iblis dalam hidup kita saat ini?

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk sadar diri sebagai orang berdosa dan bertobat. Banyak kali orang menikmati dosa dan lupa untuk cepat sadar bahwa dirinya orang berdosa. Bagi Paulus, akibat dari dosa asal yang dilakukan oleh satu orang yakni Adam (dan Hawa) maka semua orang menjadi berdosa dan mengalami maut. Namun kasih karunia Allah jauh lebih besar dari pada dosa Adam. Kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dia telah taat kepada Bapa sehingga semua orang memperoleh keselamatan. Paulus mengatakan bahwa seperti ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Menjadi orang taat itu butuh hati yang bersih dan mulia sebab orang yang mampu mentaati dengan sendirinya akan mampu mengasihi. Kita mentaati dengan melakukan kehendak Allah sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kalau kita mengasihi Allah maka dengan sendirinya kita akan mengasihi sesama kita dengan tulus. Apakah anda adalah sosok yang taat kepada Tuhan? Apakah anda setia melakukan kehendak Tuhan?

Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk mengandalkan Yesus dalam mengatasi godaan-godaan hidup kita. Kuncinya adalah menjadi pribadi yang taat dan setia dalam melakukan kehendak Tuhan. Orang benar akan dibenarkan Allah karena ketaatannya untuk melakukan kehendak Tuhan Allah.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply