Renungan 13 Desember 2011

St. Lucia
Zef 3:1-2.9-13; Mzm 34, 2-3.6-7.17-19.23; Mat 21:28-32



Siapa yang dapat diselamatkan? (Mat 19:25)

Setelah berdialog dengan orang muda yang bertanya tentang jenis perbuatan baik yang dapat membawa orang kepada kehidupan kekal, Yesus memberi wejangan yang bagus kepada para muridNya: “Sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”  Perkataan Yesus ini menggemparkan para muridNya dan mereka pun bertanya: “Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mat 19: 23-25)

Pertanyaan “siapakah yang dapat diselamatkan” tetaplah aktual hingga saat ini. Setiap orang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti melakukan pelayanan-pelayanan tertentu, karya amal kasih, matiraga, menerima sakramen tertentu, kehidupan devosional dan praktek kesalehan lainnya memiliki satu cita-cita yaitu supaya dapat menikmati kebahagiaan kekal bersama Bapa di Surga. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah apakah semuanya ini sudah cukup baginya untuk menikmati kebahagiaan kekal di Sorga? Ternyata belum cukup. Masih ada unsur lain yang penting yaitu: mengenal diri dengan baik, menyesali dosa-dosa dan taat kepada Tuhan.

Tuhan Yesus dalam perikop Injil hari ini memberikan perumpamaan tentang dua orang anak. Mereka masing-masing di minta ayahnya untuk pergi dan bekerja di kebun anggur. Anak yang sulung itu mengatakan mau tetapi kemudian tidak mau pergi bekerja di kebun anggur. Anak kedua mengatakan tidak mau tetapi ia kemudian menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur. Baik Yesus maupun para pendengarNya saat itu sepakat untuk mengatakan anak kedua yang melakukan kehendak ayahnya.

Anak sulung adalah simbol orang-orang yahudi yang pertama mengenal Yahve. Mereka hanya puas dengan status quo mengenal hukum Taurat dan melakukannya secara harafiah. Anak bungsu adalah simbol orang-orang asing di luar komunitas Yahudi, orang-orang berdosa, kaum papa, penderita  dan orang Yahudi lain yang terbuka pada rencana keselamatan Tuhan. Mereka berusaha untuk melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup mereka. Mereka-mereka inilah yang layak untuk berbahagia bersama Tuhan Allah di Sorga.

Sejalan dengan perumpamaan dalam Injil, Zefanya menghadirkan kecaman terhadap si pemberontak dan si pencemar yang tidak mau mendengar teguran dan tidak mempedulikan kecaman, tidak percaya dan tidak menghadap Tuhan. Tentu saja kecaman ini ditujukan kepada orang-orang yang masuk pilihan Tuhan tetapi terlalu nyaman sampai melupakan kebaikan Tuhan dan memilih untuk berjalan sendiri. Dengan demikian, menurut Zefanya, rahmat Tuhan akan beralih bukan lagi kepada orang pilihan Tuhan yang lupa diri tetapi kepada sisa Israel yakni “Orang yang rendah hati, lemah sehingga mencari perlindungan pada Tuhan. Mereka ini tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong. Di dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipunya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.” (Zef 3: 12-13).

Sabda Tuhan pada hari ini menyapa sekaligus menegur kita untuk tidak menyerupai anak sulung dengan keluar dari jangkar egoisme. Terkadang kita masih berpikir dan puas dengan pengalaman rohani yang dangkal tetapi berpikir sudah mendalam, niat-niat setelah mengaku dosa muluk-muluk tetapi sulit sekali untuk melakukannya dalam perbuatan nyata. Kita berada di zona nyaman dan lupa bahwa kita membutuhkan Tuhan bukan mempermainkanNya. Mari kita menyesal dan bertobat seperti anak kedua. Figur anak kedua adalah figur sisa Israel yang menyesal karena dosa dan salahnya. Penyesalan berasal dari kerendahan hati di hadirat Tuhan, mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya dan mau bertobat. Sesungguhnya pengalaman akan Allah ditandai dengan pertobatan yang terus menerus.


Santa Lucia…doakanlah kami!

PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply