Homili 24 Maret 2014

Hari Senin, Pekan Prapaskah III

2Raj 5:1-15a

Mzm 42:2.3.43:3.4

Luk 4:24-30

Air itu menyembuhkan!

Fr. JohnSetiap kali memberkati rumah atau orang-orang dan benda-benda lain saya selalu menjelaskan kepada umat elemen-elemen penting dari air berkat atau suci. Air suci terdiri dari air yang  bersih dan sehat yang dicampur dengan garam. Tentu saja garam itu bukanlah sebuah jimat tetapi suatu tambahan atau pelengkap. Doa pemberkatan air pada masa paskah dan masa biasa berbeda. Pastor mengucapkan doa pemberkatan air dengan mengulurkan tangan: “Allah yang Mahakuasa dan kekal, Engkau menghendaki agar jiwa pun dibersihkan dan dianugerahi hidup ilahi berkat curahan air, sumber kehidupan dan sarana penyucian. Kami mohon, kuduskanlah air ini, yang akan kami gunakan untuk meneguhkan penghayatan iman kami. Segarkanlah sumber karuniMu dalam diri kami supaya kami dapat menghadap Engkau dengan hati yang suci murni dan menjadi layak memperoleh keselamatanMu. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami” Amen.

Pastor juga memberkati garam dengan mengucapkan doa: “Allah yang Mahakuasa, Engkau menyuruh nabi Elisa mencampurkan garam ke dalam air supaya air itu memancarkan kesehatan dan kesuburan. Dengan rendah hati kami mohon, tunjukanlah kasih sayangMu dan berkatilah garam ini supaya barangsiapa diperciki dengan air yang dicampuri garam ini diluputkan dari serangan setan dan diteguhkan oleh kehadiran Roh Kudus. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amen”. Air dan garam yang membentuk air berkat dipakai untuk memberkati dan menguduskan pribadi-pribadi dan benda-benda karena Tuhan sendiri hadir melalui RohNya yang Kudus.

Dalam bacaan pertama dari Kitab kedua Raja-Raja, kita mendengar kisah Naaman, panglima raja Aram yang mengidap sakit kusta dan ingin memperoleh kesembuhan. Kebetulan orang-orang Aram yang dipimpin Naaman pernah membawa seorang gadis dari Israel sebagai tawanan dan kini menjadi pelayan isteri Naaman. Gadis itu mengatakan kepada isteri Naaman bahwa seandainya Naaman bisa menghadap nabi di Israel maka ia dapat disembuhkan dari sakit kustanya. Naaman mendapat ijin dari rajanya untuk pergi ke Israel dengan membawa persembahan yakni sepuluh talenta perak, enam ribu sykal emas dan sepuluh potong pakaian. Naaman menyampaikan surat rajanya kepada raja Israel yang memintanya untuk menyembuhkan Naaman. Raja Israel kurang percaya diri sehingga ia mengoyakan pakaiannya dan berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kusta? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.” (2Raj 5:7).

Mendengar berita sang Raja Israel itu maka nabi Elisa mengirim pesan kepada Raja: “Mengapa engkau mengoyakan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel” (2Raj 5: 8). Naaman pun datang ke rumah nabi Elisa dan ia menyuruh Naaman untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan supaya bisa menjadi tahir. Namun Naaman gusar karena ia memiliki harapan yang lebih. Ia berpikir akan dijamah oleh Elisa tetapi hanya disuruh oleh Elisa untuk mandi. Padahal bagi Naaman, sungai-sungai di Siria lebih banyak dan bagus daripada sungai Yordan. Tetapi atas nasihat dari rekan seperjalanannya maka Naaman taat. Ia mandi tujuh kali di sungai Yordan dan mendapat kesembuhan. Naaman mengakui imannya: “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi, tidak ada Allah kecuali di Israel” (2Raj 5:15).

Pengalaman Naaman ini membuka wawasan kita akan dua hal ini. Pertama, Naaman mandi tujuh kali di sungai Yordan dan ia menjadi tahir. Ia mengalami kesembuhan secara misterius, padahal dia bukanlah orang Yahudi. Ia mencari Tuhan dan Tuhan menyembuhkannya melalui perkataan abdi Allah yakni Elisa. Kita semua adalah orang berdosa yang dikuduskan oleh Tuhan melalui sakramen pembaptisan. Dengan sakramen pembaptisan kita menjadi kudus, satu dengan Kristus. Kedua, Orang-orang Israel menutup mata terhadap sang abdi Allah yaitu Elisa. Mereka tidak percaya bahwa Tuhan juga berkarya di Israel dan bahwa Ia juga mempunyai Utusan di Israel. Tuhan menunjukkan kehadiranNya melalui kahadiran Elisa di Israel. Sayang sekali banyak orang tidak mengenalnya.

Pengalaman penolakan terhadap Elisa, sang abdi Allah juga dialami Yesus sendiri. Banyak orang mengenal siapakah Yesus maka mereka juga menunjukkan rasa tidak percaya kepadaNya. Itu sebabnya Yesus dengan jelas mengatakan: “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24). Yesus masih merujuk pada pengalaman Elia dan Elisa dalam dunia perjanjian Lama. Tuhan menggunakan para nabi untuk menunjukkan keagunganNya bagi orang-orang asing. Mengapa demikian? Karena orang-orangnya sendiri tidak mengimaniNya. Dalam prolog Injil Yohanes kita baca: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya tetapi dunia tidak mengenal Dia. Ia datang kepada milik kepunyaanNya tetatpi orang-orang kepunyaanNya tidak menerima Dia” (Yoh 1:10-11).

Bagaimana kita menghayati Sabda di dalam hidup keseharian kita? Banyak kali kita sendiri kesulitan untuk mengucapkan kata terima kasih kepada orang yang membuat suatu kebaikan kepada kita. Apakah anda pernah berterima kasih kepada orang-orang yang bekerja sama denganmu? Dia adalah office boy, pembantu rumah tangga, sopir dan lain-lain. Kalau dengan orang kecil saja sulit mengucapkan terima kasih, bagaimana anda bisa mengucapkan terima kasih kepada suami atau istri atau anakmu? Banyak kali kita juga tidak mengapresiasi orang-orang di sekitar kita karena suatu pelayanan tertentu. Misalnya, pernahkah anda memuji pasanganmu dengan jempol dan kata hebat? Kadang-kadang kita lebih mudah memuji orang lain dari pada memuji orang di dalam rumah atau komunitas sendiri. Mari kita sebagai orang yang dibaptis membenahi diri kita. Air pembaptisan menguduskan kita!

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk mengubah hati kami supaya mampu mengasihi dan menerima sesama apa adanya. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply