Homili 25 November 2014

Hari Selasa, Pekan Biasa XXXIV
Why 14:14-20
Mzm 96:10.11-12.13
Luk 21:5-11

Waspada, Janganlah tersesat!

Fr. JohnKita sedang berada di hari-hari terakhir tahun liturgi. Sabda Tuhan secara khusus mengarahkan kita untuk melihat ke depan, penuh harapan pasti akan kasih dan kebaikan Tuhan sendiri. Dari bacaan Injil kita mendengar pengajaran Tuhan Yesus tentang keruntuhan Bait Allah dan permulaan penderitaan. Tuhan Yesus sedang berada di dalam Bait Allah, Ia menyucikan Bait Allah dengan mengusir orang-orang yang berjualan, menyaksikan orang membawa persembahan dan mengajar dengan kuasa dan wibawa. Di antara mereka yang berada di dalam Bait Allah, ada orang yang sangat mengagumi kemegahan bangunan dan persembahan yang ada di dalam Bait Allah. Mendengar kekaguman banyak orang saat itu, Tuhan Yesus mengalihkan pikiran mereka untuk menyadari bahwa semua yang mereka lihat itu hanya sementara saja. Hanya Tuhan yang abadi.

Tuhan Yesus berkata: “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Luk 5:6). Perkataan Yesus ini nantinya akan terbukti pada tahun 70M, di mana orang-orang Romawi akan meruntuhkan Bait Allah di Yerusalem. Bangunan yang danggap suci oleh orang Yahudi ini hancur. Kesadaran baru yang harusnya mereka miliki adalah mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan. Mereka harusnya menyadari bahwa tubuh mereka adalah tempat tinggal Roh Kudus (1Kor 6:19; Ef 2:22 Tentang kediaman kekal, St. Paulus pernah berkata: “Karena kami tahu bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” ( 2Kor 5: 1).

Para murid yang mendengar pengajaran Yesus saat itu masih keheranan. Mereka berpikir bahwa Yesus sedang berbicara tentang saat yang tepat, tentang akhir dunia atau akhir zaman. Mereka berani bertanya kepada Yesus: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” (Luk 21:7). Manusia saat itu mungkin jenuh dengan kehidupannya maka mereka bertanya kapan akan terjadi. Reaksi Yesus adalah menjawabi pertanyaan para murid ini: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” (Luk 21:8-9).

Banyak nabi palsu yang bertujuan menyesatkan manusia akan bermunculan dan mengakui telah bertemu dengan Yesus. Ada yang terang-terangan mengatakan bahwa Dia ada di sini atau di sana. Para nabi palsu bahkan telah mempengaruhi dan menyesatkan banyak orang baik. Yesus menasihati kita semua supaya waspada terhadap bahaya penyesatan ini. Di samping itu para nabi palsu, fenomena alam juga menjadi tanda-tanda zaman yang pas: peperangan bangsa dan kerajaan, gempa bumi yang dashyat, penyakit sampar, kelaparan dan tanda-tanda lain dari langit.

Semua yang digambarkan di sini barulah tanda-tanda zaman. Kalau begitu, kapan saat yang di nantikan itu akan tiba? Ini menjadi pertanyaan banyak orang dari dulu hingga sekarang. Tuhan Yesus hanya menggambarkan tanda-tanda mengawali semuanya itu. Tuhan Yesus berkata: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mat 13:32). Mengapa hanya Bapa sendiri yang tahu? Karena Dialah yang menciptakan dunia dan isinya. Oleh karena itu kita harus waspada dan jangan tersesat.

Di dalam bacaan pertama, Yohanes menunjuk salah satu penglihatannya tentang tuaian di bumi ini. Ia melihat awan dan di atasnya terdapat seorang menyerupai Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas dan sebilah sabit di tanganNya. Ia mendapat perintah untuk menyabit tuaian di bumi yang sudah matang. Ia juga menyabit buah-buah anggur yang masak dan dimasukkan ke dalam kilangan untuk di peras dan air anggur berubah menjadi darah segar yang mengalir.

Gandum dan anggur adalah bahasa simbolis yang terapkan bagi manusia. Gandum itu ibarat orang-orang benar yang layak di mata Tuhan. Gandum pernah hidup bersama lalang, lalu di potong dan masuk ke dalam lumbung gandum. Gandum adalah lambang orang-orang yang setia kepada Tuhan, lambang orang-orang benar. Mereka akan berada di lumbung yang tepat dan nyaman dan nantinya diolah menjadi santapan kebersamaan. Gandum melambangkan Yesus yang berkorban bagi manusia dan selalu kita kenang dalam Ekaristi. Anggur melambangkan kasih yang mempersatukan pribadi-pribadi. Supaya dapat menjadi minuman yang lezat, anggur harus diperas, rela kehilangan jati dirinya supaya bisa menjadi anggur yang berkualitas. Hidup dan pelayanan kita akan bermakna ketika kita rela berkorban. Anggur menjadi darah Kristus yang tercurah untuk kita semua.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk memiliki semangat rela berkorban. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply