Homili 20 Juni 2015

Hari Sabtu, Pekan Biasa XI
2Kor. 12: 1-10
Mzm. 34:8-9,10-11,12-13
Mat. 6:24-34

Indah di mata Tuhan!

Fr. JohnDalam sebuah acara rekoleksi bersama, seorang peserta yang masih berusia muda mengatakan kekagumannya kepada Tuhan. Ia baru menyadari kasih dan kebaikan-Nya. Ia bercerita bahwa cukup lama ia coba menjauh dari Tuhan. Ia jarang berdoa, selalu jatuh dalam dosa yang sama, merasa ragu akan keberadaan Tuhan. Pada suatu hari ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Kendaraannya hancur namun ia selamat secara ajaib. Sejak saat itu ia tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan. Ia merasa sebagai ciptaan yang indah di hadirat Tuhan sehingga Tuhan pun masih mau mengasihi-Nya. Ia merasa jauh dari Tuhan, namun Tuhan tetap dekat dan mau menyelamatkannya.

Seringkali kita bergumul dengan kehidupan. Ada perasaan mau menjauh dari Tuhan, meragukan-Nya sehingga berkomunikasi pun jarang. Ternyata semua itu hanyalah perasaan manusiawi saja. Kita boleh menjauh tetapi Tuhan tetap dekat dengan. Mengapa Tuhan memperlakukan kita seperti ini? Mengapa Tuhan masih mau memberikan kasih karunia-Nya kepada kita? Ketika menciptakan manusia, Tuhan bersabda: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kej 1:27). Allah Tritunggal Mahakudus sudah menciptakan kita baik adanya sesuai dengan gambar-Nya sendiri.

Melalui nabi Yesaya, Tuhan berkata: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yes 49:15-16). Tuhan begitu baik karena memperhatikan hidup kita apa adanya. Sebagai manusia kita bisa saling melupakan bahkan melupakan Tuhan sendiri tetapi Ia tidak akan melupakan kita semua. Rasanya kita begitu indah di mata-Nya. Ia sendiri bahkan sudah melukiskan diri kita di telapak tangan-Nya. Ia memandang kita dengan penuh kasih karena Dia adalah kasih (1Yoh 4:8.16).

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari, ini membuka pikiran kita untuk bersyukur karena kasih setia-Nya yang begitu indah bagi kita. Tuhan ternyata tidak memandang hina diri kita, tetapi memandang mulia diri kita. Oleh karena itu dengan kemuliaan dan kekudusan-Nya di dalam diri kita maka kita dipanggil untuk memancarkan kekudusan-Nya. Kita dipanggil untuk setia mengabdi-Nya dengan hati yang tidak terbagi. Artinya kalau kita sudah berjanji untuk mengabdikan diri kepada-Nya maka janganlah hati kita menjauh atau terpisah dari pada-Nya. Janganlah menduakan Tuhan dalam hidup ini. Artinya janganlah mengatakan mengabdi kepada Tuhan tetapi nyatanya kita juga menyembah berhala, terikat penuh pada harta benda duniawi.

Tuhan Yesus juga mengingatkan kita supaya tidak perlu khawatir dengan hidup kita. Dia pasti mencukupi segala kebutuhan hidup kita. Mengapa? Karena kita bernilai di hadirat-Nya. Tuhan bersabda: “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat 6:25). Orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan tidak akan merasa kuatir dengan hidupnya karena ia percaya bahwa Tuhan akan mencukupkannya. Pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. Mengapa anda masih kuatir juga?

Untuk lebih meyakinkan lagi para murid-Nya, Yesus lalu membandingkan dengan ciptaan lain seperti burung di udara dan bunga bakung. Burung-burung di udara tetap diberi makan oleh Tuhan Pencipta. Mereka tidak bekerja seperti manusia tetapi mereka tetap hidup karena Tuhan mengasihi mereka. Demikian juga dengan bunga bakung dan keindahannya merupakan pemberian Tuhan secara cuma-cuma. Oleh karena itu kita dihimbau oleh Tuhan Yesus untuk tidak perlu kuatir akan apa yang kita makan atau minum. Dialah yang akan mencukupkannya. Kita sungguh berharga di mata-Nya.

Apa yang harus kita lakukan? Perkataan Tuhan Yesus di atas sangat menguatkan kita semua. Kita bernilai di mata Tuhan. Dia mengasihi kita apa adanya. Oleh karena itu Tuhan mengingatkan kita supaya lebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kerajaan yang penuh dengan kasih dan dan damai. Kita mencari, menemukan dan merasakannya sebagai kasih karunia. Tuhan bahkan berjanji bahwa semua yang lain akan Tuhan tambahkan kepada kita. Betapa kita hidup berkelimpahan karena kasih karunia dari Allah.

Kita semua juga disadarkan untuk mengikuti teladan St. Paulus. Ia tidak pernah kuatir dengan hidupnya. Ia bahkan mengakui bahwa segala kelemahan yang dimilikinya menjadi kekuatan baginya untuk melayani Kristus. Dengan kata lain, Paulus merasa lemah di hadapan manusia tetapi Tuhan Yesus menguatkannya dan menjadikannya sebagai pelayan. Sungguh setiap pribadi itu indah di mata Tuhan.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply