Pesta St. Matius, Penginjil
Ef. 4:1-7,11-13
Mzm. 19:2-3,4-5
Mat. 9:9-13
Bukan Hanya sekedar mengikuti Yesus.
Banyak di antara kita pesti sudah mendengar dan mengetahui perkataan dalam bahasa Latin: ‘Sequela Christi’. Perkataan ini berarti ‘Mengikuti Kristus’ atau ‘Mengikuti Jejak Kristus. Sequela Christi berhubungan dengan semangat pemuridan (discipleship). Pemuridan Kristus itu berakar pada panggilan untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus Kristus. Sequela Christi itu berarti hidup yang semakin menyerupai Kristus sendiri. Dalam spiritualitas Kristiani dan kehidupan monastik, Sequela Christi berarti membentuk hidup, nilai-nilai, dan tindakan seseorang agar selaras dengan Kristus, bukan sekadar meniru sosok historis yaitu Yesus sendiri. Sequela Christi berhubungan dengan Hidup Bakti, terutama berhubungan dengan penghayatan kaul-kaul kebiaraan dan kehidupan lembaga-lembaga religius, biarawan, dan biarawati. Dengan demikian, mengikuti jejak Kristus itu menuntut radikalitas dalam hidup Kristiani. Orang harus serius, penuh komitmen untuk membangun relasi pribadi dengan Kristus sendiri. Jadi bukan hanya sekedar mengikuti Kristus saja tetapi menjadi serupa dengan Kristus dalam segala hal kecuali dalam hal dosa.
Kita semua memiliki masa lalu yang bisa gelap bisa juga terang. Kita mungkin merasa malu ketika mengingat kegelapan hidup kita di masa lalu dan ingin melihat dan merasakan terang meskipun tidaklah semudah yang dibayangkan. Mungkin saja ada orang yang tidak merasa malu dengan pengalaman kegelapannya, menerimanya dan siap untuk berubah menjadi lebih baik. Atau mungkin saja ada orang lain yang tidak mau keluar dari kegelapan masa lalu dan tetap mau menikmati kegelapan itu dalam sisa hidupnya. Setiap orang mempertanggungjawabkan itu dengan Tuhan sendiri.
Sosok yang menginspirasi kita pada hari ini adalah Santo Matius, sebagai Rasul dan Penulis Injil. Penginjil Lukas dan Markus menyebutnya sebagai Lewi, sedangkan Matius sendiri dalam Injilnya langsung menyebut dirinya dengan namanya sendiri yaitu Matius. Nama Matius berarti Karunia dari Yahwe. Namanya ini mencerminkan seluruh hidupnya bersama Kristus. Kisah panggilannya untuk mengikuti Yesus memang sangatlah unik. Dia adalah seorang pemungut cukai di Kapernaum. Seorang pemungut cukai pada saat itu sangat dibenci karena mereka adalah orang Yahudi, menagih pajak orang Yahudi dan memberikannya kepada orang Romawi. Mereka juga kadang tidak jujur ketika menagih pajak karena dianggap menguntungkan diri sendiri. Matius adalah salah seorang yang dibenci orang-orang pada zamannya karena profesinya ini.
Dikisahkann bahwa pada suatu hari Tuhan Yesus berjalan-jalan dan singgah di tempat kerja Matius. Dia berada di depan meja cukai. Tuhan Yesus memandangnya dengan penuh kasih dan memanggilnya: “Ikutlah Aku!” Reaksi positif dari Matius adalah dia mendengar panggilan dan ajakan Yesus, berdiri sambil meninggalkan meja cuka, tempat basah baginya dan sumber penghasilannya, lalu segera mengikuti Yesus. Sebenarnya tidaklah mudah bagi seorang yang sudah berada di tempat basah untuk meninggalkan tempatnya itu. Ternyata Matius bisa berdiri, meninggalkan semua dan mengikuti Yesus lebih dekat lagi. Tiga kata kunci pertobatan Matius adalah mendengar, bangun atau bangkit berdiri dan mengikuti Yesus. Matius juga bersyukur atau hidup barunya ini dengan mengadakann perjamuan. Mereka yang dijamu Matius adalah Yesus, para rekan sejawat sebelumnya yakni para pemungut cukai dan kaum pendosa. Mereka duduk bersama Yesus dan makan bersama.
Kaum Farisi selalu bertentangan dengan Yesus. Mereka tidak melihat perbuatan baik Yesus yakni mengubah hidup Matius tetapi mengeritik-Nya. Mereka tidak melihat panggilan dan pertobatan Matius serta luapan rasa syukur atas hidup barunya tetapi orang Farisi tetap melabelnya sebagai pemungut cukuai. Itulah hidup manusia yang tidak melihat perbuatan baik sesama dan selalu mengingat masa lalu orang lain tetapi melupakan masa lalunya sendiri yang mungkin gelap dan lebih gelap. Tuhan Yesus mengedukasi orang-orang pada zamannya dengan berkata: “Bukan orang sehat yang membutuhkan Tabib melainkan orang sakit” Tuhan Yesus datang bukan untuk mencari orang benar melainkan orang berdosa. Tuhan Yesus mengubah pola pikir orang-orang pada zaman-Nya, meskipun hati orang-orang tegar.
Pada hari ini kita belajar dari Santo Matius. Kita tidak hanya sekedar mengikuti Yesus Kristus tetapi penuh dengan konsekuensi: menyangkal diri dan memikul Salib lalu mengikuti Yesus. Matius mengalaminya dengan masa lalunya sebagai pemungut cukai namun menjalani hidup baru, menulis Injil dan mewartakannya di Palestina, Etiopia dan Persia hingga menjadi Martir. Kita tidak hanya sekedar mengikuti Yesus saja tetapi kita perlu memberi diri sampai tuntas sebagai tanda cinta kita kepada Kristus. Santo Matius, doakanlah kami. Amen.
P. John Laba, SDB