Homili 15 Oktober 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXVIIIA
PW. Santa Theresia dari Avilla
Ef 1:1-10
Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6
Luk 11:47-54

Saya hidup Untuk Tuhan

Saya pernah berjumpa dengan sekelompok Misionaris Awam dari Italia. Mereka sudah melayani sesama manusia di sebuah negara di benua Afrika selama beberapa tahun terakhir. Dalam perbincangan kami di ruang tunggu airport, saya mengingat sharing mereka yang bagus dan ada perkataan yang saya selalu ingat: “Kami sedang melayani Tuhan dalam diri orang-orang kecil yang nyaris kehilangan harapan tanpa perlu mengenakan jubah putih dan tergabung dalam sebuah Tarekat hidup bakti. Kami merasa bahagia bisa melihat wajah Tuhan dalam diri mereka pada saat melayani mereka. Kami adalah misionaris awam yang ikut melayani Tuhan”. Mereka terbang duluan ke tempat tujuan tetapi sungguh menginspirasi saya secara pribadi melalui perkataan saha seorang di antara mereka.

Pada hari ini kita mengenang Santa Theresia dari Avilla atau dikenal dengan nama lain Theresia de Jesus. Pujangga Gereja dan Mistikus ini tidak pernah menjadi misionaris tetapi pemikirannya tentang para misionaris itu luar biasa. Dia sangat menghormati dan berempati dengan para misionaris.

Sebagai contoh, dikisahkann bahwa pada tahun 1566, seorang misionaris Fransiskan bernama Bruder Alonso Maldonado kembali ke Spanyol dari Amerika. Ia mengunjungi biara Teresa dan berbicara dengan penuh semangat tentang jutaan penduduk asli yang hidup tanpa bimbingan Kristiani. Mendengar itu, Teresa menulis dalam catatan otobiografinya bahwa sharing misionaris ini sangat mengguncangnya: “Aku begitu diliputi kesedihan atas hilangnya begitu banyak jiwa sehingga aku tak mampu menahan diri. Aku pergi ke sebuah tempat pertapaan sambil meneteskan banyak air mata. Aku berseru kepada Tuhan, memohon kepada-Nya agar Dia memberiku sarana untuk dapat melakukan sesuatu guna memenangkan beberapa jiwa bagi pelayanan-Nya”.

Seorang pengikut Kristus mestinya berprinsip hidup untuk Tuhan. Santa Theresia dari Avilla tidak hanya berempati dengan para misionaris saja, tetapi secara pribadi dia juga menunjukkan hidup misioner pada dirinya sendiri. Kita mengingat ekspresinya dalam sebah puisi: “Nada te turbe, nada te espante, todo de pasa, Dios no se muda… solo Dios basta” (Janganlah ada sesuatu yang mengguncangmu, janganlah ada sesuatu yang menakutkanmu. Segalanya akan berlalu. Allah tidak berubah… hanya Allah saja sudah cukup”. Seorang misionaris sejati perlu memiliki prinsip ‘Solo Dios basta’. Hanya dengan demikian sang misionaris itu seperti perkataan santo Paulus kepada jemaat di Efesus bahwa Allah telah memilih kita sebelum menciptakan jagat raya. Allah juga memilihmu menjadi putera dan puteri-Nya. Solo Dios basta! Santa Theresia dari Avila mendoakan kita semua.

P. John Laba, SDB