Homili 14 Oktober 2026

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXVIIIA
Gal 5:18-25
Mzm 1:1-2.3.4.6
Luk 11:42-46

Saya ini Milik Kristus

Ada seorang Katekumen yang bersaksi bahwa ia sebagai orang dewasa, dengan penuh bebas mengambil keputusan untuk menjadi katekumen dan selanjutnya siap untuk dibaptis sebagai pengikut Kristus. Ia sendiri memiliki pengalaman yang sederhana: Ketika ia melakukan suatu perjalanan ke luar kota, bus yang ditumpanginya agak laen. Bus itu milik orang katolik karena ia melihat ada patung Bunda Maria yang mungil, lalu ada Salib Kristus yang memiliki Corpus, dan dibawanya terdapat sebuah tulisan: “Saya ini milik Kristus”. Semua yang lain ia lupakan setelah meninggalkan Bus, tetapi tulisan kecil di bawah Salib: “Saya ini milik Kristus” membuatnya gelisah dan tertantang selama berhari-hari. Ia bertanya dalam hatinya: “Apakah saya juga milik Kristus?” Dia akhirnya mendapat jawaban bahwa dirinya juga milik Kristus. Sebab itu ia mempelajari-Nya dan berusaha untuk mencintai-Nya.

Pengalaman sang Katekumen ini memang sederhana tetapi sangat bermakna. Tuhan memanggil, menyentuh dan mengubah anda dan saya untuk menjadi baru. Proses transformasi dalam beriman ini, kita semua sudah, sedang dan akan memengalaminya. Tuhan memanggil kita sesuai dengan keadaan di mana kita berada. Tuhan tidak memanggil kita pada saat kita sedang berdoa, mengikuti Ekaristi, beradorasi suci atau pada saat kita sedang berdoa rosario. Tuhan memanggil kita di saat dan tempat yang tepat pada waktunya. Sebagai contoh: Musa dipanggil ketika ia sedang menggembalakan ternak milik mertuanya. Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes dipanggil Yesus ketika mereka masih bekerja sebagai nelayan lalu diubah menjadi penjala manusia. Lewi dipanggil Tuhan Yesus ketika ia sedang bekerja sebagai pemungut cukai. Tuhan Yesus memiliki cara istimewa untuk memanggil, menyentuh dan mengubah sesuai dengan kehendak-Nya.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia, melanjutkan nasihat-nasihatnya kepada jemaat yang telah menerima pewartaan Injil. Dia mengingatkan mereka supaya sekiranya mereka dibimbing oleh Roh maka mereka tidak hidup dibawah hukum Taurat. Orang-orang Galatia juga telah terjerumus dalam dosa kedagingan mereka. Dosa-dosa yang dimaksudkan adalah: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perceksokan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan lain sebagainya. Paulus menegaskan bahwa kalau saja ada di antara mereka melakukannya maka mereka tidak layak untuk Kerajaan Allah. Semua dosa atau hal kedagingan ini selalu ada bersama kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya sebagai anak-anak Tuhan.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Kita perlu taat kepada Roh Kudus. Menurut santo Paulus, hasi-hasil dari Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut, dan penguasaan diri. Ini adalah hasil atau buah-buah Roh yang mesti kita miliki di dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus. Santo Paulus lalu menegaskan: “Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Maka kita perlu menyadari bahwa jika kita hidup dalam Roh maka alangkah baiknya kita juga dipimpin oleh Roh. Pertanyaannya adalah, apakah kita terbuka pada Roh dan siap untuk dipimpin oleh Roh? Kita milik Kristus maka kita harus patuh dan siap untuk dipimpin oleh Roh. Kita hidup dalam Roh maka kita juga akan hidu dalamm terang. Tuhan juga tidak akan mengatakan kepada kita ‘celakalah’ sebagaimana dikatakan-Nya kepada orang-orang Farisi.

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini, memberikan kecaman-kecaman tajam terhadap kemunafikan dalam beragama, ritualisme kosng, dan kesombongan, yang membandingkan praktik keagamaan yang tampak di luar dengan keadilan sejati, belas kasihan dan kasih Allah. Kecaman Yesus dengan menggunakan kata ‘Celakalag’. Kecaman Yesus ini bukan tanpa dasar. Orang-orang Farisi itu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Kesalehan lahiria saja tidak memiliki makna. Tuhan Yesus juga mengumpamakan kubur yang bagian luarnya indah tetapi bagian dalamnya amis. Demikian juga orang-orang-orang Farisi membebani orang lain tanpa bersedia untuk membantu.

Sabda Tuhan pada hari ini membuka wawasan kita untuk bertumbuh sungguh-sunggu menjadi milik Kristus. Kita menjadi milik Kristus dengan menghargai nilai-nilai kehidupan sesama dan berusaha meninggalkan kedagingan kita. Kita adalah milik Kristus yang hidup dalam Roh.

P. John Laba, SDB