Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXVIII
Gal 4:22-24.26-27.31-5:1
Mzm 113:1-2.3-4.5a.6-7
Luk 11:29-32
Ada kesempatan untuk bertobat
Adalah santo Yohanes Krisostomus. Ia pernah mengatakan begini: “Apabila pertobatan diabaikan sekilas saja, seseorang dapat kehilangan kekuatan Kebangkitan karena ia hidup dalam kelemahan, ketidakpedulian dan risiko kejatuhannya” Perkataan orang kudus ini tentu memiliki nilai positif bagi kita untuk tidak mudah jatuh ke dalam dosa. Orang kudus lain se[erti St. Gregorius Palamas pernah mengatakan: “Pertobatan adalah awal, pertengahan dan akhir dari cara hidup seorang pengikut Kristus”. Pertobatan membawa kita pada pengalaman akan Allah. Memang pengalaman akan Allah itu selalu ditandai dengan pertobatan yang terus menerus dalam diri kita.
Pada hari ini, di dalam perikop Injil Lukas (Luk 11:29-32), Tuhan Yesus menyerukan urgensinya pertobatan, mengakui otoritas tertinggi yaitu Kristus sendiri dan kepatuhan kepada Sabda Tuhan, dari pada terus-menerus menuntut bukti-bukti berupa tanda-tanda yang sensasional. Tuhan Yesus mula-mula menegur orang banyak dengan menyebut mereka sebagai ‘angkatan yang jahat’ karena mereka terus menerus menuntut adanya sebuah tanda sebagai mujizat tambahan yang dapat membuat mereka percaya kepada Tuhan. Padahal yang terpenting di sini adalah sebagai pengikut Kristus, kita perlu membuka hati terhadap Kebenaran dan Hidup yang sedang berada di tengah-tengah mereka yaitu Kristus sendiri.
Tuhan Yesus juga menyadarkan orang banyak bahwa Nabi Yunus adalah priadi yang pernah menyerukan pertobatan di Niniwe. Seruannya berhasil mempertobatkan orang-orang Niniwe. Yunus lalu menjadi tanda pertobatan bagi orang-orang Niniwe. Num kita harus ingat bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak hanya menyerukan pertobatan seperti Yunus. Tuhan Yesus lebih besar dari pada Yunus karena Ia mengorbankan diri dan menyelamatkan umat manusia dengan wafat di Salib. Inilah kasih yang besar dari Allah Bapa kepada kita melalui Yesus Kristus Putera-Nya.
Seorang pengikut Kristus sejatu perlu membangun pertobatan pribadinya dan menaatinya dengan baik supaya dapat mempertobatkan sesama. Secara konkret, kita semua dapat menjadi Yunus masa kini untuk mempertobatkan sesama, namun lebih penting adalag pertobatan pribadi untuk mengalami kerahiman Allah. Apakah anda rajin mengaku dosa? Ataukah karena kita sudah dekat dengan para gembala sehingga mengabaikan Sakramen tobat? Ini adalah sebuah kelemahan dalam hidup Kristiani Mari kita bertransformasi.
P. John Laba, SDB