Homili 26 Oktober 2018

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIX
Ef. 4:1-6
Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
Luk. 12:54-59

Hidup sepadan dengan panggilan

Ada sebuah kata yang mendadak jadi viral di berbagai media selama beberapa hari terakhir ini yakni kata Sontoloyo. Adalah Presiden Joko Widodo yang menggunakan istilah ‘Politikus Sontoloyo’ ketika pada tanggal 23 Oktober 2018 lalu membagi 5.000 sertifikat lahan di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Semua orang yang mendengarnya baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung beliau seakan terbangun dari tidurnya, sambil berteriak Sontoloyo. Kata ini mulanya berkaitan dengan para penggembala yang menggembalakan bebek dan itik keluar kandangnya menuju ke sawah untuk mendapatkan makanan. Artinya meluas menjadi konyol, tidak beres dan bodoh. Maka kata sontoloyo sebenarnya merupakan kritik sosial yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo kepada para politikus yang hidupnya tidak sepadan dengan panggilannya sebagai seorang politikus. Seorang politikus mestinya menyadari tugas panggilannya untuk bekerja demi kebaikan bersama (bonum commune), bukan hanya sekedar mengejar kekuasaan. Seorang sahabat mengatakan bahwa para politikus yang hidupnya tidak sepadan dengan panggilannya untuk memperjuangkan bonum commune layak disebut Sontoloyo.

Tentu saja homili hari ini bukan untuk membantu kita untuk merenungkan kata Sontoloyo ini. Saya lebih terinspirasi untuk mengajak kita semua supaya mewujudkan hidup sebagai pribadi yang sepadan dengan panggilan yang dianugerahkan Tuhan bagi kita masing-masing. Santu Paulus adalah seorang misionaris agung yang berkeliling sambil berbuat baik sambil mewartakan Injil, kini mengalami penindasan dengan pengalaman dipenjarakan demi Tuhan. Ia merelakan diri untuk dipenjara karena mewartakan Injil. Kita mengingat perkataan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:11-12).

Dari dalam penjara, Paulus menasihati jemaat di Efesus dan kita yang membaca dan merenungkan perkataannya ini supaya kita hidup sepadan dengan panggilan sebagai orang Kristen atau Kristus kecil di dunia ini. Artinya kita semua mengakui diri sebagai pengikut Kristus adalah wujud nyata dari panggilan kita. Menjadi orang Kristen atau pengikut Kristus adalah sebuah panggilan luhur yang datang dari Tuhan Yesus sendiri. Sebagaia Kristus kecil, kita berusaha supaya selalu menyerupai Kristus sendiri. Hidup Kristus benar-benar nyata dalam hidup pribadi kita.

Apa yang dapat kita tunjukan kepada sesama sebagai Kristus kecil di dunia ini? St. Paulus mengajak kita untuk menyerupai Yesus dalam segala hal. Kita hendaknya rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tiga kata ini kelihatan sederhana namun sangatlah sulit untuk kita hayati dalam hidup setiap hari. Orang yang rendah hati tidak akan mengatakan bahwa ia rendah hati. Rendah hati itu sebuah kebajikan yang tidak diungkapkan tetapi memiliki daya untuk mambantu orang lain menjadi lebih baik dalam hidupnya. Tuhan Yesus adalah model kerendahan hati bagi kita. Dialah Anak Allah yang merendahkan diri, mengosongkan diri untuk keselamatan kita. Tuhan Yesus juga menunjukkan kebajikan kelembutan hati. Hati yang lemah lembut akan menerima, mengampuni dan mengasihi semua orang seperti Tuhan sendiri. Tuhan Yesus juga menunjukkan kesabaran-Nya kepada kita. Berkali-kali kita menyangkal Yesus dengan jatuh ke dalam dosa yang sama namun Ia tetap mengampuni dan memberikan pengampunan yang berlimpah.

Hidup yang sepadan dengan panggilan sebagai pengikut Kristus juga ditunjukan dengan menunjukkan kasih dan saling membantu, memelihara kesatuan Roh dan ikatan damai sejahtera. Hanya dengan demikian kita benar-benar menyatu dengan Kristus yang satu dan sama. Apa yang kita peroleh dari hidup yang sepadan dengan panggilan ini? Paulus mengatakan bahwa kita memperoleh: “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” (Ef 3-6). Hidup yang sepadan dengan panggilan adalah hidup yang penuh persatuan. Satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan satu Allah. Dengan demikian kita benar-benar menjadi saudara. Raja Daud pernah bersukacita sambil berkata: “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” (Mzm 133:1).

Hidup yang sepadan dengan panggilan sebagai pengikut Kristus membantu kita untuk pandai membaca tanda-tanda zaman sebagaimana ajakan Yesus dalam bacaan Injil. Yesus mengetahui hidup kita, bahwasannya kita dianugerahi akal budi untuk memahami tanda-tanda zaman melalui awan dan angin. Dengan melihat awan naik di sebelah barat maka pikiran kita tertuju pada hujan yang akan segera tiba. Dengan merasakan angin dari arah selatan maka orang langsung tahu akan teriknya hari itu. Orang hanya pandai memahami suasana alam tetapi tidak pandai membaca tanda-tanda zaman. Hidup sepadan dengan panggilan berarti hidup dalam Kristus sendiri. Hidup dan mengalami damai dengan Tuhan dan sesama.

Hidup Kristen yang sepadan dengan Kristus bukanlah hidup sontoloyo, hidup dalam kekonyolan, tidak beres dan bodoh. Tuhan Yesus membebaskan kita dari berbagai kebodohan dan dosa. Saya berbangga sebagai orang Katolik dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, supaya semakin serupa dengan-Nya. Hidup sepadan berarti hidup yang cocok dengan Yesus sendiri. Apakah saya sudah berusaha untuk menyerupai Tuhan Yesus sendiri? Kalau Kristus ada bersama kita maka janganlah menjadi pengikut Kristus yang sontoloyo, yang tidak memiliki arah hidup. Hanya Yesuslah jalan, kebenaran yang memerdekakan dan hidup kita.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply