Homili 7 Maret 2014

Hari Jumat Sesudah Rabu Abu

Yes 58:1-9a;

Mzm 51:3-4,5-6a,18-19;

Mat 9:14-15

Berpuasa yang benar adalah…

Fr. JohnKita berada di hari ketiga masa prapaskah atau masa puasa. Mengawali masa puasa dan pantang banyak umat selalu bertanya bagaimana dan selama berapa lama orang katolik berpuasa dan berpantang padahal setiap tahun kita melakukannya.Secara umum, berpuasa berarti kita makan kenyang satu kali dalam sehari. Jadi pada umumnya puasa adalah tindakan sukarela untuk tidak makan atau tidak minum seluruhnya, yang berarti mengurangi makan atau minum. Berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa. Puasa merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya. Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan. Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau. Pantang pada umumnya berhubungan dengan pantang  daging, rokok, garam, gula dan semua manisan seperti permen, dan atau pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop, film. Kita melangsungkannya selama 40 hari. Hari Minggu selama masa prapaskah tidak dihitung sebagai hari puasa. Puasa dan pantang dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung.

Gambaran umum tentang berpuasa dan pantang masih belum dimengerti dengan baik oleh banyak orang katolik. Kadang-kadang orang katolik lebih memprioritaskan praktik puasa yang kelihatan, padahal Tuhan menghendaki hal yang tersembunyi di dalam hati. Orang juga hanya berpikir sejauh puasa dan pantang itu berhubungan dengan makanan, minuman dan pakaian yang dipakai setiap hari. Padahal Yoel berkata: “Koyakanlah hatimu, jangan koyakan pakaianmu” (Yl 2:13). Pertobatan yang benar itu berasal dari dalam hati kita. Hati kita harus berubah!

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengarahkan kita untuk mengerti makna puasa dan pantang. Orang-orang bertanya kepadanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga? Sesungguhnya pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena.” (Yes 58: 3-4). Orang berpuasa bukan untuk berbuat dosa. Orang berpuasa untuk membangun iman sehingga dapat mencapai kekudusan. Orang yang berpuasa menurut Yesaya adalah orang yang merendahkan diri di hadirat Tuhan.

Selanjutnya Tuhan melalui nabi Yesaya mengatakan bahwa berpuasa yang dikehendakiNya adalah: “Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang-orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, memecahkan roti bagi orang yang lapar, membawa ke rumah orang miskin yang tidak punya rumah, ketika melihat orang telanjang engkau memberikan pakaian.” (Yes 58: 6-7). Perbuatan-perbuatan baik ini adalah terang bagi sesama. Tuhan sangat memihak kepada orang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik. Yesus di dalam Injil mengatakan bahwa semua yang kita lakukan bagi seorang yang miskin, kita melakukan untuk diriNya sendiri (Mat 25:40).

Berpuasa dalam pikiran nabi Yesaya adalah pengorbanan diri kita terhadap hal-hal yang sangat menyukakan hati. Hal-hal yang mengikat hati itu kita korbankan untuk saudara-saudara yang sangat membutuhkan. Dengan rendah hati di hadirat Tuhan, kita juga dapat melakukannya dengan baik untuk kemuliaan namaNya sendiri.

Tuhan Yesus sendiri sebenarnya tidak menghendaki puasa sebagaimana dikehendaki banyak orang.  Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis datang kepada Yesus dan berkata bahwa mereka berpuasa sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa. Yesus dengan tegas berkata: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai masih ada bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang, mempelai akan diambil dari mereka dan saat itu juga mereka akan berpuasa” (Mat 9:15). Puasa mesianis adalah sukacita karena kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah kita. Puasa Mesianis merupakan perjumpaan dengan Yesus dan bersekutu denganNya. Puasa akan terjadi ketika kita ikut dalam penderitaan Kristus.

Sabda Tuhan pada hari ini menyadarkan kita untuk berpuasa secara jasmani bukan hanya sekedar tanda-tanda lahiria belaka. Kita butuh waktu untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Semoga dalam masa prapaskah ini kita semakin akrab degan Tuhan. Kita wujudkan keakraban dengan Tuhan melalui perbuatan-perbuatan baik.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk dapat berpuasa dan berpantang dengan baik sehingga dapat mencapai kekudusan hidup. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply