Homili Hari Minggu Biasa ke-XX/C – 2019

Hari Minggu Biasa ke-XX/C
Yer 38:4-6.8-10
Mzm 40:2-3.4.18
Ibr 12:1-4
Luk 12:49-53

Yesus andalanku!

Pada suatu hari saya coba mencari di google serach dengan menulis ‘Yesus andalanku’ dan dalam waktu 50 detik sudah muncul 36.700 informasi. Artinya istilah ini dalam Bahasa Indonesia memang popular. Kita pikirkan saudari dan saudara yang merasul melalui kerahiman ilahi pasti menyumbang popularitas ‘Yesus andalanku’ ini. Kita masing-masing boleh menambah dan meningkatkan popularitas kalimat ini. Dijamin tidak ada ‘jin’ di balik gambar Yesus kerahiman ilahi. Terlepas dari semuanya ini, bagi saya, tugas dan tanggung jawab kita adalah menjadikan Yesus sebagai andalan hidup, sekaligus pusat kehidupan kita. Tuhan Yesus yang satu dan sama rela datang ke dunia dengan membawa api dan menghendaki supaya api itu tetap menyalah. Api adalah Roh Kudus yang membangunkan Gereja dari tidur imannya. Kita mengikuti Tuhan Yesus dengan segala konsekuensi bahkan menuntut kemartiran kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini mengarahkan kita untuk lebih fokus lagi pada Tuhan Allah Tritunggal yang menjadi andalan hidup kita. Jati diri kita sebagai orang Kristen patutlah kita tunjukkan. Mari kita mulai dari bacaan pertama. Nabi Yeremia membantu kita untuk menjadi misionaris bagi Sabda Tuhan. Dalam menjalankan tugas perutusan sebagai misionaris Sabda makasangat dibutuhkan kekuatan untuk tahan banting, sebab kita akan selalu berhadapan dengan penolakan-penolakan atas Sabda, hingga kemartiran. Nabi Yeremia mengalaminya sendiri berbagai penolakan dan penganiayaan yang datang dari orang-orang dekat bukan orang jauh.

Para pemuka Israel berbicara dengan Raja Zedekia saat itu untuk menghukum mati nabi Yeremia. Bagi mereka semua perkataan nabi Yeremia terutama nubuatnya tentang malapetaka yang akan menimpa Israel telah menjadi racun bagi Israel. Nubuat Yeremia turut melemahkan semangat para prajurit yang masih tinggal di kota, dan melemahkan semangat rakyatnya. Bagi para pemuka, Yeremia hanya mendatangkan kemalangan bagi Israel. Zedekia mendengar semua ancaman para pemuka kepada nabi Yeremia. Ia mengatakan kepada mereka bahwa Yeremia ada dalam kuasa mereka bukan kuasa raja. Penganiayaan kepada Yeremia dilakukan dengan memasukannya ke dalam sumur milik pangeran Malkia. Untung ada Ebed-Melekh, seorang Etiopia yang menginformasikan hal ini kepada raja. Raja memintanya untuk membawa tiga orang untuk mengangkat nabi Yeremia di dalam sumur berlumpur. Yeremia pun bebas dan luput dari kematian. Seorang nabi ketika melakukan tugas kenabiannya penuh dengan ancaman bahkan tuntutan nyawa. Tetapi ada satu yang baik, Tuhan tetapi menyertai nabi Yeremia.

Dalam bacaan kedua, penulis surat kepada umat ibrani menyadari bahwa untuk berjalan menuju kepada Yesus sebagai pusat hidup kita tentu melewati banyak rintangan dan halangan terutama dosa yang selalu datang dan dialami manusia. Untuk itu seluruh jemaat diajak supaya menaggalkan semua beban dan dosa yang selalu merintangi hidup manusia. Para pengikut Kristus sebenarnya harus tekun dalam perlombaan yang menjadi kewajibannya. Semua itu harus dilakukan dengan mata yang selalu tertuju kepada Yesus. Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan Dialah yang akan memimpin kepada iman dan menyempurnakan iman kita.

Dari Yesus kita belajar bagaimana Ia mengolah penderitaan-Nya menjadi berkat yakni keselamatan bagi manusia. Ia memikul salib dengan sukacita. Semuanya dilakukan dengan cinta kepada kaum pendosa. Maka sebagai pengikut Kristus pikiran kita hendaknya hanya tertuju kepada Kristus. Dialah satu-satunya penyelamat kita, tidak ada yang lain. In Cruce Salus, pada salib ada keselamatan kita. Meskipun orang yang tidak mengerti tentang misteri salib mencemooh dan menyamakan Dia yang tersalib sebagai ‘Jin’ sebagaimana diungkapkan Ustad Abdul Somad kepada jemaatnya. Hanya drakula dan setan yang takut melihat salib, tetapi kita para pengikut Kristus melihat salib sebagai keselamatan. Maka tepat sekali perkataan ini: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” (Ibr 12:3-4).

Tuhan Yesus yang satu dan sama telah datang ke dunia untuk melemparkan api ke bumi dan Ia tetap mendambakan supaya api itu tetap menyala. Ia rela menderita untuk keselamatan orang berdosa. Maka pikiran banyak orang adalah bahwa Yesus membawa damai. Ya Dia membawa damai tetapi damai dalam nuansa penuh pertentangan, penderitaan dan kemalangan. Ia menderita, hingga wafat supaya mendamaikan manusia yang berdosa dengan Bapa di Surga. Yesus benar-benar menjadi damai kita. Maka kita harus berani memilih untuk bersama Yesus yang penuh dengan penderitaan dan salib atau menjauh dari pada-Nya. Menjauh dari Yesus berarti menentang Yesus dalam hidup ini. Di sini butuh keberanian untuk bergerak mendekati Yesus sebagai pusat hidup kita. Kemartiran adalah jalan Kristiani sepanjang sejarah Gereja namun Gereja tidak pernah hancur karena Tuhan Yesus tetap menyertainya hingga akhir zaman.

Mari kita bergerak menuju kepada Kristus, mengasihi, mengimani dan berharap kepada-Nya.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply