Homili 28 Juni 2022

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XIII
Peringatan Wajib St. Ireneus
Am. 3:1-8; 4:11-12
Mzm. 5:5-6,7,8
Mat. 8:23-27

Selalu bersama Yesus

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik mengenang Santo Ireneus. Beliau lahir di Asia Kecil sekitar tahun 140. Pendidikannya berlangsung di Smyrna. Ia mengenal Tuhan dari Santo Polykarpus, salah seorang murid Santo Yohanes Rasul. Ia sempat pergi ke Perancis dan pada tahun 177M beliau terpilih menjadi Uskup untuk menggantikan Pothinus, uskup Lyon yang gugur sebagai martir. Tugas kegembalaannya di Lyon berlangsung selama 25 tahun dan berhasil menata Gereja lokal di sana. Ireneus terkenal sebagai seorang penulis, di antaranya tulisanya yang terkenal yaitu ‘Melawan Kesesatan’ yakni aliran gnostik. Ia juga mendasari ‘Tradisi’ yang sejak para rasul diajarkan oleh Gereja dari generasi ke generasi. Ia berkata: “Di mana ada Gereja, di situ pula ada Roh Kudus.” Ungkapan lainnya yang inspiratif bagi kita hari ini adalah: “Memang Tuhan tidak memerlukan pendampingan dari siapa pun, tetapi Ia memberikan pendampingan kepada manusia yang memerlukannya.” Nama Ireneus berarti pencinta damai. Nama selalu menunjuk pada dirinya maka dia mengusahakannyasebagai sebuah kenyataan sepanjang hidupnya. Misalnya, dalam perselisihan antara Gereja Latin dan Yunani tentang tanggal hari raya Paska, ia justru tampil sebagai juru bicara Sri Paus. Ia meninggal pada tahun 202 sebagai seorang martir Kristus.

Kehidupan Santo Ireneus ini menunjukkan satu hal yang indah bagi kita semua. Ia hidup bersama Yesus, melayani-Nya sampai tuntas. Ada gejolak dalam Gereja, ada badai yang menghantam Gereja dari luar dan dalam terutama menyangkut ajaran iman, di saat seperti itulah Ireneus hadir dan menunjukkan kualitas hidup Kristianinya. Ia hadir, berargumen dengan apologetis dan menghadirkan sosok Allah Tritunggal Mahakudus sebagai kasih. Pengalaman disertai dan menyertai Tuhan dalam situasi baik atau tidak baik tidak pernah habis. Pengalaman Ireneus ini haruslah menjadi pengalaman iman kita, bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia menyertai kita dan kita pun menyertai Dia.

Kita membaca Injil Matius tentang Tuhan Yesus yang menghardik angin dan danau sehingga danau menjadi teduh sekali. Diceritakan bahwa Yesus sedang berada bersama para murid-Nya di dalam perahu. Ia masuk duluan langsung tidur, para murid menyusul-Nya di dalam perahu yang sama. Mereka menyeberang danau Galilea yang panjangnya 21km dan lebarnya 13 km serta kedalaman 43m. Danau Galilea berada sekitar 212m di bawah permukaan laut tengah. Maka ketika ada angin kencang yang datang dari pegunungan di sekitar danau Galilea, akan langsung berimbas pada danau Galilea sehingga airnya seakan mengamuk. Para murid Yesus adalah para mantan nelayan di danau ini, namun sangat mengherankan karena ketika itu justru mereka sangat ketakutan. Yesus sendiri tidur pulas karena lelah setelah merasul.

Apa reaksi para murid terhadap amukan air danau ini? Mereka merasa takut dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” (Mat 8:25). Kita pasti merasa heran dengan para nelayan yang kini menjadi murid di dalam satu bahtera yang sama ini. Mereka pastu sudah mengetahui fenomena ala mini. Atau katakana saja, mereka tanpa menjadi nelayanpun, daerah Kapernaun dan Betsaida pasti sudah merasakan angin musiman ini. Tuhan Yesus lalu mengoreksi kekurangan mereka yakni rasa takut yang manusiawi dan iman yang lemah. Sebab itu Ia berkata: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Selajutnya Tuhan Yesus menghardik angin dan danau. Danau pun menjadi teduh. Peristiwa ini amat mengherankan murid-murid-Nya sehingga mereka takjub dan bertanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Mat 8:27).

Kisah di dalam Injil ini adalah gambaran hidup kita semua yang sedang mengikuti Yesus. Dia masuk lebih dahulu ke dalam bahtera dan kita mengikuti-Nya. Yesus memilih sebuah ketenangan dengan lelap dalam tidur-Nya. Kita yang mengikuti-Nya saat ini justru tidak tenang, panik memberontak karena fenomena alam. Kita melakukan ini dengan sadar karena takut dan sumber rasa takut kita adalah kita tidak percaya pada kuasa Yesus. Padahal kita mungkin saat ini sudah memiliki banyak kemudahan, misalnya prediksi BMKG tentang keadaan cuaca. Tapi ini pun tetap ada kepanikan. Maka bacaan Injil hari ini boleh dibilang kita banget!

Apa yang harus kita lakukan saat ini?

Pertama, Kita tidak perlu takut atau berjiwa penakut. Tuhan Yesus selalu mengingatkan para murid-Nya: “Jangan takut!” Perkataan ini haruslah menjadi kekuatan bagi kita untuk berani bereksodus untuk mewartakan Injil. Kedua, Kita perlu iman yang kuat kepada Tuhan. Kita tidak boleh terpisah dari Tuhan karena dengan terpisah dari Tuhan maka kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5). Ketiga, Kita perlu memiliki hati yang terbuka dan takjub kepada Tuhan. Ketakjuban haruslah membawa kita untuk berada bersama, bersatu dengan Tuhan selamanya dalam suka dan duka. Keempat, kita perlu menjadi juru damai dengan sesama. Untuk menjadi juru damai maka perlu berdamai lebih dahulu dengan diri kita sendiri. Santo Ireneus, doakanlah kami. Amen.

P. John Laba, SDB