Santo Yusuf – Teladan para Bapak

ST. YUSUF TELADAN PARA BAPAK MASA KINI

Sosok Bapak selalu memainkan peran penting dalam kehidupan kita semua – lihat saja kehidupan dan warisan Santo Yusuf kepada Yesus Puteranya. Yusuf adalah anggota keluarga Yesus yang sangat penting – ia melindungi Yesus, membelanya, dan mengasihi Yesus tanpa syarat, meskipun ia bukan anak kandungnya. Marilah kita mengingat kekuatannya, bimbingan dan kebijaksanaannya bagi kita semua.

Pada bulan Desember 2020 yang lalu, Paus Fransiskus menulis surat apostolik berjudul Patris Corde (“Dengan Hati Seorang Bapak”) sebagai persiapan untuk menghormati Santo Yusuf. Dalam suratnya, Paus Fransiskus menggambarkan Santo Yusuf berdasarkan tujuh aspek: sebagai bapak yang dikasihi; sebagai bapak yang lembut dan penuh kasih; sebagai bapak yang taat; sebagai bapak yang menerima; sebagai bapak yang berani secara kreatif; sebagai bapak yang bekerja, dan sebagai “bapak yang berada dalam bayang-bayang.”

Mari kita lihat lebih dekat bagaimana masing-masing sifat ini dicirikan oleh Santo Yusuf sendiri, dan bagaimana para Bapak di masa kini dapat mengikuti jejaknya.

Seorang bapak yang dikasihi: Yusuf tidak hanya mengasihi Yesus seperti anaknya sendiri, tetapi Yesus juga mengasihinya. Meskipun Yesus memahami bahwa Bapak-Nya tinggal di surga, Yesus menerima, mengasihi dan menghargai Yusuf sebagai seorang pria dan figur seorang bapak selama ia berada di bumi ini. Kita pun menunjukkan kasih dan penghargaan kita kepada para bapak dan figur bapak kita sendiri.

Seorang bapak yang lembut dan penuh kasih: Yusuf penuh perhatian, bijaksana dan baik hati, memberikan setiap kesempatan yang ia miliki kepada Yesus, bahkan mengajari Putranya seni pertukangan kayu agar mereka dapat berbagi keahlian ini bersama-sama. Saat ini, para bapak dan figur bapak harus meneladani perhatian dan kasih sayang Santo Yusuf, mendukung dan mengasihi anak-anak mereka sendiri melalui semua usaha  dan pekerjaan mereka.

Seorang bapak yang taat: Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Santo Yusuf ketika Maria memberitahukan kepadanya bahwa seorang malaikat telah mengunjunginya dan menganugerahkan seorang anak, Putra Allah, di dalam rahimnya. Namun, iman dan ketaatan Santo Yusuf yang tak kenal menyerah kepada kehendak Allah memberinya anugerah untuk menerima situasi yang unik ini dan beradaptasi. Pelajaran penting ini dapat diadopsi hari ini dalam banyak hal. Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan dengan banyak lika-liku yang tak terduga, tetapi kita harus menerima rencana Tuhan bagi kita dan mempercayakan hidup kita kepadanya.

Seorang bapak yang menerima: Santo Yusuf tidak sendirian menerima keadaan ini, tetapi juga Yesus sendiri. Dia menyambutnya ke dalam hidupnya sebagai Putranya sendiri, dan sampai dia meninggal, selalu melihatnya seperti itu. Saat ini, ada banyak orang yang berperan sebagai figur bapak dalam kehidupan seseorang. Baik itu saudara laki-laki, paman, kakek, dan banyak lagi, orang-orang ini melangkah maju ketika mereka dipanggil, dan kita memandang mereka sama seperti bapak kandung kita.

Seorang bapak yang berani secara kreatif: Keberanian Santo Yusuf benar-benar merupakan sesuatu yang patut dikagumi. Dia dihadapkan pada begitu banyak situasi yang tidak terduga dalam hidupnya – dia diminta untuk menjadi seorang bapak dari seorang anak yang bukan anaknya, dia harus melindungi keluarganya dari bahaya yang muncul secara tak terduga di sekitar mereka, dan masih banyak lagi. Namun, dalam semua tantangan yang ia hadapi, ia tetap taat kepada Tuhan dan bertindak sebagaimana seharusnya seorang bapak dan suami. Kita berdoa agar para bapak kita saat ini dapat meneladani Santo Yusuf dan memilih keberanian ketika menghadapi kesulitan.

Seorang bapak yang bekerja: Yusuf selalu memberikan teladan yang baik bagi putranya. Sepanjang yang dapat diingat oleh Yesus, Santo Yusuf bekerja untuk menafkahi keluarganya melalui pertukangan. Yesus memandang Santo Yusuf sebagai seorang pekerja keras yang peduli akan kesejahteraan keluarganya. Semoga semua bapak menunjukkan etos kerja dan komitmen yang sama terhadap keluarga seperti yang dilakukan oleh Santo Yusuf.

Seorang “Bapak dalam bayang-bayang”: Seperti yang telah kita lihat, Santo Yusuf bertindak sebagai figur bapak bagi Yesus dalam segala hal. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai “bapak dalam bayang-bayang”. Dalam hubungannya dengan Yesus, Santo Yusuf adalah “bayangan” duniawi dari Bapak surgawi. Maksudnya adalah, ia mengawasi dan melindungi Yesus, tidak pernah membiarkan Yesus menempuh jalannya sendiri. Para bapak masa kini dapat meniru “sosok bayangan” ini di sepanjang kehidupan anak-anak mereka – hadir secara fisik dan emosional bersama mereka, membimbing mereka untuk melewati  saat-saat yang baik atau tidak baik, namun perlu juga membiarkan mereka untuk menciptakan jalan mereka sendiri.

P. John Laba, SDB