Homili Hari Minggu Biasa ke-XXVIIIA – 11 Oktober 2026

Hari Minggu Biasa ke-XXVIIIA
Yes 25: 6-10a.
Mzm 23:1-3a. 3bn-4. 5.6
Flp 4:12-14,19-20
Mat 22:1-14

Tuhan juga mengundangmu

Kita semua pernah mengalami diundang dan mengundang orang untuk menghadiri sebuah pesta tertentu. Ketika kita mengundang seseorang untuk menghadiri sebuah pesta tertentu, maka kita sangat mengharapkan kehadiran mereka. Kehadiran mereka adalah tanda bahwa mereka menghargai kita yang mengundang, demikian juga kehadiran kita di sebuah pesta menandakan bahwa kita menghargai orang yang mengundang kita. Menghadiri sebuah undangan tentu akan mempererat persekutuan di antara kita sebagai sesama manusia. Hal ini juga tentu akan berbeda ketika orang yang kita undang tidak menghadir undangan kita dengan alasan yang tidak mendukung relasi persahabatan kita. Atau kita sendiri yang tidak menghadiri sebuah undanan pasti orang juga memiliki perasaan yang sama.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengatakan bahwa Tuhan itu murah hati bagi semua bangsa. Di Gunung Sion, Tuhan semesta alam akan menghidangkan bagi segala bangsa suatu jamuan dengan masakan mewah. Jamuan itu juga mewah karena anggur yang akan mereka minum adalah anggur tua yang disaring endapannya, dagingnya berlema dan bersumsum. Tidak hanya soal makan dan minum, Tuhan juga akan melakukan perbuatan-perbuatan besar seperti mengoyakan kain kabung pada setiap suku, tudung pada setiap bangsa akan dibuka, meniadakan maut untuk seterusnya, menghapus air mata dan menjauhkan aib umat-Nya. Nabi Yesaya juga mengatakan bahwa Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan besar itu sungguh-sungguh menjadi Allah bagi mereka dan Dialah Allah yang mereka nanti-nantikan. Hal yang menaik perhatian kita adalah bahwa Tuhan itu Murah hati, sebab itu Ia mengundang segala suku bangsa untuk dijamu dengan jamuan istimewa yang disiapkannya.

Nabi Yesaya memang menggambarkan Allah yang mempersiapkan perjamuan mewah dengan hidangan lezat dan anggur tua bagi semua bangsa, di mana kematian, kesedihan dan penghinaan akan dihapus untuk selama-lamanya. Sekali lagi Tuhan sungguh bermurah hati bagi semua suku dan Bangsa.

Pewartaan nabi Yesaya bagi umat Perjanjian Lama juga sungguh terjadi dalam dunia Perjanjian Baru, terutama selama masa hidupYesus. Penginjil matius bercerita bahwa Tuhan Yesus berbicara dengan para imam kepada dan tua-tua bangsa Yahudi tentang Kerajaan Surga. Tuhan Yesus memberi sebuah perumpamaan tentang seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia meminta para hamba untuk datang mengikuti pesta, Namun mereka yang diundang itu tidak mau datang. Raja menyuruh hamba-hambanya yang lain untuk mengundang orang lain dan meyakinkan mereka bahwa hidangan sudah siap. Hewan-hewan tertentu sudah disembelih. Para undangan memiliki alasan-alasan tertentu untuk tidak mau hadir seperti ke ladang dan mengurus usaha mereka. Ada yang malah berlaku jahat dengan menangkap dan membunuh para utusan atau hama Raja. Raja tentu menjadi murka dan undangan-undangan juga dianggap tidak layak. Para hamba lalu disuruh untuk memanggil siapa saja untuk mengikuti pesta nikah. Sayang sekali, di antara mereka ada seorang yang tidak berpakaian pesta. Dia lalu mengalami siksaan dalam hidup selama-lamanya.

Kisah yang diceritakan Yesus ini berhubungan dengan perumpamaan tentang perjamuan nikah yang tentu saja mengggambarkan bagaimana Kerajaan Sorga itu ditawarkan secara cuma-cuma kepada semua orang. Namun demikian butuh hati yang tulus dan pertobatan yang radikal. Orang yang tidal berpakaian pesta dalam perikop ini adalah simbol orang yang tidak mau bertobat atau tidak mau berubah sehigga ia mendapat hukuman. Kita seharusnya menyadari sebagaimana ditulis oleh santo Paulus tentang menemukan kekuan sejati, kepuasan, dan ketangguhan dalamm Kristus, baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini sangat meneguhkan kita semua. Inisiatif untuk menjamu berasal dari Tuhan. Sekarang kembalin kepada kita, apakah kita mau menanggapi undangan Tuhan atau menolak undangann Tuhan dengan alasan-alasan manusiawi? Kalau saja kita menerima undangan Tuhan Tuhan mana selayaknya kita berusaha untuk bertobat. Pertobatan adalah jawabann kita pada undangan Tuhan. Kita merasakan kasih dan kemurahan hati Tuhan.

P. John Laba, SDB